Breaking News:

Tajuk Tamu Tribun Manado

Generasi Muda sebagai Agent of Change di Masa Pandemi

LDR aja kamu mampu bertahan, masak physical distancing kamu enggak kuat, padahal memahami cinta lebih susah daripada menghindari corona.

ISTIMEWA
Ni Kadek Melda Lestari 

Oleh:
Ni Kadek Melda Lestari
Mahasiswa PGSD STAH N Mpu Kuturan Singaraja Bali

FAKTA terkini mementaskan sebuah kenyataan bahwa dunia diguncang wabah Covid-19. Demikian juga Indonesia telah berjuang mengatasi wabah tersebut.

Dalam menangani Covid-19, dari segi penanganan, dokter dan tenaga medis merupakan garda terdepan, karena mereka adalah orang-orang yang berhadapan langsung dan merawat pasien. Namun, dari segi pencegahannya, masyarakatlah yang menjadi kunci. Dalam arti masyarakat tetap patuh pada anjuran pemerintah, dan sebisa mungkin bekerja dari rumah.

Sebagai anggota masyarakat, generasi muda, sebisa mungkin berada di garda terdepan untuk mengkampanyekan tentang protokol kesehatan dari pemerintah. Maka dapatlah dikatakan, peran generasi muda tidak kalah pentingnya.

Terkait hal itu, apa yang paling bisa dikedepankan dari seorang sosok generasi muda? Hemat penulis, mereka bisa menjadi ‘agent of change’, ‘moral force’, dan ‘social control’. ‘Agent of change’ adalah orang-orang yang bertindak sebagai pemicu terjadinya sebuah perubahan. Dalam hal ini, generasi muda dapat memicu perubahan yang positif maupun negatif. ‘Agent of change’ yang baik adalah orang yang memiliki keterampilan dan kemampuan membawa dampak positif bagi lingkungannya.

Sektor Pariwisata dan Otomotif Cepat Pulih: Pasca Pandemi Covid-19

Maka, paling tidak wejangan dari Presiden Sukarno bisa menjadi pemicu bagi generasi muda untuk menjadi ‘agent of change’: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Begitulah ungkapan Presiden Soekarno yang menganggap betapa pentingnya peran generasi muda (pemuda) dalam membangun sebuah negara. Pendek kata, pemuda Indonesia dapat membantu masyarakat Indonesia dalam hal apapun termasuk pada saat Indonesia dilanda pandemi Covid-19, yang bukan hanya mengguncang Indonesia tapi juga seluruh jagad.

Terkait hal itu, pertanyaan reflektifnya adalah, apa yang bisa saya lakukan sebagai generasi muda untuk Indonesia? Hemat penulis, menghadapi kondisi saat ini generasi muda berperan secara masif, salah satunya menjadi penggerak ‘physical distancing’, penerapan hidup sehat, saling menguatkan dengan menjalin komunikasi melalui media digital. Hal terpenting lainnya, misalnya mengalihkan perhatian, terkait budget untuk jalan-jalan, untuk bersedekah. Termasuk pula, tetap produktif dan menciptakan rasa nyaman di rumah, belajar dan bekerja dari rumah, beribadah di rumah.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah memberi support dan semangat siapapun masyarakat Indonesia. Apalagi saat ini, kita sudah berada di era revolusi industri 4.0, seharusnya memiliki kemudahan untuk berkomunikasi di saat pandemi. Maka generasi muda sebisa mungkin memanfaatkan teknologi, mengingat di zaman ini dunia tak lepas dari teknologi. Maka hemat penulis, semua bisa terjadi berawal dari diri kita, generasi muda. Kita harus mulai dari kita sendiri.

PA 212 Desak Masjid Segera Dibuka: Pemerintah Jangan Bersikap Diskriminatif

Belajar dari pandemi Covid-19 ini, dengan belajar dari rumah kita bisa memetik hal baik yang sebetulnya tersembunyi di balik wabah ini, seperti: meningkatkan kewaspadaan dan rasa syukur, menjadikan kita waspada; dengan segala pemberitaan media, kita lebih memperhatikan kesehatan. Selain itu, di tengah wabah ini kita lebih sadar akan arti dari belajar dan bekerja dari rumah, yakni kita lebih dekat dengan keluarga. Maka yang paling penting, kita sekarang diingatkan untuk menumbuhkan rasa memiliki kita, memiliki Indonesia. Pendek kata, haruslah kita menjadi agen perubahan.

Hal positif yang bisa menjadi patokan kita adalah bahwa semenjak Covid-19 muncul banyak negara di dunia mulai bergotong-royong, bekerja sama, saling membantu untuk mengatasi pandemi ini. Bahkan, bukan hanya dalam skala besar, di antara individu, tingkat kepedulian terhadap sesama juga makin tinggi. Dari sisi psikologis, bencana alam dan nonalam biasanya menyatukan orang dan memicu tindakan solidaritas spontan di antara semua yang mengalami musibah.

Hal baik lain yang datang dari wabah Covid-19 adalah membantu kita mengambil jeda dari kerja keras dan produktivitas berlebihan. Sebab, wabah ini telah membuat banyak orang terpaksa harus mengarantina diri, tidak perlu bekerja keluar rumah, tidak bisa melakukan perjalanan ke luar kota atau bahkan luar negeri.

BPJS Kesehatan Naik Lagi, Pengusaha pun Merasa Keberatan

Demikian wabah ini termasuk pula menyadarkan pentingnya seseorang dan hubungan di saat orang diisolasi. Mereka akan mulai memikirkan orang-orang yang tidak ada di sekitar seperti teman, kerabat, keluarga, hingga rekan kerja. Dari sini, mereka akan mempelajari pentingnya untuk tetap menjadi terhubung dengan orang-orang di luar sembari memastikan keselamatan diri sendiri dan orang lain.

Saya percaya generasi muda Indonesia pasti bisa turut serta mengampanyekan sisi positif dari adanya pandemi Covid-19 ini melalui gerakan kecil, sederhana, tapi terukur! Long distance relationship (LDR) aja kamu mampu bertahan, masak physical distancing kamu enggak kuat, padahal memahami cinta lebih susah daripada menghindari corona.

Ayo bersama-sama bergerak. Aksimu untuk Indonesia sehat! (*)

Tolak Herd Immunity, Direktur WHO: Manusia Bukan Ternak

Muncul Kasus Baru, China dan Korsel Beda Gaya: Giliran Kota Jilin Alami Lockdown

Rusia Ranking Tiga Wabah Corona: Giliran Jubir Putin Terinfeksi Covid-19

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved