Breaking News:

Dirgahayu 191 Jaton

OPINI - ''Tou Selam'' Minahasa

"Niyaku Toudano," begitu mendiang Prof. Drs. Tumenggung Zees(antroplog lulusan UI dan guru besar Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Unsrat dulu)

Editor: Aswin_Lumintang
OPINI - ''Tou Selam'' Minahasa
istimewa
Reiner Ointoe

oleh ReO Fiksiwan

"Niyaku Toudano," begitu mendiang Prof. Drs. Tumenggung Zees(antroplog lulusan UI dan guru besar Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Unsrat dulu) menuliskan otobiografi budaya yang kelak disunting jadi buku oleh dua antropolog yang juga muridnya, Alex John Ulaen dan Nasrun Sandiah.

Buku itu hendak menegaskan genealogi identitas sub-etnik Jawa Tondano Minahasa. Kelak, dalam tesis sejarawan FIB Unsrat, Roger Kembuan MHum di paska sarjana UGM ditemukan identitas toponim itu dengan sebutan yang kurang dikukuhkan: Touselam(baca: Tou Islam).

Inilah Tradisi Warga Jaton Jelang Idulfitri
Inilah Tradisi Warga Jaton Jelang Idulfitri (TRIBUN MANADO/ANDREAS RUAUW)

Penamaan asal-usul(toponim) itu tentu terkait dengan identitas yang tersemat pada beberapa subetnik lainnya dan bersesuaian dengan bahasanya. Di antaranya: Toulour(Toudano), Tousea(Tonsea), Toubulu(Tombulu), Tousawang(Tonsawang), Toutemboan(Totemboan) menyusul tanpa "Tou"(baca: Manusia) Ponosakan dan Ratahan.

Untuk identitas-identitas ini, kontrolir Dr. L. Adam telah menguraikannya dalam "Adatrecht van Minahassische Volk"(1925) sesuai dengan bahasanya yang digunakan.

Terkait Touselam, meski tidak menjadi populer dilekatkan pada identitas Jawa Tondano(Jaton), faktanya Kiai Mojo bersama 63 rombongannya setelah dipindahkan(exil) dari Ambon menyusul ditawannya Pangeran Diponegoro di Manado(Fort Nieuw Amsterdam) pada 1830, ikut melakukan konversi dengan keke-keke Tondano, di antaranya Rumbayan dan Worenga.

Konversi ini bukanlah suatu keniscayaan bagi pembentukan identitas baru bagi subetnik Minahasa pada umumnya. Karna di saat bersamaan Zendeling F. G. Riedel ikut mengonversi subetnik Tondano dalam Kekristenan(Christendom) yang diajukan oleh Nederland Zendeling Genoschaft(NZG) yang dipimpin oleh Josef Kam.

Baca juga: FAKTA TERBARU Kasus Sate Beracun, Pelaku NA dan Polisi Bernama Tomy Ternyata Sudah Menikah Siri

Baca juga: Duka Calon Istri Sehari Sebelum Pernikahan Pengantin Prianya Meninggal Dunia Karena Covid

Bahkan dialog antara Kiai Mojo dan Riedel telah dicatat oleh Nicolash Graafland pada 1869. Dengan kata lain, hanya Riedellah yang berhasil melakukan korvensi massal di Tondano hingga mencapai lebih duaribu orang menjadi penganut Kristen dengan menanggalkan "agama suku" mereka yang suka dijuluki "agama alifuru."
Sementara Kiai Mojo dan pengikutnya terbukti hingga hari ini korversi Touselam tidak bersifat masif. Bahkan sangat terbatas di lokasi mereka hingga hari ini. Akibatnya, tidak ada alasan untuk menafikan sejarah Touselam itu dalam pertumbuhan di Minahasa sebagai identitas jamak(plural) yang justru sangat menguatkan kohesi sosial budaya kemasyarakatan Minahasa pada umumnya.

ratusan siswa smk negeri 3 tondano minahasa gerlar kerjabakti bersihkan masjid diponegoro di kampung jawa tondano
ratusan siswa smk negeri 3 tondano minahasa gerlar kerjabakti bersihkan masjid diponegoro di kampung jawa tondano ()

Tou Minahasa sebagai penanda identitas jamak itu merupakan sofistifikasi kultural yang nyaris tidak dimiliki entik-etnik lain di Nusantara. Karna itu, tak hanya Islam yang bisa mengkleim sebagai "Islam Nusantara" sebagaimana telah ditunjukkan oleh komunitas Jaton. Tapi, Kristen Nusantara pun milik komunitas Minahasa seumumnya.

"Niyaku Tondano," pada akhirnya adalah suatu penanda kearifan lokal bagi kejamakan yang inheren. Dirgahayu Jaton ke-191.

Selamat Ramadhan Touselam

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved