Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Manado Sulawesi Utara

Kisah Tiga Generasi Pembuat Kue Sembahyang Umat Tridharma di Manado

Dikatakan Budi, riwayat pembuatan kue sembahyang keluarganya berawal dari sang kakek dan nenek.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Rizali Posumah
tribunmanado.co.id/Arthur Rompis
Kisah Tiga Generasi Pembuat Kue Sembahyang Umat Tridharma di Manado. 

Manado, TRIBUNMANADO.CO.ID - Kue merupakan bagian penting dari persembahyangan Umat Tridharma.

Kue punya makna spiritual. Untuk itu pembuatannya butuh keahlian khusus. 

Sedikit orang yang menekuninya. Salah satunya Budi. Budi adalah generasi ketiga pembuat kue sembahyang di Manado.

"Saya adalah generasi ketiga," katanya Senin (16/1/2023).

Dikatakan Budi, riwayat pembuatan kue sembahyang keluarganya berawal dari sang kakek dan nenek. 

Kala itu ada kebutuhan besar untuk kue sembahyang.

"Mereka belajar, trial and error lantas menemukan komposisi yang pas," katanya.

Kemampuan itu menurun pada ibunya. Lantas kepadanya. Prosesnya secara alami.

"Ceritanya ibu membuat kue tersebut sambil menggendong saya masih kecil, kemudian saya mulai tertarik dengan pembuatan kue tersebut dan menekuni nya hingga kini," katanya. 

Kue yang dibuatnya adalah kue lapis, mangkok, kue ku dan keranjang. 

Menurut dia, kue dalam persembayangan sekilas sama dengan kue tradisional. Tapi bedanya sangat besar.

"Kue sembahyang tidak menggunakan bahan bernyawa. Jadi tidak pakai telur. Saya pakai beras asli," katanya.

Beber dia, kue sembahyang harus memenuhi standar tertentu. 

Contohnya kue mangkok. Harus mengembang bagus dan sempurna.

Begitupun kue ku yang memakai kacang hijau yang dikupas hingga berwarna kekuning - kuningan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved