Tajuk Tamu Tribun Manado

Penyatuan Kerukunan Keluarga Kawanua, Peristiwa Rahmat bagi Tou Minahasa

Namun tahun demi tahun, pelbagai peristiwa terjadi. Para elitenya terus digedor oleh hati nurani dan pikiran sadarnya.

Dokumentasi Stefi Rengkuan
Pertemuan dua Ketua Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK), Angelica Tengker dan Ronny F Sompie, pada momen deklarasi berdirinya Kawanua Katolik, 26 Agustus 2017 silam. Keduanya bernyanyi bersama Uskup Keuskupan Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC. 

Oleh:
Stefi Rengkuan
Ketua Kawanua Katolik

TUGAS sejarah sudah selesai. Demikian ungkapan singkat dari Pdt Audy Wuisang MTh MSi saat memberi kabar baik tentang peristiwa penandatanganan dokumen penyatuan dua organisasi yang membawa nama dan logo sama: Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK).

Organisasi perkumpulan orang-orang Minahasa di perantauan ini lebih dikenal dengan singkatannya KKK. Sejarah mencatat bahwa sekitar 10 tahun lalu wale wangko atau rumah besar Kawanua ini pernah kisruh dan terbelah, yakni pada saat forum tertinggi Musyawarah Perwakilan Anggota (MPA) diadakan sekitar 10 tahun lalu. Saat itu memang ada yang tidak puas dengan hasil kongres terkait kepemimpinan dan kemudian muncullah MPA lanjutan.

Setelah perjuangan panjang dan menyita banyak energi dari pelbagai pihak elite yang peduli, akhirnya pada tanggal 26 Agustus 2022, di hotel Aryaduta Jakarta, Angelica Tengker dan Ronnie F Sompie, sebagai pucuk pimpinan dua organisasi Kawanua itu telah mendatangani surat kesepakatan yang intinya hanya mengakui satu kepemimpinan KKK. Pimpinan yang turut menandatangani kesepakatan tersebut adalah Benny Mamoto dan Theo Sambuaga serta tokoh-tokoh dari kedua pihak.

Ronny F Sompie dan Angelica Tengker menandatangani kesepakatan penyatuan kembali organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) dalam musyawarah di Hotel Aryaduta Jakarta, Jumat (26/8/2022).
Ronny F Sompie dan Angelica Tengker menandatangani kesepakatan penyatuan kembali organisasi Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) dalam musyawarah di Hotel Aryaduta Jakarta, Jumat (26/8/2022). (Dokumentasi Pdt Audy Wuisang)

Menarik merefleksikan realitas ini dari sisi organisasi yang kental maupun sisi peristiwa yang lebih cair. Secara organisatoris, kedua kubu mengklaim punya dasar dan alasan yang sah untuk membentuk sebuah struktur organisasi. Oke baik, itulah kenyataan sejarah yang tak terhindarkan waktu itu. Penuh dengan dinamikanya, oleh pelbagai tokoh sentral dan penggeraknya, dengan alur kisah sedemikian rupa yang akhirnya menghasilkan dua kepemimpinan itu.

Tak berhenti di situ, kisah terus berlanjut. Bahkan ketegangannya pernah cukup menguat yang berpuncak pada upaya saling klaim sebagai yang paling sah dan mendapat dukungan perwakilan pemilik suara maupun langsung dari anggota masyarakat yang diwakili dan otomatis saling menuduh yang lain itu tidak sah.

Pelbagai upaya persatuan selalu diwacanakan dan ditindaklanjuti dengan pelbagai upaya, tapi tidak berhasil. Bahkan sempat ada wacana untuk membiarkan organisasi masing-masing berjalan dengan program kegiatan sendiri-sendiri. Tetap dua kepemimpinan, asal melaksanakan segala program yang baik dan bermanfaat dalam dan melalui organisasi masing-masing.

Untuk sementara waktu memang terjadi demikian. Namun, tentu keadaan ini tetap dinilai tidak sehat secara praktis ekonomis, terlebih dari sisi nilai dan identitas serta spiritualitas tou Kawanua yang satu dan sama. Mahkairangen, beking malo jo, buat malu saja. Dua organisasi kok dengan satu nama dan logo yang sama.

Makin jelas, dasar perpecahan ini tampaknya tidak terlalu substansial, karena itu selalu dipertanyakan. Tapi waktu terus berlalu, seolah yang tidak baik bagi kebersamaan itu seolah mulai dianggap normal saja.

Namun tahun demi tahun, pelbagai peristiwa terjadi. Para elitenya terus digedor oleh hati nurani dan pikiran sadarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved