Konflik Rusia dan Ukraina
Keganasan Neo Nazi di Ukraina Tak Pernah Disorot, Memantik Kekerasan Terhadap Warga Rusia Sejak 2014
Media Barat seakan lupa dengan keberadaan kelompok neo-Nazi Ukraina. Keberadaan neo-Nazi dianggap menjadi salah satu penyebab konflik Rusia-Ukraina.
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Saat ini dunia tengah fokus menyorot konflik Rusia dan Ukraina.
Perlu diketahui, Rusia melancarkan invasinya ke Ukraina sejak Februari 2022.
Negara-negara Barat pun memberi dukungan penuh kepada Ukraina.
Namun, negara Barat termasuk media arus utamanya dianggap abai dengan keberadaan kelompok neo-Nazi Ukraina.
Padahal, di awal invasi Rusia, kelompok neo-Nazi Ukraina dianggap menjadi salah satu pemicunya.
Laman media Sputniknews, Senin (25/7/2022), mempublikasikan artikel mengulik mengapa media arus utama barat bungkam atas eksisnya kelompok neo-Nazi Ukraina.
Kehadiran kelompok ultraradikal itu turut memantik kekerasan yang mendera warga etnis Rusia dan yang berbahasa Rusia di Donbass selama 8 tahun sejak revolusi Euromaidan 2014.
Setelah 2014, umumnya media arus utama barat mengambil sikap pro-Ukraina.
Sedikit jurnalis barat yang kritis dan mau berbicara secara terbuka tentang neo-Nazisme Ukraina yang merajalela.
Jurnalis Inggris Peter Hitchens termasuk satu di antaranya.
Ia pernah menulis dalam kolomnya pada 21 Mei 2022 untuk Mail on Sunday.
"Sejak kegilaan liar setelah kematian Putri Diana, saya belum pernah bertemu gelombang sentimen bodoh seperti itu. Tidak ada yang tahu apa-apa tentang Ukraina,” tulis Hitchens.
Ia lalu bercerita, suatu malam dirinya mengejutkan seorang akademisi Oxford terkemuka.
Hitchens memberitahunya orang-orang Ukraina yang cantik, seperti malaikat, suci, dan sempurna telah memblokir pasokan air ke Krimea pada 2014.
“Dia benar-benar dikejutkan oleh tindakan dendam yang keji dan tidak beradab ini, tetapi jauh lebih mengejutkan orang yang berpendidikan tinggi ini tidak mengetahui fakta penting ini," lanjut Hitchens.