Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Mutiara Ramadan

Al-Qur'an, Ramadan dan Sejarah

Muatan isi al-Qur'an tidak hanya seputar hukum (kewajiban dan larangan), norma, serta aturan-aturan

Editor: Charles Komaling
istimewa
Yusno Abdullah Otta (Dosen Pascasarajana IAIN Manado, Wakil Rais Syuriyah NU Sulut). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - AL-QUR'AN diturunkan Allah Swt pada bulan Ramadan pada malam khusus (Lailatul Qadar) (Q.S. al-Qadr [97]: 1). Al-Qur'an tidak saja menjadi manual guide bagi umat Islam namun, lebih dari itu, setiap huruf yang dibaca memiliki nilai di sisi Allah.

Heterogen muatan isi al-Qur'an tidak hanya seputar hukum (kewajiban dan larangan), norma, serta aturan-aturan, melainkan juga kisah dan sejarah terdahulu baik mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah maupun azan dan siksa-Nya.

Muatan dan isi al-Qur'an begitu beragam sehingga menjadi inspirasi bagi setiap pembacanya -tergantung pada kemampuan yang dimiliki setiap orang. Karenanya, al-Qur'an juga dikenal sebagai kitab yang komplit dan komprehensif.

Kisah Meneptah (Fir'aun) banyak menghiasi lembaran-lembaran al-Qur'an. Al-Qur'an berkisah tentang kesadisan dan kekejaman Fir'aun; membunuh setiap bayi laki-laki hanya karena didasarkan pada mimpinya (Q.S. al-A'raf [7]: 127) serta menyingkirkan siapa saja yang dapat mengganggu status qua, termasuk Nabi Musa a.s dan Nabi Harun a.s. Melihat semua sikap kejam dan sadis ini, Nabi Musa a.s pernah berdo'a kepada Allah untuk membinasakan Fir'aun beserta sekutu-sekutunya (Q.S. Yunus [10]: 88).

Namun, semua bentuk sikap kejam dan sadis Fir'aun terhadap sesamanya ini belum menjadikan sebab bagi Allah untuk menegurnya. Yang ditegur Allah swt. adalah tatkala Fir'aun mendeklarasikan diri sebagai tuhan, ".Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku." (Q.S. al-Syu'ara [26]: 29) dan ".aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku" (Q.S. al-Qashash [28]: 38).

Atas dasar cinta, Allah swt mengutus kedua Nabi-Nya agar menasehati Fir'aun supaya dia "sadar" tentang jatidirinya sebagai sosok manusia yang telah melampaui batas (Q.S. Thaha [20]: 43).

Allah swt meminta kepada kedua Nabi-Nya untuk membujuk Fir'aun dengan "berbicara kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut" (Q.S. Thaha [20]: 44), bukan dengan ancaman dan teror terlebih persekusi. Cukuplah Fir'aun sebagai representasi raja yang pernah berkuasa dengan sikap kejam dan sadis yang dikisahkan dalam al-Qur'an, selain Raja Namrud.

Al-Qur'an juga menceritakan tentang kisah dua orang Nabi yang sekaligus sebagai raja; Nabi (Raja) Daud a.s dan Nabi (Raja) Sulaiman a.s. Nabi pertama (Daud a.s) "dititipkan" kerajaan yang agung (Q.S. Shad [38]: 17); Allah menundukkan gunung dan burung serta melunakkan besi atasnya (Q.S. al-Anbiya [21]: 79-80; Saba [34]: 10).

Pada saat usianya masih remaja, Nabi Daud adalah prajurit yang membunuh Raja Jalut (Q.S. al-Baqarah [2]: 251) hanya dengan "senjata" buatannya sendiri. Demikian pula dengan Nabi (Raja) Sulaiman yang memperoleh warisan dari Nabi Daud (Q.S. al-Naml [27]: 16).

Allah Swt menundukkan Jin-jin (syaitan) (Q.S al-Anbiya [4]: 81-2; Saba [34]: 13, 37), angin (Q.S. Saba [34]: 36), burung (Q.S. al-Naml [27]: 16) dibawah kekuasaan Nabi Sulaiman dan menjadi tentaranya (Q.S. al-Naml [27]: 17). Nabi Sulaiman juga mampu memahami bahasa hewan (Q.S. Naml [27]: 18-19) serta memiliki kelimpahan harta (Q.S. al-Naml [27]: 36). Bentuk kerajaan Nabi Sulaiman merupakan model yang tidak memiliki bandingannya; baik pada masa sebelum beliau hingga dunia berakhir (Q.S. Saba [34]: 35).

Memaknai kisah ketiga raja agung di atas, terdapat perbandingan yang tajam antara Nabi (Raja) Daud dan Nabi (Raja) Sulaiman dengan Raja Meneptah (Fir'aun). Kekuasaan yang dititipkan Allah Swt kepada kedua Nabi-Nya melebihi dari apa yang dimiliki Fir'aun. Akan tetapi, kedua Nabi tersebut memiliki ke-sadar-an yang "sadar" bahwa mereka berdua telah "dilebihkan" oleh Allah di antara hamba-hamba yang lain (Q.S. al-Naml [27]: 15-16; Saba [34]: 14). Nabi Sulaiman a.s., di satu sisi, bermohon agar Allah mengilhaminya untuk tetap bersyukur (Q.S. al-Naml [27]: 19, 40).

Sementara, Nabi Daud, di sisi lain, meminta kepada Allah swt agar menjadikannya sebagai hamba yang baik dan taat (Q.S. Shad [38]: 30). Meskipun Nabi sulaiman a.s memiliki tentara yang luar biasa serta dapat dipergunakan tanpa diminta pertanggungjawaban (Q.S. Saba [34]: 39) namun hal itu tidak menjadikannya lupa diri.

Nabi Sulaiman, sebaliknya, menjadikan semua nikmat tersebut sebagai media untuk senantiasa taat, patuh dan tunduk serta berserah diri hanya kepada Allah swt. (Q.S. al-Naml [27]: 44), sehingga tetap dekat dengan Allah swt. Hakikat kesadaran kedua Nabi Allah tersebut adalah pemahaman yang baik bahwa nikmat merupakan ujian dari Pemberi nikmat (Q.S. Shad [38]; 34); untuk menguji hamba-Nya apakah bersyukur atau kufur (Q.S. al-Naml: 40).

Keduanya adalah tipologi manusia yang senantiasa "menahan diri dari keinginan hawa nafsunya (Q.S. al-Nazi'at [79]: 40).
Sebaliknya, Raja Meneptah (Fir'aun) justru kehilangan kesadaran sehingga lupa diri. Kealpaan dirinya yang membuatnya berasumsi bahwa kekuasaan serta semua milikinya merupakan hasil dan usaha dia. Anggapan ini yang pada akhirnya membuatnya sombong, sehingga mendorongnya untuk berbuat sesuka hatinya sampai mendeklarasikan diri sebagai tuhan.

Kekuasaan adalah milik Allah Swt yang dititipkan kepada siapa saja yang dikehendaki (Q.S. Ali Imran [3]: 26) sebagai nikmat. Manusia adalah penentu nasibnya atas nikmat (kekuasaan) yang dititipinya. Allah Swt memberi petunjuk kepada manusia dengan dua jalan (Q.S. al-Balad [90]:10) dan memberikan mereka kemerdekaan untuk memilih syukur atau kufur (ingkar) atas nikmat yang diterima (Q.S. al-Sajdah [32]: 9).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved