Opini

Nikah Beda Agama, Suatu Persoalan?

Di antara kebutuhan manusia adalah mendambakan pasangan hidup sehidup tak semati.

Tribun Manado
Dr Muhammad Tahir Alibe, Dosen IAIN Manado 

Oleh: Dr Muhammad Tahir Alibe
Dosen IAIN Manado

SEBAGAI makhluk sosial, manusia membutuhkan yang lain untuk keberlangsungan hidupnya. Di antara kebutuhan manusia adalah mendambakan pasangan hidup sehidup tak semati.

Secara fitrawi manusia ingin hidup bersama dengan orang yang dicintainya tanpa melihat latar belakang hidupnya agar mendapatkan kehidupan yang tentram, tenang dan penuh kasih sayang. Ini sesuai dengan isyarat al-Qur’an surah al-Rum(30):21.

Hidup bersama dengan orang yang dicintai adalah syarat utama untuk membangun rumah tangga pernikahan. Hal ini diamini oleh al-Qur’an(4):3 yang memerintahkan untuk menikahi wanita-wanita yang dicintai.

Nikah adalah perintah agama memiliki aturan tersendiri. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an maupun hadis terdapat ketentuan mengenai persoalan nikah.

Dengan siapa kita menikah, seperti apa aturan pernikahan itu dijelaskan melalui nash (al-Qur’an dan hadis). Memasuki agama tertentu berarti siap menerima aturan-aturan agama tersebut.

Baca juga: Anggota Sabhara Tewas Kecelakaan saat Hendak Berangkat Dinas, Yamaha R15 Tabrakan dengan Xenia

Sebagaimana memasuki suatu kantor, berarti siap menerima segala aturan kantor yang berlaku. Jadi aturan agama hanya berlaku kepada mereka yang menerimanya.

Di antara persoalan yang muncul di Indonesia saat ini adalah soal pernikahan beda agama.

Pernikahan Muslim dengan non-muslimah sepakat ulama tidak ada masalah. Namun yang jadi persoalan adalah pernikahan muslimah dengan non-muslim.

Majelis Ulama Indonesia atau MUI pernah mengeluarkan fatwa tanggal 1 Juni 1980 mengenai pernikahan Muslim dengan non-muslim juga haram karena pertimbangan mashlahah, namun fatwa ini tentu saja bersifat termporal.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved