Tajuk Tamu Tribun Manado
Taman Wisata Alam Batu Putih, Surganya Para Pelancong
Spot ketiga, tempat bermain monyet yaki. Satwa yang paling banyak mendiami kawasan TWA Batu Putih adalah jenis monyet yaki (Macaca nigra).
Oleh:
Yakub Ambagau
Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Bitung Balai KSDA Sulut
UNTUK kesekian kalinya, hari ini kembali saya mengunjungi tempat ini. Selain karena tugas kantor, tapi juga karena daya tariknya yang sulit untuk dilupakan.
Berjalan santai di jalan-jalan setapak di bawah vegetasi hutan tropis dataran rendah yang lebat disertai semilir angin sejuk yang berhembus menerobos celah-celah pepohonan, memberikan pengalaman wisata yang tak terlupakan.
Kicau burung berbagai jenis, yang unik dan endemik, khas sulawesi bagian utara menambah kenyamanan dan kepuasan saat berkunjung ke lokasi ini.
Semua keindahan, kenyamanan dan pengalaman ini dapat Anda nikmati ketika berkunjung ke Taman Wisata Alam (TWA) Batu Putih di Kota Bitung.
Beberapa bulan yang lalu, sebelum pandemi Covid-19, ketika saya mengunjungi TWA Batu Putih untuk kesekian kalinya, saya sempat beberapa kali berbincang-bincang ringan dengan pengunjung yang datang jauh-jauh umumnya dari Eropa untuk mengunjungi tempat ini.
Kesan mereka adalah bahwa TWA Batu Putih unik, indah dan menarik, sesuai bahkan lebih indah daripada yang mereka bayangkan ketika mereka mencari informasi di internet mengenai tempat ini.
Beberapa di antara pengunjung TWA Batu Putih mengatakan bahwa hampir tidak mungkin menemukan suasana seperti yang mereka rasakan ketika ke TWA Batu Putih di tempat-tempat lain di belahan dunia manapun.
Kawasan TWA Batu Putih lebih dikenal oleh para pelancong mancanegara sebagai kawasan hutan Tangkoko atau ada juga yang menyebutnya Cagar Alam Tangkoko (Tangkoko Nature Reserve).
Pada awalnya, nama lokasi ini adalah Cagar Alam Gunung Tangkoko ketika tahun 1919 Pemerintah Hindia Belanda memberikan nama Natuurmonument Goenoeng Tangkoko Batoeangoes kepada kelompok hutan yang ada di Bitung ini.
Namun dalam perkembangannya, kawasan ini dibagi menjadi 3 unit kawasan yang terdiri dari Cagar Alam Duasudara, Taman Wisata Alam Batu Angus dan Taman Wisata Alam Batu Putih.
TWA Batu Putih berada di Kelurahan Batu Putih, Bawah Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung. Jarak antara TWA Batu Putih dengan Kota Bitung sekitar 20 kilometer, dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama kurang lebih tiga puluh menit.
Jalan menuju kawasan TWA Batu Putih cukup baik dengan kondisi jalan berupa aspal mulus. Walaupun agak sempit, beberapa kali saya menjumpai rombongan yang berkunjung ke TWA Batu Putih datang dengan menggunakan bus ukuran sedang sampai besar.
TWA Batu Putih memiliki beberapa spot wisata yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berkunjung ke lokasi ini. Spot pertama, Pantai Pareng Batu Putih.
Pantai ini cukup unik karena hampir tidak mungkin kita menemukan pasir putih seperti yang ada dalam gambaran kita ketika membayangkan sebuah pantai. Pasir Panti Pareng seluruhnya berwarna abu-abu tua sampai hitam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/yakub-ambagau-kepala-seksi-konservasi-wilayah-i-bitung-balai-ksda-sulut.jpg)