Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan 2020

Corona Membuka Takbir Keberagamaan

Keberagamaan artinya mengamalkan dan mengekspesikan ajaran agama dalam kehidupan

Penulis: Dewangga Ardhiananta | Editor: David_Kusuma
Istimewa
Dr Sofyan AP Kau, Pengajar IAIN Sultan Amai Gorontalo 

Penulis: Dr Sofyan AP Kau (Pengajar IAIN Sultan Amai Gorontalo)

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Keberagamaan artinya mengamalkan dan mengekspesikan ajaran agama dalam kehidupan. Keberagamaan merujuk kepada bagaimana kita mewujudkan ajaran agama secara nyata dalam kehidupan.

Dengan kata lain keberagamaan merujuk kepada sifat atau keadaan dari pemeluk agama. Tegasnya keberagamaan adalah potret tentang sikap dan corak kita dalam mengekspresikan dan mengamalkan ajaran agama baik secara individu maupun kelompok.

Ketika MUI mengeluarkan fatwa dan taushiyah tentang salat jamaah di rumah di tengah wabah corona, maka kita melihat beragam sikap umat Islam.

BREAKING NEWS: Pengumuman Struktur Baru, Tetty: Golkar Siap Menangkan Pilgub dan Pilkada se-Sulut

Ada yang menaati penuh; ada yang menolak; dan ada pula menaati tetapi setengah hati. Yang disebut terakhir, tetap melaksanakan salat berjamaah di masjid (salat lima waktu, salat jumat dan salat tarawih), tetapi dengan berpegang kepada protokol kesehatan.

Yang disebut kedua, tetap melaksanakan salat jamaah di masjid sebagaimana biasa, hanya tanpa memperhatikan aspek protokol kesehatan.

Kedua kelompok ini memiliki alasan yang hampir sama: ’cinta’ masjid, ’gemar’ berjamaah, ’memuliakan ramadan’, ’mengamalkan sunah Nabi’, ’salat jama’ah dijamin aman’ dan sebagainya.

Adapun yang disebut pertama yang menaati fatwa dan taushiyah MUI, dengan tetap salat berjamaah; bukan di masjid tetapi di rumah bersama keluarga.

Kelompok pertama ini, umumnya mereka kelompok terpelajar dalam studi keislaman dan akrab dengan tradisi keilmuan Islam.

Kelompok pertama percaya, menjaga kemaslahatan bersama jauh lebih diiutamakan daripada kepentingan pribadi dan kelompok (jama’ahnya).

KABAR BAIK, PLN Gratiskan Listrik bagi UMKM Selama 6 Bulan Akibat Covid-19

Dengan berjamaah di rumah berarti memutus mata rantai penyebaran virus corona. Agaknya, kelompok pertama tidak ingin ibadahnya membawa petaka bagi orang lain.

Bagi kelompok pertama, ibadah tidak hanya mengekspresikan kesalehan individu, tetapi juga merefleksikan kesalehan sosial.

Kelompok pertama memahami ibadah tidak hanya bersifat teosentris, tetapi juga antroposentris.

Tegasnya kelompok pertama memahami oreintasi ibadah adalah bukan semata-mata pengabdian ilahi an sic, tetapi juga berorientasi kepada kemanusiaan.

Saya jadi teringat satu hadis yang pernah dinyatakan Nabi di hadapan Ka’bah: ’’Engkau
(maksudnya Ka’bah) adalah mulia dan dimuliakan, tetapi darah dan kehormatan seorang manusia jauh lebih mulia’’.

Hadis ini sedang mengoreksi pola keberagamaan kita, yang sering terjebak pada aspek ritual semata, tetapi mengabaikan aspek kemanusiaan.

Padahal keseluruhan ibadah dalam Islam berorientasi kepada kemanusiaan dan moralitas. Bukankah dalam pelanggaran ibadah, kafarat (sanksinya) adalah aspek kemanusiaan.

Suami-istri yang sengaja melakukan kontak seksual siang hari pada waktu puasa, dikenai sanksi, berupa memberi makan kepada orang miskin.

Ibadah yang dilanggar, tetapi hukumannya berkenaan dengan kemanusiaan. Bagaimana kalau sebaliknya? Saya belum menemukan kejahatan kemanusiaan, sanksinya adalah ibadah atau diganti dengan bacaan al-Quran dan wirid.

Hari Buruh, Pemkab Bolmut Beri Bantuan 270 Tenaga Kerja di Lingkungan Pemerintahan Bolmut

Dari sini, kita merenung, apakah ibadah kita selama ini hanya untuk diri sendiri? Ataukah juga berimplikasi kepada nilai-nilai kemanusiaan. Jika kita memilih jawaban yang pertama, maka kita perlu memaknai dan menemukan kembali hakekat puasa, yaitu pengendalian diri.

Wabah corona ternyata membuka takbir keberagamaan kita, bahwa ternyata masih banyak diantara kita yang beribadah bukan atas dasar ilmu dan kesadaran kemanusian, tetapi lebih banyak menonjolkan kepentingan diri sendiri.

Jika kita tidak mampu mengendalikan diri, termasuk memaksakan beribadah dan berjama’ah di masjid dengan berbagai dalil dan dalih, maka saya menjadi khawatir, jangan-jangan kita tidak sedang beribadah kepada Allah, tetapi sedang mengabdi kepada diri sendiri. Semoga kekhawatiran saya keliru. Wallahu ’a’lamu bi al-shawab. (Ang)

Tim Tarsius Bongkar Prostitusi Online, Libatkan Wanita Muda, Juga Amankan Sajam, Ini Kronologinya

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved