Konflik Rusia dan Ukraina
Keganasan Neo Nazi di Ukraina Tak Pernah Disorot, Memantik Kekerasan Terhadap Warga Rusia Sejak 2014
Media Barat seakan lupa dengan keberadaan kelompok neo-Nazi Ukraina. Keberadaan neo-Nazi dianggap menjadi salah satu penyebab konflik Rusia-Ukraina.
Alasan ketidaktahuan ini adalah kekosongan informasi yang dialami oleh hampir seluruh audiens barat sejak 2014.
Kudeta Politik Euromaidan 2014
Pada musim dingin 2013-2014, Euromaidan terjadi di Ukraina, dan negara itu mulai mengalami perang saudara. Pers barat menyambut berita dari Kiev secara antusias.
Satu di antara jurnalis Inggris yang sejak awal tidak mendukung kudeta Ukraina dan kaum radikalnya adalah Graham Phillips.
Dia mengumpulkan bukti tentang genosida warga sipil di Donbass dan kejahatan perang oleh tentara Ukraina dan Pasukan Keamanan Nasional.
“Warga Ukraina cukup sering bertanya kepada saya mengapa saya tidak mendukung Euromaidan. Jawabannya sederhana: kakek saya berperang melawan fasisme selama Perang Dunia II,” jawabnya.
“Jika Anda mendukung Euromaidan, Anda mendukung mereka yang melawan mereka. Fasisme berakar kuat di Euromaidan, dan jelas dari mana ia tumbuh,” lanjutnya.
Phillips menjelaskan, di bawah pengaruh partai-partai kanan radikal, pendukung moderat dari All-Ukrainian Union ‘Fatherland’dan UDAR (Aliansi Demokratik Ukraina untuk Reformasi) beralih ke 'superviolence,' yang menjadi ciri khas Euromaidan.
Graham Phillips menuliskan ulasannya di situs Ukraina.ru.
Beberapa outlet barat memang menulis pasca-Maidan Ukraina dibanjiri radikal sayap kanan, dari pemerintah hingga tentara.
Pada Mei 2018, jurnal opini mingguan AS, The Nation, menerbitkan opini Stephen Cohen, profesor emeritus dalam studi Rusia di Universitas Princeton dan Universitas New York.
Cohen menulis tentang peran neo-Nazi dalam krisis Ukraina dan kolusi AS dengan kaum radikal Ukraina.
Menurutnya, ada usaha secara sengaja narasi arus utama untuk menampilkan apa yang harus diungkapkan dan atau dihilangkan.
Langkah itu dilakukan kekuatan neo-fasis Ukraina yang didukung AS, dan menguasai Kiev sejak 2014.
Menurut Cohen, tak banyak orang Amerika mengikuti perkembangan ini.