Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Adven di Tengah Pandemi Covid-19, Bencana dan Rahmat?

Masa Adven yang dulu dijalani dengan penuh kesunyian, keheningan, dan sifat reflektif sekarang dapat sungguh terasa di tengah situasi pandemi.

Dokumentasi pribadi
Mercy Marsilva Pinontoan 

Oleh:
Mercy Marsilva Pinontoan
Mahasiswi STP Don Bosco Tomohon

Situasi Lama vs Stuasi Sekarang

Sekarang ini secara global semua orang diperhadapkan dengan pandemi Covid-19. Pandemi ini membuat ruang gerak semua orang menjadi sempit. Di mana-mana tertulis dan terdengar seruan tiga “M” yakni “menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan. Orang di mana-mana secara langsung maupun tidak langsung “menaruh: kecurigaan terhadap orang lain: “Jangan-jangan si A tertular virus Corona”.

Pandemi ini juga membawa dampak lain, misalnya perekonomian negara menjadi berkurang. Di mana-mana perusahaan melakukan pemecatan massal karyawan-karyawati. Orang-orang sulit mendapatkan pekerjaan, tempat-tempat umum seperti tempat perbelanjaan ditutup, tempat-tempat ibadah ditutup dan sebagainya. Dengan kata lain pandemi menjadi semacam “perang” yang baru bagi semua umat manusia. Corona secara langsung maupun tidak langsung membatasi orang pada ruang dan watu yang sempit.

Sekarang semua umat Kristiani sedang menantikan Hari Raya Natal 25 Desember. Biasanya pada masa ini, khususnya di daerah Sulawesi Utara, dimulai dari tanggal 1 Desember hingga 24 Desember, suasana dan nuansa Natal mulai terasa. Di mana-mana lagu-lagu Natal mulai diperdengarkan, pernak-pernik Natal mulai menghiasi jalan-jalan, bahkan sampai ke lorong-lorong yang keil. Akan tetapi pada tahun 2020 ini suasananya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hiasan-hiasan Natal tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. jaan-jalan menjadi sunyi; tidak sama seperti sebelumnya, pusat-pusat perbelanjaan ramai tetapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya dsb.

Pertanyaannya, mengapa demikian? Karena pada 2020 ini kita semua diperhadapkan dengan pandemi Covid-19. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, semua umat Kristiani khususnya umat Katolik di manapun, harus merasakan bahkan merayakan masa Adven dan nanti masa Natal di tengah pandemi. Berdasarkan penjelasan di atas, pertanyaannya apakah pandemi ini merupakan sebuah bencana semata?

Pandemi Covid-19 sebuah Rahmat?

Terlepas dari dampaknya yang begitu buruk, penulis secara pribadi melihat bahwa pandemi ini, khususnya di masa Adven, bagaikan kesempatan yang baik bagi semua umat Katolik untuk mulai mereflesikan diri. Pandemi ini, meskipun merupakan sebuah bencana yang besar bagi seluruh umat, juga membawa rahmat yang berlimpah. Rahmat yang penulis maksudkan ialah rahmat Allah.

Sekarang semua umat Katolik sementara memasuki masa Adven. Masa Adven yang sementara berlangsung di tengah pandemi ini merupakan sembuah anugerah besar dari Allah. Mengapa penulis menyebutnya sebagai anugerah? Untuk melihat lebih jauh, ada baiknya penulis memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksudkan dengan masa Adven.

Kata Adven berasal dari kata Latin yakni ‘adventus’, sedangkan dalam bahasa Yunani ‘parousia’. Kedua kata ini kurang labih mempunyai arti yang sama yakni “kedatagan” (bdk. https://ggereja.santoambrosius.org). Masa Adven yang kita kenal sekarang ini telah dimulai pada tahun 590. Melalui sinode di Macon, Gaul, Gereja menetapkan masa ini sebagai masa pertobatan dan persiapan kedatangan Kristus (bdk. hhtps:www.katolisitas.org/seputar-adven-dan-natal/). Pada masa Gregorius Agung menjabat sebagai paus (590-604), terdapat lima minggu masa Adven. Nanti pada masa Gregorius VII (1073-1085) menjabat sebagai paus, masa Adven kemudian mengalami perubahan menjadi empat minggu hingga sekarang. Masa Adven dimulai dari tanggal 30 November, selama empat minggu ke depan sampai hari Natal.

Halaman
12
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved