Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tokoh Nasional

Kisah Perseteruan Dua Jendral di Era Soeharto, Wiranto Dapat Mandat Jaga Negara

Prabowo pun datang ke mertuanya, Soeharto, membawa bukti ketidaksetiaan Wiranto.Yaitu berupa konsep pernyataan pers ABRI

Editor: Alpen Martinus
Tempo.co/Rini PWI
Soeharto ramal soal Kondisi Indonesia tahun 2020. 

Pada 22 Mei saat Habibie menyusun kabinet baru, dia menerima surat dari Jenderal Besar A.H. Nasution.

Surat itu menyarankan agar Habibie mengangkat Jenderal Subagyo H.S.

menjadi panglima ABRI (pangab) dan Letjen Prabowo Subianto sebagai KSAD.

Tapi Habibie bergeming dan mempertahankan Wiranto di posisi Pangab.

Padahal, di mata Prabowo dan kawan-kawan, Wiranto telah membuat kesalahan besar

karena tak mampu mengendalikan kerusuhan massal di Jakarta, pertengahan Mei 1998.

Isu Militer Bermain dalam Peristiwa Mundurnya Soeharto

Menanggapi isu militer bermain dalam peristiwa mundurnya Soeharto, Wiranto menjawab:

"Tuduhan itu benar-benar tidak rasional. Militer yang mana?"

"Tidak masuk akal merancang sesuatu yang bertentangan dengan Saptamarga dan sumpah prajurit."

"Militer tidak mendapatkan keuntungan sama sekali dari peristiwa itu."

Habibie sendiri menilai, dengan mandat Inpres No.16 Tahun 1998,

bisa saja Wiranto mengerahkan pasukan untuk merebut kekuasaan pada saat itu, tapi itu tak dilakukannya.

Berita ini telah tayang di Grid.ID dengan judul Layaknya Supersemar dari Soekarno, Soeharto Memberi Mandat Serupa kepada Jenderal Wiranto Lewat Inpres No.16 Tahun 1998 di Ujung Kekuasaannya, Benarkah Militer Bermain dalam Peristiwa 1998?

Berita lain terkait Wiranto

Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved