Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mata Lokal Memilih

Pertarungan Menuju Senayan, Pengamat Politik Asal Sulawesi Utara Menilai Parpol dan Figur Penentu

Josef Kairupan menilai Politisi pada prinsipnya menjual produk politik berbeda dengan menjual produk komersial.

Penulis: Hesly Marentek | Editor: Rizali Posumah
isitmewa
Pengamat asal Sulawesu Utara Politik Josef Kairupan memberikan komentar terkait potensi beberapa figur asal Sulut yang peluang menuju Senayan. 

Lebih lanjut dia menilai Pemasaran Politik merupakan konsep permanen yang harus dilakukan terus menerus dalam membangun kepercayaan dan image publik.

Kandidat harus membangun hubungan jangka panjang dengan pemilih.

Juga harus memliki kemampuan untuk mengumpulkan, mendesiminasi dan menggunakan informasi yang tepat tentang pemilih.

Sehingga dengan demikian kandidat harus memahami perilaku calon pemilih. 

Namun menurut Kairupan, pada kenyataannya banyak Parpol pasca pemilu terkesan ‘mati suri’. 

Artinya nanti setelah mendekati Pemilu baru mulai membangun komunikasi politik baik kesesama parpol maupun dengan konstituennya.

Padahal ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan calon pemilih dalam menentukan pilihannya, antara lain citra parpol, persepsi citra kandidat, dan isu politik.

"Parpol yang tetap terjaga citra baiknya, mencerminkan parpol yang memiliki kader dengan integritas moral dan etika yang baik.

Sehingga berimbas citra pada kandidat yang akan ditampilkan oleh parpol tersebut," sebutnya.

Namun sebaliknya jika Parpol sering dilanda permasalahan internal yang berakibat pada perpecahan dan krisis kepemimpinan yang berakibat pada kegaduhan politik.

"Mengakibatkan hilangnya citra parpol itu sendiri. Walaupun saat ini perkembangan dan meningkatnya pengetahuan rakyat terhadap demokrasi di Indonesia membuat rakyat semakin cermat dan jeli dalam menentukan pilihannya, tetapi aspek citra parpol lebih kurangnya mempengaruhi pilihan," tambah Kairupan.

Dia pun turut menilai Kristalisasi kandidat mulai terbentuk saat ini, dan masih diisi oleh wajah lama ataupun kandidat yang sebelumnya pernah menjabat dalam jabatan politis seperti kepala daerah.

Peluang masing-masing kandidat tentunya berbeda-beda, pandangan mengenai penantang baru akan lebih sulit bersaing dengan petahana merupakan hipotesis yang masih perlu dikaji dan diuji kebenarannya.

"Sekalipun Petahana telah memiliki konstituen konkrit, tetapi jika dalam masa jabatannya tidak berbuat menghasilkan karya nyata yang dapat dirasakan dan tidak membangun.

Serta menjaga cemistry dengan konstituennya hal ini justru akan menimbulkan antipati," terangnya lagi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved