Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Kisah Tiga Generasi Pembuat Kue Sembahyang Umat Tridharma di Manado

Dikatakan Budi, riwayat pembuatan kue sembahyang keluarganya berawal dari sang kakek dan nenek.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Kisah Tiga Generasi Pembuat Kue Sembahyang Umat Tridharma di Manado. 

"Kue ku biasanya dipersembahkan saat sembahyang Tuhan, simbolnya adalah hati kita yang tulus," katanya. 

Ia menuturkan, tiap kue bermakna spiritual. Kue lapisnya misalnya. 

Punya makna rezeki yang bertambah. "Kue lapis juga dimakan saat ulang tahun, maknanya agar rezeki semakin banyak," katanya. 

Dekat Imlek, ia menuturkan, permintaan pembuatan kue meningkat. Permintaan datang dari klenteng serta umat.

"Kami memprioritaskan untuk klenteng," katanya. 

Budi memperkirakan, ada 200 an lebih kue keranjang yang ia buat semasa sembahyang Sang Sin hingga Cap Go Meh. 

Tak hanya Manado, pesanan juga datang dari Jakarta dan Surabaya. 

Budi mengaku hanya membuat kue untuk sembahyang.

"Kalau untuk buat kue lainnya tenaga kami terbatas," kata dia. 

Tiga generasi dihidupi dari kue sembahyang, ia sesungguhnya berniat meneruskan itu pada anaknya. Tapi ia tak memaksa.

"Saya memberi kebebasan, terserah pada mereka," katanya. 

Namun ilmu membuat kue itu sudah ia turunkan pada seorang pekerjanya. 

Seperti seorang guru kungfu, ia menurunkannya dengan perlahan lahan. 

"Sejauh mana keseriusannya, yang utama adalah resep keluarga ini ada penerus," katanya. 

Baca berita lainnya di: Google News.

Berita terbaru Tribun Manado: klik di sini. 

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved