Rabu, 22 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Citizen Journalism

Indahnya Padang Savana di Pulau Bangka Likupang

Saya butuh waktu hampir 1 jam untuk tiba di puncak padang savana karena dari setengah perjalanan ada banyak spot foto yang sayang jika diabaikan.

Dokumentasi Yudith S Rondonuwu
Wisata di Pulau Bangka, Likupang Timur, Minahasa Utara. 

Oleh:
Yudith S Rondonuwu
Traveller
Founder Kelompok Pecinta Alam (KPA) Likupang

ANGIN sepoi-sepoi mengiringi langkah kakiku ketika tiba di dermaga Desa Lihunu, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, Selasa (17/11/2020). Perjalanan dari Pantai Surabaya, Desa Wineru, kurang lebih 40 menit dengan Murex Speedboat untuk tiba di Desa Lihunu.

Perjalanan laut tersebut terasa beberapa menit saja karena pemandangan indah yang tersaji dari sisi kiri, kanan dan depan ke arah Pulau Bangka Likupang yang dikelilingi empat desa, yaitu Desa Kahuku, Desa Ehe, Desa Libas dan Desa Lihunu tujuan kami saat ini. Jika dari Kota Manado total waktu perjalanan adalah sekitar 2 jam.

Dari dermaga sudah terlihat panorama pantai pasir putih persis di permukiman peduduk desa ini dan di sekitarnya. Ada juga pohon kelapa, pohon mangga yang berjejer rapi dengan bunga warna-warni seolah sedang berkolaborasi membentuk sebuah keindahan baru untuk menyambut setiap tamu yang datang dari arah dermaga desa ini.

Awan putih bergradasi dengan birunya langit, terlihat seperti lukisan mahaindah ketika dua ekor burung elang berkeliaran dari lautan menuju perbukitan di belakang desa ini.

“Wah... ada bukit... seperti gunung tertinggi di tengah pulau ini. Pemandangan di sana pasti indah,” celetuk Juneiver Pangau, anggota Kelompok Pecinta Alam (KPA) Likupang yang ikut dalam rombongan tamu undangan bersama sejumlah jurnalis yang berkunjung ke Desa Lihunu untuk melihat potensi pariwisata di desa ini.

Tak pernah disangka, celetukan Juneiver menjadi kenyataan ketika Hukum Tua Desa Lihunu Jody Umboh menuturkan bahwa lokasi gunung tersebut memang sedang dikembangkan menjadi lokasi wisata andalan desa.

Berfoto ria di perkampungan warga di Pulau Bangka
Berfoto ria di perkampungan warga di Pulau Bangka (Dokumentasi Yudith S Rondonuwu)

Baca juga: Kaka Slank Mengaku Jatuh Cinta Akan Keindahan Pulau Bangka di Sulut

“Jalannya masih seperti jalan perkebunan. Jalan setapak namun tidak sulit dijangkau dan beberapa minggu lalu ada beberapa pasangan calon pengantin yang datang prewedding di bukit yang kami sebut bukit padang savana itu,” ungkap Jody Umboh yang baru beberapa tahun mengisi kekosongan jabatan Kepala Desa Lihunu.

Sebelum berkunjung ke padang savana, saya dan rekan-rekan jurnalis nasional dan lokal Sulawesi Utara juga personel KPA Likupang melakukan sesi foto di beberapa spot foto yang dibuat di setiap jaga atau lingkungan di desa. Spot foto terfavorit adalah jembatan bambu dengan latar berbentuk buah hati yang tak jauh dari dermaga dan latar perahu nelayan yang sudah dicat warna-warni dan dikolaborasikan dengan tanaman hias.

Perahu nelayan yang sudah dicat warna-warni dan dikolaborasikan dengan tanaman hias.
Perahu nelayan yang sudah dicat warna-warni dan dikolaborasikan dengan tanaman hias. (Dokumentasi Yudith S Rondonuwu)

Kami juga disuguhi penampilan tari-tarian tradisional antara lain tarian Masamper, tarian Ampa Wayer dan tarian kreatif yang dikembangkan dari tarian Kabasaran dan ditampilkan oleh para remaja putri di desa ini.

Saya bahkan diajak ikut dalam tarian Ampa Wayer yang diiringi tim musik orkestra Desa Lihunu. Saya mengikuti gerakan yang gampang-gampang susah. Sungguh sangat menghibur karena setiap babak dalam tarian ini rupanya memiliki makna tersendiri. “Ada budi ada balas,” kata pemimpin tarian yang rupanya mengartikan jika gerakan berputar ke kiri, selanjutnya harus dibalas lagi dengan gerakan yang sama namun berputar ke arah kanan atau arah sebaliknya oleh semua peserta tarian.

Usai seru-seruan menari, saya dan beberapa rekan yang lain disuguhi kelapa muda langsung dari pohonnya oleh masyarakat sekitar.

Kami KPA Likupang bersama Kelompok penari Kabasaran bersama Hukum Tua Desa Lihunu Jody Umboh.
Kami KPA Likupang bersama Kelompok penari Kabasaran bersama Hukum Tua Desa Lihunu Jody Umboh. (Dokumentasi Yudith S Rondonuwu)

Hal lain yang membuat nyaman berwisata ke Desa Lihunu adalah penerapan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19 yang patut diapresiasi. Di depan rumah-rumah penduduk tersedia tempat cuci tangan, lengkap dengan sabun dan air mengalir. Juga tersedia tempat sampah yang unik yaitu buatan sendiri dari kayu dan ada juga dari bambu.

“Kami ingin Desa Lihunu bisa dicanangkan menjadi desa wisata karena dengan segala potensi alam yang ada dan masyarakat yang mau dibina menjadi masyarakat sadar wisata, walaupun di masa pandemik ini, tapi kami optimis mampu menghadirkan destinasi wisata yang sehat, menghibur dan berkesan baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara,” kata Hukum Tua Jody Umboh didampingi istrinya selaku Ketua PKK Desa Lihunu yang sukses dengan event lomba kebersihan antarlingkungan, Eva Takumangsang.

Sudah cuci tangan, selanjutnya saya pun ikut menikmati makan siang yaitu kuliner ikan bakar dengan dabu-dabu (sambal) ekstra pedas dan ikan bumbu santan. Air jeruk dengan es batu dan rujak mangga menjadi pilihan makanan penutup yang disajikan Hukum Tua bagi kami, para tamu undangan.

Menyusuri padang savana di Pulau Bangka.
Menyusuri padang savana di Pulau Bangka. (Dokumentasi Yudith S Rondonuwu)

“Mari kita siapkan energi sebelum mendaki gunung melihat padang savana. Penasaran kenapa tempat ini sampai dijadikan lokasi prewedding,” ungkap Michele, seorang rekan jurnalis.

Baca juga: Ini Dia Wisata Bersejarah di Pulau Bangka

Sumber: Tribun Manado
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved