Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cap Tikus

5 Varian Cap Tikus, Minuman Tradisional Beralkohol di Manado, Ada Campuran Ular dan Kalajengking

Nama Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi Perang Jawa, sebelum 1829

Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
DOK TRIBUN MANADO
Varian Cap Tikus 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO -- Cap Tikus adalah minuman beralkohol hasil fermentasi dan distilasi Air Nira dari Pohon Aren.

Masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara sudah mengenal minuman tradisional ini.

Awalnya, nama Cap Tikus adalah Sopi. 

Nama Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi Perang Jawa, sebelum 1829, menemukan Sopi dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus. 

Dikira Meninggal Dunia, Pria Ini Ternyata Hanya Ketiduran, Petugas Sudah Datang untuk Evakuasi

HEBOH Anak Kambing Berkepala Babi di Desa Balunganyar Jatim, Videonya Viral di Medsos

Sejak dulu, petani Minahasa, sebelum pergi ke kebun atau memulai pekerjaannya, minum satu seloki Cap Tikus untuk penghangat tubuh dan pendorong semangat untuk bekerja.

Cap Tikus sudah cukup melegenda sebagai minuman penghangat tubuh.

Ada banyak kreasi yang bisa diciptakan dengan bahan dasar cap tikus, satu di antaranya Pinaraci, yakni captikus yang direndam bersama bahan rempah.

Lazimnya, bahan rempah pinaraci berupa cengkeh, gingseng, vanili atau tanaman rempah lainnya.

Ada juga meracik Pinaraci dengan merendamnya dengan hewan berbisa, yakni seekor ular kobra dan mamba hitam.

Dua jenis ular itu terkenal bisanya sangat mematikan. Ada juga menggunakan Kalajengking

Hal ini dipercaya menambah rasa hangat dan efek yang lebih keras dibanding cap tikus murni.

Cap Tikus 1978 kemasan 320 Ml dipasarkan Rp 80 ribu per botol.
Cap Tikus 1978 kemasan 320 Ml dipasarkan Rp 80 ribu per botol. (Istimewa)

Masyarakat percaya tubuh mereka akan memiliki stamina yang lebih kuat setelah meminum cap tikus bercampur reptil tersebut.

 Di Sulut, luas lahan perkebunan aren yang menjadi bahan pembuatan cap tikus mencapai 5.907 hektare.

Produktivitasnya 1 ton 103 kilogram per semester atau rata-rata 457 kilogram per bulan dalam bentuk sadapan air nira.

Cap tikus sudah menjadi minuman keras tradisonal favorit digunakan warga di Sulawesi Utara  bahkan Papua.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved