Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Berita Heboh

China Janji Bakal Lancarkan Serangan Sengit Jika Amerika Menyerang, Xi Jinping Sambangi Pangkalan AL

Baru-baru ini Presiden China Xi Jinping menghabiskan hari kedua kunjungannya ke Guangdong.

Editor: Alexander Pattyranie
SCMP / XINHUA
Suasana saat Presiden China Xi Jinping melakukan inspeksi pasukan sebelum digelarnya parade perayaan 70 tahun Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat, di Qingdao, Provinsi Shandong, Selasa (23/4/2019). 

peruntungannya, militer China dan rakyat China pasti akan menghadapi tantangan dan berjuang sampai akhir."

Platform berita yang dimiliki oleh surat kabar resmi Partai Komunis China Daily menyatakan AS a

kan membayar "harga mahal" jika meluncurkan segala jenis serangan pesawat tak berawak terhadap

harta benda milik China di Laut China Selatan.

The Global Times menyatakan: "Kita harus memperingatkan pihak AS bahwa menyerang Kepulauan

Nansha China atau target China lainnya menggunakan drone MQ-9 Reaper adalah tindakan perang.

"Tentara Pembebasan Rakyat China, PLA, pasti akan melawan, menyebabkan militer AS membayar mahal."

Pernyataan retorika Beijing ini merespons AS yang menuduh China melakukan militerisasi yang

ceroboh dan provokatif di wilayah maritim yang disengketakan.

Situs berita tersebut mengklaim pemerintahan Trump mungkin mencoba untuk meningkatkan kampanye agar ia terpilih kembali dengan menciptakan krisis militer.

The Global Times menyatakan tanggapan China adalah "serang keras para penyerang dan ajari mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan".

Editorial media tersebut menambahkan: "China akan menembak jatuh pesawat tempur AS yang masuk, tidak peduli mereka tidak berawak atau berawak.

"Jika pesawat-pesawat itu menyebabkan kerusakan nyata pada pulau-pulau dan terumbu karang di Cina, kami akan menyerang platform dan pangkalan tempat pesawat itu lepas landas."

Presiden China Xi Jinping mengklaim bangsanya memiliki hak kepemilikan bersejarah atas hampir seluruh Laut China Selatan.

Hal ini ditandai dengan "sembilan garis putus-putus" yang mengelilingi wilayah maritim yang kaya mineral dan sumber daya.

Putusan arbitrase internasional 2016 telah menyatakan klaim Beijing tidak memiliki dasar hukum di bawah hukum internasional.

Klaim tersebut telah ditolak oleh negara-negara yang mengelilingi Laut Cina Selatan.

Simulasi perang

China ternyata tidak main-main dengan ancamannya akan menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan bila pulau demokrasi tersebut tidak tunduk di bawah kekuasaannya.

Pada Sabtu (10/10/2020) lalu, China menggelar simulasi serangan habis-habisan terhadap Taiwan.

Dalam simulasi itu, militer China menggunakan drone, pasukan khusus dan pasukan udara secara bertahap untuk mempersiapkan invasi besar terhadap Taiwan.

Latihan mengerikan itu dilaporkan CCTV penyiar pemerintah China dan menandai pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir sebuah outlet media pemerintah memberi tahu semua tentang persiapan untuk menyerang negara Taiwan.

"Ini menandai tindakan agresi terbaru dari Beijing di Laut China Selatan, dan mengikuti peningkatan kehadiran angkatan laut dari China di perairan sengketa," tulis berita tersebut seperti dilansir Express.co.uk Selasa (13/10).

Simulasi serangan terjadi pada Hari Nasional Taiwan, dengan latihan dimulai pada malam hari.

Laporan CCTV merinci bagaimana pasukan China masuk dari berbagai lokasi untuk menunjukkan kesiapan mereka untuk invasi.

Laporan tersebut menambahkan: "Latihan tersebut, dengan integrasi efektif dari beberapa kekuatan tempur baru, meningkatkan kemampuan tempur sebenarnya dari pasukan dalam pendaratan bersama dan serangan tiga dimensi."

Beijing telah meningkatkan latihan militernya karena memandang Taiwan sebagai bagian dari China daratan, dan ingin menyatukan kembali negara-negara itu dengan cara apa pun.

Saat China melakukan latihan tersebut, Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mendesak Beijing untuk melakukan "dialog yang bermakna".

Berbicara pada perayaan Hari Nasional, dia mencela kebuntuan Selat Taiwan yang "cukup menegangkan", dan mendesak Beijing untuk menemukan resolusi damai.

Dia berkata: "Selama otoritas Beijing bersedia menyelesaikan antagonisme dan meningkatkan hubungan lintas selat, sementara paritas dan martabat dipertahankan, kami bersedia bekerja sama untuk memfasilitasi dialog yang bermakna."

Laporan sebelumnya dari Taiwan merinci tekanan besar latihan Angkatan Udara China di atas Selat pada keuangan negara, dengan Taiwan menghabiskan US$ 1,3 miliar untuk mengacak jet tempurnya sendiri melawan serangan itu.

(Kontan.co.id)

BERITA PILIHAN EDITOR :

Baca juga: Kakak Tewas Dibunuh, Adik Korban Teriak Histeris saat Bertemu Pelaku: Saya Tidak Terima

Baca juga: ILC 13 Oktober Tidak Tayang, Karni Ilyas Curhat Penderitaan Usai Dikritik Habis-habisan Netizen

Baca juga: Kecelakaan Maut Tadi Malam, Gadis 16 Tahun Tewas, Terpental dan Masuk Kolong hingga Terlindas Truk

TONTON JUGA :

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul China janjikan serangan balik yang sengit jika AS menyerang pulau-pulau buatannya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved