Citizen Journalism

Jejak Juang R Hari Triwijaya di Pulau Manipa

Jejak dan pengabdian seorang R Hari Triwijaya sejatinya adalah miniatur banyaknya anak negeri yang berbuat melintasi zaman.

Dokumen Rustan Ambo Asse (kiri)
Drg R Hari Triwijaya 

Mereka tidak lagi membuang ikan hasil tangkapan tapi diolah menjadi kerupuk ikan dan dapat dijual.

Dalam bidang pendidikan, dia menjadi motivator kepada anak-anak dan pemuda Pulau Manipa untuk berani bercita-cita.

Hasilnya sudah ada beberapa orang yang sekolah di Makassar, salah satu diantara mereka sementara mengikuti Program S2 di Unhas dan seorang sementara S1 di UMM Malang.

Jejak dan pengabdian seorang R Hari Triwijaya sejatinya adalah miniatur banyaknya anak negeri yang berbuat melintasi zaman.

Tidak seperti kebanyakan anak muda negeri ini yang bekerja dan haus publisitas.

Dia bekerja dalam sunyi, tak ada postingan di media social dan memberi kabar tentang apa yang dia perbuat.

Dia menciptakan ruang untuk bergerak dan berbuat bagi masyarakat.

Sebagai seorang dokter gigi yang lazimnya hidup di kota-kota besar. Dia memilih jalan lain.

Dia menciptakan ruang berperang sendiri untuk melawan dan memperbaiki sesuatu yang belum usai.

Suatu ketika ia dipanggil menghadap Kepala Bagian Kepegawaian Dinkes Provinsi Maluku Ibu Elsina Wattimena.

Dia kaget dan mengira-gira perihal kesalahan apa yang dia perbuat sehingga dia mendapat panggilan ke kota.

Dia tak pernah mengira bahwa seorang warga Pulau Manipa memberi kabar ke ibu Elsina bahwa pak dokter Hari berada terus di pulau dan sekarang beliau menanam sayuran dan menjadi contoh bagi warga di sana.

Dia tak pernah menyangka, setitik inspirasi yang dia buat adalah cahaya bagi nurani banyak orang.

Dia disuruh buat makalah untuk diusulkan menjadi dokter teladan.

Hal yang tidak pernah diniatkan sebelumnya. Di tempat dia bertugas dia dikenal sangat dekat dengan warga.

Bahkan pernah suatu ketika tokoh pemuda dan beberapa sesepuh ingin mengajukan dia sebagai calon anggota legislatif mewakili Pulau Manipa, dia menolak.

Dia sama sekali tak tergoda, dia menampik buah manis hasil kerja ikhlasnya.

Dia sadar bahwa itu bukan ruang perang yang akan dia tempuh.

Satu-satunya cita-cita yang dia inginkan adalah menjadi dokter gigi sepsialis bedah mulut, namun umur 35 tahun batas minimal usia pendaftaran membuatnya mundur.

Tahun 2013, lelaki itu berangkat ke Jakarta. Tubuh yang kecil dan murah senyum itu berdiri sejajar dengan para inspirator dokter teladan Nasional.

Dia dinobatkan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan di Puseksmas Tingkat Nasional oleh Kementerian Kesehatan.

Tak berhenti disitu pada tahun yang sama dalam acara Jambore Pedesaaan Sehat Kementerian Pembangunan Daerah Terpencil.

Acara ini berlangsung di Kabupaten Lombok Barat NTB dia diundang khusus untuk menerima penghargaan sebagai penerima Pedesaaan Sehat Award dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Taka ada yang menyangka bahwa lelaki yang tak haus penghargaan dan puja puji itu justru mendapatkan penghargaan dari dua Kementerian sekaligus.

Setelah lima tahun menetap di tempat tugasnya di Pulau Manipa.

Dia melanjutkan studi spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial di Universitas Indonesia.

Dia tak mengira bahwa umurnya yang sudah melewati 35 Tahun itu mendapat pengecualian dan mendapat rekomenadasi yang kuat dari senior-seniornya di Kampus.

Tak ada yang pernah menjangkau seberapa besar balasan kebaikan-kebaikan yang dia tanam. Urusan-urusanya kemudian menjadi mudah.

Kini setelah menyelesaikan studi spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial di Universitas Indonesia, dia kembali mengabdi di RSUD PIRU Kabupaten Seram Bagian Barat.

Dia tidak seperti oknum dokter yang serupa kacang lupa kulitnya, yang hanya memanfaatkan daerah terpencil agar mendapat rekomendasi sekolah spesialis, setelah itu kabur entah kemana.

Bahkan sebaliknya beberapa teman sejawatnya yang baru selesai diajak untuk mengabdi di Maluku.

Baginya penting untuk mengajak teman-teman dokter mengabdi di daerah terpencil khususnya di Kawasan Timur Indonesia yang sangat minim tenaga dokternya.

Ketika sebelum tulisan ini saya selesaikan, saya mencoba menelpon Abdul Rauf Samal mantan Kepala Puskesmas Tomahelu, sayup-sayup saya mendengar beliau bertutur tentang Dokter Hari.

Katanya, dokter Hari itu orang paling sabar yang pernah ia jumpai.

Selama lebih lima tahun bertugas di Pulau Manipa beliau melaksankan tugasnya sesuai dengan prosedur yang ada, dan banyak turun penyuluhan.

Inovasi-inovasi yang dibuat cukup banyak seperti membuat kebun rakyat, krupuk ikan dan anak-anak di sini yang sebelumnya hanya tamat SMU, dia motivasi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

"Alhamdulillah akhirnya bahkan ada yang sudah selesai S2”

Petikan suara dari telepon itu saya simak dengan baik.

Pak Bujang yang belakangan saya tahu adalah nama panggilan Abdul Rauf Samal menuturkan dengan perlahan dan runut.

Dalam kisah dokter Hari yang membuahkan inspirasi dan kenangan yang heroik, taka ada yang tahu bahwa dibalik semua itu di sisi lain selama menjalankan tugas di sana insentif yang dia terimapun tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Bahkan kini sampai sekarang ketika dirinya kembali mengabdi ke daerah yang sama.

Tapi sosok R Hari Triwijaya mungkin adalah pribadi yang meniti jalan dengan penuh tekad, sunyi dan tak biasa.

Dia adalah bagian dari semangat anak muda yang tak berhenti mencintai negerinya.

Kita berharap bahwa inspirasi ini adalah pemantik bagi para pemuda untuk terus berjuang demi Indonesia tercinta. (*)

Sumber: Tribun Manado
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved