Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tokoh Nasional

Kisah Perseteruan Dua Jendral di Era Soeharto, Wiranto Dapat Mandat Jaga Negara

Prabowo pun datang ke mertuanya, Soeharto, membawa bukti ketidaksetiaan Wiranto.Yaitu berupa konsep pernyataan pers ABRI

Editor: Alpen Martinus
Tempo.co/Rini PWI
Soeharto ramal soal Kondisi Indonesia tahun 2020. 

Pada 15 Mei, ibukota telah porak poranda akibat kerusuhan yang sudah terjadi 3 hari.

Soeharto kemudian mengangkat Panglima Komando Operasi Keaspadaan dan Keselamatan Nasional.

Pangab Jenderal Wiranto dipercaya menjadi Panglimanya dan pelantikan dilakukan 3 hari kemudian.

Pengangkatan tersebut membuat rivalnya tidak puas, termasuk Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto.

Prabowo pun datang ke mertuanya, Soeharto, membawa bukti ketidaksetiaan Wiranto.

Baca juga: Istri BS Terduga Teroris di Kampung Limbangan Bingung Nafkahi Anak 3 Bulan, Ai : Ya Gimana Ya

Yaitu berupa konsep pernyataan pers ABRI,

berisi dukungan ABRI terhadap sikap NU yang meminta Soeharto mengundurkan diri.

Soeharto tidak percaya terhadap pengaduan itu dan malam harinya memanggil Wiranto ke rumah.

Namun Jenderal Wiranto berkata, Jika Presiden Soeharto sudah tidak percaya lagi padanya, dia memilih mundur.

Konon Soeharto menggeleng dan berkata 'teruskan saja tugasmu.'

Presiden Soeharto yang telah memutuskan mundur dari jabatannya,

memberi Wiranto mandat melalui Inpres No.16 Tahun 1998 untuk melakukan apa saja demi keamanan negara.

Banyak pihak membandingkan mandat itu setara dengan Supersemar yang diiterima Soeharto dari Soekarno.

Malam hari 20 Mei 1998, Soeharto mengambil keputusan penting untuk merencanakan mundur esok harinya,

21 Mei digantikan oleh Habibie.

Halaman
123
Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved