Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tolak Herd Immunity, Direktur WHO: Manusia Bukan Ternak

Sejumlah negara di dunia saat ini mulai melonggarkan pembatasan dan kebijakan lockdown terhadap pandemi Covid-19.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
BORJA PUIG DE LA BELLACASA / AFP / LA MONCLOA
(Ilustrasi) suasana sebuah rumah sakit di Spanyol, 15 April 2020 di tengah lockdown untuk melawan penyebaran coronavirus COVID-19. Seorang mahasiswi menjadi penyebab satu kota terkena lockdown setelah sang mahasiswi pulang ke kampungnya. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JENEWA - Sejumlah negara di dunia saat ini mulai melonggarkan pembatasan dan kebijakan lockdown terhadap pandemi Covid-19. Meski masih menjaga jarak, sejumlah negara mulai melontarkan adanya kepercayaan terhadap konsep Herd Immunity atau Kekebalan Kawanan (kelompok).

Muncul Kasus Baru, China dan Korsel Beda Gaya: Giliran Kota Jilin Alami Lockdown

Menanggapi konsep dan isu Herd Immunity, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) angkat bicara. WHO menentang kebijakan herd immunity yang diterapkan sejumlah negara untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Direktur Eksekutif Program Kesehatan WHO, Dr Michael Ryan mengatakan, lembaganya mengecam penerapan konsep tersebut untuk menangani wabah virus corona lantaran mengorbankan nyawa manusia.

"Manusia bukan herds (kumpulan ternak). "Ini (Covid-19) adalah penyakit serius, musuh publik nomor satu." kata Mike Ryan, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Rabu (13/5). "Bagaimana jika kita akan kehilangan beberapa orang tua di sepanjang jalan? Ini benar-benar berbahaya, perhitungan berbahaya," ujar Ryan dalam konferensi pers di Jenewa dikutip dari laman resmi WHO.

Hanya saja, Ryan tidak menyebut secara spesifik negara mana yang menerapkan kebijakan tersebut. Dalam konferensi pers di Jenewa itu Ryan menambahkan, penerapan konsep herd immunity sangat berbahaya, terlebih ketika vaksin Covid-19 belum tersedia.

"Jadi saya pikir ide ini, bahwa mungkin beberapa negara yang memiliki kebijakan pelonggaran dan tidak melakukan apa-apa akan secara ajaib mencapai herd immunity," tutur dia.

Apa yang disampaikan Ryan itu--tingkat kematian pada orang tua yang tinggi akibat Covid-19, dalam laporan Bussines Insider disamakan dengan kondisi yang terjadi di Swedia. Negara Skandinavia itu merupakan negara yang terbilang santai dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Mereka tetap mengizinkan bar, sekolah, dan gimnasium tetap buka sambil mendorong orang untuk tinggal di rumah ketika sakit, jarak sosial, dan sering mencuci tangan untuk menghindari penyebaran virus.

Rusia Ranking Tiga Wabah Corona: Giliran Jubir Putin Terinfeksi Covid-19

Ide herd immunity dengan membiarkan virus Corona menjangkiti sebanyak-banyaknya orang kini terus diperbincangkan publik, termasuk di media sosial di Indonesia. Ide ini sempat menjadi pergunjingan saat awal-awal penanganan wabah di Inggris.

Publik menganggap pemerintahan Boris Johnson sedang menggulirkan cara herd immunity untuk mengatasi Corona di Inggris, meskipun akhirnya pemerintahan Inggris menepis kebenaran isu itu.

Herd immunity sendiri diartikan sebagai kekebalan kelompok. Di mana ada kondisi ketika sebagian besar orang dalam suatu kelompok telah memiliki kekebalan terhadap penyakit infeksi tertentu. Tapi kondisi ini baru bisa dicapai ketika sebagian besar populasi kebal terhadap infeksi, sehingga penyebaran penyakit bisa dihentikan.

Kekebalan bisa didapat dari vaksinasi atau seseorang sudah pernah terinfeksi. Dalam kasus wabah Covid-19 ini, karena belum ditemukan vaksin, maka herd immunity baru bisa dicapai ketika sebagian besar orang terpapar virus.

Michael Ryan pun mengatakan, selama ini para ahli epidemiologi menggambarkan bahwa suatu populasi yang umumnya telah divaksinasi dapat melindungi individu rentan, misalnya bayi atau orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh.

Ketika kekebalan kelompok seperti itu ada, sulit bagi virus untuk menyebar. "Manusia bukan kawanan (seperti binatang). Saya pikir kita harus benar-benar berhati-hati ketika kita menggunakan cara itu," ujar dia.

Ryan juga mengaku tidak sepakat dengan asumsi bahwa tingginya kasus saat ini merupakan pertanda pandemi akan berakhir. Sebab dia mengatakan jumlah kasus yang kini ada masih jauh di bawah perkiraan.

Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada 30 Januari 2020.
Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada 30 Januari 2020. (AFP/FABRICE COFFRINI)
Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved