Cap Tikus
5 Varian Cap Tikus, Minuman Tradisional Beralkohol di Manado, Ada Campuran Ular dan Kalajengking
Nama Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi Perang Jawa, sebelum 1829
Penulis: Aldi Ponge | Editor: Aldi Ponge
Banyak petani cap tikus yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga strata tiga.
Sayangnya, banyak persoalan kriminal yang terjadi disebabkan tingginya gangguan keamanan karena mabuk cap tikus.
Sebab cap tikus mudah didapatkan dengar harga murah di warung-warung.
• Pria Asal Manado Ini Jadi Model Terkenal di New York, Intip Potret Gantengnya Oliver Prasetyo
• 17 Pahlawan Nasional Asal Manado, Diminta Soekarno Bentuk Pemerintahan hingga Gugur Usia 24 Tahun
Polisi pun rutin melakukan razia cap tikus untuk menekan angka kriminalitas.
Berikut 5 racikan cap tikus yang populer di Sulut:
1. Cakram

Cakram itu singkatan dari cap tikus kram -kram.
Kram merupakan istilah lokal untuk kata keram.
Cakram ini sebenarnya tak ada camputan lain, hanya cap tikus yang diproduksi dengan kadar alkohol tinggi.
Mengonsumsi cakram secara harafiah bisa membuat badan jadi keram, namun kram-kram ini lebuh merujuk ke kandungan alkohol dari cap tikus itu sendiri.
Cakram merupakan cap tikus yang punya kandungan alkohol di atas 50 persen.
Istilah cakram ini muncul di sentra produksi cap tikus di Minsel di daerah Motoling.
Selain cakram, istilah cap tikus dengan kadar alkohol tinggi sering disebut istilah setempat cap tikus bakar manyala.
2. Pinaraci

Pinaraci merupakan satu di antara varian racikan cap tikus yang cukup populer di kalangan masyarakat Sulut.