Opini
Jangan Tempatkan Tenaga Medis Sebagai Garda Terdepan
Kita sering mendengar bahwa tenaga medis merupakan garda terdepan dalam penanganan Covid-19. Menurut hemat kami jargon tersebut tidaklah cocok
Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Tapi tanpa dibekali pengetahuan dan skill yang cukup, kontribusi masyarakat justru menjadi bumerang di saat seperti ini, karena dalam kondisi darurat semua tindakan punya konsekuensi yang bisa fatal.
Dengan mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan semangat gotong-royong menghadapi pandemi Covid-19, masyarakat bisa kita dorong pada upaya penguatan modal sosial sebagai sumber daya non-finansial.
Modal sosial kita yang cukup besar potensinya, akan sia-sia jika tidak diakomodir dan dikelola secara maksimal.
Pemerintah idealnya menjembatani kontribusi masyarakatnya dengan rambu-rambu yang jelas.
• Elektabilitas Prabowo Subianto dan Anies Baswedan Turun, Ganjar Pranowo Naik Kalahkan Gubernur DKI
Katakalah kita membangun desa atau kelurahan tangguh bencana pandemi, maka proses identifikasi sumber daya menjadi awal tindakan.
Mereka yang mau menjadi relawan selanjutkan dilatih dan diberi porsi partisipasinya di setiap desa atau kelurahannya.
Setiap orang bisa saja memberi kontribusi yang berbeda-beda sesuai dengan skill dan kemampuannya.
Hal sederhana yang bisa dilakukan oleh relawan masyarakat yakni melakukan edukasi yang menyeluruh ke semua komponen masyarakat tentang Covid-19, melalui pamflet, brosur, ataupun pengeras suara di rumah-rumah ibadah.
Edukasi kesehatan bukanlah hak milik tenaga kesehatan semata, semua bisa melakukannya asal terlatih.
Mulai dari tenaga edukasi cuci tangan yang benar, cara penggunaan dan melepaskan masker, dan informasi lainnya yang dibutuhkan masyarakat.
Edukasi menjadi intervensi awal untuk membangun desa atau kelurahan tangguh bencana pandemi.
• Aurel dan Azriel Konsultasi, Ini Saran Psikolog untuk Orang yang Alami Trauma Perceraian
Tanpa edukasi yang adekuat, banyak masalah yang akan timbul dikemudian hari. Contoh kasus belakangan ini, jangankan paham akan protokol penanganan jenazah Covid-19, masih saja ada masyarakat yang ngotot untuk menguburkan keluarganya jenazah dengan ‘biasa-biasa’ saja, padahal sebelumnya sudah ternotifikasi sebagai pasien dalam pengawasan.
Mari evaluasi, jangan-jangan masyarakat kita memang tahu apa itu protokol Covid-19 dan kenapa penting untuk dipatuhi.
Menempatkan masyarakat sebagai subjek mitigasi pandemic Covid-19 punya manfaat besar, salah satunya akan mengurangi beban saudara atau teman-teman kita yang berprofesi sebagai tenaga medis.
Minimal upaya preventif dan promotif level komunitas telah jalan. Pepatah bilang ‘katakan pada saya dan saya akan lupa, ajari saya dan saya akan ingat, libatkan saya dan saya akan belajar’. (Ang)
• BREAKING NEWS Bolsel Ketambahan 2 Positif Covid-19, Seorang Kontak Erat Dengan Pasien 01
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/asep-rahman-skm-mkes.jpg)