Catatan Wartawan
Teincho Nakagami
Cerita tentang Oma Konio anak dari tentara Jepang yang ditinggalkan sang ayah saat Jepang kalah dalam Perang Dunia 2.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Orang mengenalnya sebagai Oma Konio. Sering pula dipanggil Unggu.
Namun wanita berusia 76 tahun asal Minut ini punya nama asing, yang ia ingat, rindu tapi enggan dipakainya.
Teincho Nakagami. Itulah nama Jepang Oma.
Nama itu pemberian ayah Oma, seorang tentara Jepang.
Bagaimana Oma berayahkan seorang Hikioko - sebutan untuk tentara Jepang di zaman perang dunia II ?
Saya mewawancarai Oma pada tahun lalu dan mendengar kisah kasih tak sampai ayah dan anak ini.
Oma bercerita sambil duduk di kursi.
Sebuah tongkat tersandar samping kursi.
Di usianya yang sudah sepuh, ingatan Oma masih kuat. Kenangan puluhan tahun lalu ia ceritakan dengan detil.
Ketika menceritakan sang ayah, tuturannya sedih tapi ekspresi wajahnya datar.
Pertanda, rindu itu masih ada, tapi sudah terkubur jauh dalam sanubarinya.
Figur si ayah ia tahu dari cerita ibunya.
Dia tak pernah melihat wajah ayahnya.
"Sewaktu saya dalam kandungan, ayah balik Jepang karena Dai Nippon kalah perang dan ia tak pernah kembali," kata dia.
Sebelum pergi, ia menuturkan, sang ayah meminta agar ia dinamakan Teincho.
Selain nama yang artinya ia tak tahu itu, tak ada yang ditinggalkan.
Ada memang barang barang kecil. Termasuk foto. Namun semuanya hilang di masa perang Permesta.
Sewaktu kecil, ia kerap coba menggambar sosok ayah dalam pikirannya.
Namun apa yang dipikirannya tak selalu sama. Muncul wajah yang berbeda - beda.
"Saya ingin melihat bagaimana rupanya tapi tak pernah bisa," kata dia.
Nasib Teincho memang malang. Sang ibu wafat saat ia masih kecil.
Seterusnya dia dibesarkan orang tua angkat.
Banyak keluarga tentara Jepang yang mencari turunannya di Indonesia.
Setelah didapat, dibawa ke Jepang untuk disekolahkan atau diberi pekerjaan layak.
Namun nikmat itu tak dikecap Teincho.
"Tak pernah ada keluarga ayah saya dari Jepang yang mencari saya," kata dia.
Segala kepahitan itu tak membuat Teincho menyesal berayahkan tentara Jepang.
Meski takdir tak ramah, tapi ia enggan menolaknya.
"Saya tetap anggap ia ayah saya dan anak cucu saya pun harus tahu itu," katanya.
Saya adalah penggemar kisah - kisah kuno Jepang.
Tokoh idola saya adalah Miyamoto Musashi, seorang yang kukuh pada jalan Samurai.
Ia mengalahkan Kojiro, musuh terberatnya dan membuktikan bahwa unsur utama peraih kemenangan adalah hati yang bersih.
Ada pula Tenno Haika, Kaisar Jepang yang membawa modernisasi di Jepang dengan belajar pada bangsa Eropa untuk kemudian mengalahkan gurunya.
Ada pula kisah Toyotomi Hideyoshi, seorang yang lemah, berasal dari keluarga miskin dan rupanya mirip kera, namun dapat menjadi penguasa Jepang dan membuktikan bahwa kekuasaan bisa diraih wong cilik lewat usaha keras.
Namun fasisme merusak Jepang. Mereka menjadi bangsa agresor.
Nilai Bushido hilang kesuciannya dan hanya jadi propaganda perang, jadi license to kill, atau membunuh diri dengan Nippon To jika kalah perang.
Jepang hanya tiga tahun lebih menjajah Indonesia.
Tapi deritanya serasa tiga abad. Ada Romusha. Belum lagi Jugun Ianfu. Dan juga kisah mirip Teincho Nakagami.
Di masa pendudukan Jepang, derita Indonesia itu masih tiada duanya dengan dialami Cina dan Korea.
Ada jutaan kaum pria Cina yang dibunuh dan ribuan wanita diperkosa ; salah satu peristiwa keji yang sukar dilupakan warga Cina adalah peristiwa Nanking.
Namun Jepang cepat sadar. Mereka kembali ke jalan yang benar.
Nilai Bushido dihidupkan lagi dalam era modern.
Lahir produk Toyota, Yamaha, Mitsubishi, atau teknologi kesehatan, mi instan hingga anime kesukaan saya Samurai X.
Kisah Teincho Nakagami bagian dari trauma sejarah.
Perang memang melahirkan derita yang beranak pinak.
Namun saya percaya semua peristiwa bukanlah lontaran dadu yang melahirkan kebetulan dan kita berjudi untuk hidup.
Segala yang terjadi diatur lewat skenario agung Allah.
Tak ada yang kebetulan dan karena itu kita dapat hidup.
Baca berita lainnya di: Google News.
Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/Teincho-Nakagami-atau-Oma-Konio-67yu.jpg)