Dua Pria Terpapar Covid Tulari Dua Wanita: 40 Pasien Positif Corona di Sulut
Perlahan tapi pasti! Jumlah orang positif terjangkit Coronavirus disease 2019 (Covid-19) bertambah di Sulawesi Utara.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Perlahan tapi pasti! Jumlah orang positif terjangkit Coronavirus disease 2019 (Covid-19) bertambah di Sulawesi Utara. Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Sulut kembali mengumumkan empat orang positif terpapar virus. Mereka tersebar di Kota Manado dan Bitung (lihat grafis). Hingga Minggu (26/4/2020), Sulut sudak ‘mengoleksi’ 40 orang positif Corona.
• Netizen Doakan Keluarga Gubernur Olly
Pada Jumat malam pekan lalu, ada 36 kasus Covid-19 di Sulut. Hanya berselang sehari, Minggu malam, Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut, dr Steven Dandel mengumumkan, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah empat sehingga berjumlah 40 kasus.
"Iya, benar bahwa hari ini pihak kami menerima laporan hasil swab, bahwa di Sulut ketambahan empat kasus positif Covid-19. Sehingga berjumlah 40 kasus," kata Dandel melalui video conference bersama jurnalis Covid-19, tadi malam.
Dikatakan Dandel, keempat pasien yang baru terkonfirmasi positif Covid-19 ini adalah warga Bitung dan Manado. "Kasus ke-37 jenis kelamin laki-laki, umur 39 tahun, warga Kota Bitung. Bersangkutan memiliki riwayat perjalanan dari daerah transmisi lokal," ujar Dandel.
Lanjutnya, kasus ke-38, jenis kelamin perempuan, umur 32 tahun. "Kasus ke-38 ini juga warga Kota Bitung. Bersangkutan punya kontak erat berisiko tinggi dari kasus 37," ujar dia. Kata Dandel, untuk kasus ke-39, seorang pria umur 53 tahun asal Kota Manado. Dia punya kontak erat berisiko tinggi dari pasien kasus 35.
"Untuk kasus ke-40, jenis kelamin perempuan, umur 19 tahun, warga Manado. Bersangkutan punya kontak erat risiko tinggi dari pasien kasus nomor 35 dan 39," ujar Dandel.
Pengamat kesehatan dari Universitas Negeri Manado, Jonesius Manoppo menilai, pertambahan orang positif Covid disebabkan tidak maksimalnya tracking dan tracing kepada orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). "Ada kontak erat yang luput saat wawancara kepada mereka yang berstatus ODP dan PDP, karena ada yang tidak jujur. Ada kontak erat risiko tinggi atau rendah dan pelaku perjalanan tidak jujur kepada petugas medis," ungkap Manoppo kepada Tribun Manado.
Dosen Epidemiologi Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Unima ini mengatakan, hal yang paling berisiko juga terdapat pada orang tanpa gejala (OTG). Menurutnya, ada OTG yang tidak sadar sedang menebar virus di mana-mana atau ODP dan PDP yang melanggar karantina pribadi di rumah, dan bebas ke mana saja.
• Ramadan di Benua Biru: 18 Jam Berpuasa di Kota Manchester
Kemungkinan besar tidak menggunakan masker karena menganggap tidak sakit dan merasa tidak punya kontak dengan mereka yang PDP atau ODP. Hal inilah yang luput dari pengawasan. "Padahal, kita tidak tahu lagi siapa kawan dan siapa lawan di sini, jika tak waspada risiko terpapar virus Corona terbuka lebar," sebut Manoppo.
Lanjutnya, kalau sampai kebobolan itu pasti karena hal di atas, ada protokol yang dilanggar, seperti tidak mencuci tangan kemudian menyentuh muka, tidak menerapkan penjagaan jarak fisik, tidak menggunakan masker dengan tepat dan benar.
Selain itu, tidak menyemprot disinfektan untuk barang dari luar seperti tas dan uang, juga penanganan sampah masker yang tidak sesuai prosedur. "Itu semua terjadi selain karena ketidaktahuan atau karena menganggap enteng virus ini. Juga karena rasa aman semu akibat karantina lokal, yang menganggap virus belum mencapai lokasi mereka," ujar Manoppo.
Dikatakannya, sekarang kemungkinan penularan Covid dari luar daerah sangat kecil, karena penerbangan sudah dihentikan dan pelabuhan laut ditutup, namun jangan membuat lengah untuk tetap disiplin menerapkan kebersihan pribadi.
"Setidaknya 14-21 hari ke depan kita tetap waspada, jangan mempercayai siapapun dan menerapkan secara disiplin protokol pencegahan Covid, jaga jarak fisik, sekalipun memakai dan tidak membuka masker, tetap jaga jarak," ujarnya.
Tak hanya Manado dan Bitung, Kabupaten Bolaang Mongondow juga terus mewaspadai penyebaran Covid-19. Enam siswa yang sekolah di Jawa yang masuk Bolmong pekan lalu, dijadikan sebagai orang tanpa gejala (OTG).
Kadis Kesehatan Bolmong melalui Kabid Yusuf Detu mengatakan, keenamnya berada di Kecamatan Passi Timur. "Mereka langsung diperiksa kesehatan dan menjalani isolasi," katanya.
Sebut Detu, Bolmong kini mengoleksi 10 OTG dari tiga klaster. Punya riwayat perjanan ke Gowa-Sulawesi Selatan, penumpang KM Doloronda dan dari perjalanan dari Jawa. Kluster Gowa satu orang sedang Doloronda tiga orang. "Keempatnya bermukim di Lolak," kata dia.
• Pasien Covid-19 Terbangun Setelah Dinyatakan Meninggal, Keluarga Terlanjur Simpan Abu Kremasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/konferensi-pers-sagtas-covid-19-sulut-6.jpg)