Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Ramadan di 'Benua Biru': 18 Jam Berpuasa di Kota Manchester 

Dono Widiatmoko, pengajar Program Pasca Sarjana Bidang Kesehatan Masyarakat University of Derby, Inggris.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Pixabay
ilustrasi puasa Ramadhan 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANCHSTER - Dono Widiatmoko, pengajar Program Pasca Sarjana Bidang Kesehatan Masyarakat University of Derby, Inggris. Bersama seorang istri dan tiga anaknya, kini tinggal di sebuah kompleks dekat dengan Bandara Manchester. Dono menceritakan, di Manchester, semua umat Islam berpuasa lebih lama dibandingkan yang ada di Indonesia.

Pasien Covid-19 Terbangun Setelah Dinyatakan Meninggal, Keluarga Terlanjur Simpan Abu Kremasi

Sejak tahun 2001 bersama keluarganya sudah tinggal di Kota Manchester. Pada 2015 Doni sempat kembali ke Indonesia. Namun di tahun 2019 Dono dan keluarga kecilnya kembali ke Inggris, tepatnya ke kota Manchester. 

Bulan Ramadhan kali ini tiba bertepatan dengan musim panas di Inggris. Yang berarti siang hari di Inggris menjadi 18 jam, atau lebih lama dibanding malam hari."Kami mulai menjalankan ibadah puasa mulai pukul 4.20 waktu Inggris. Waktu Magrib, matahari terbenam sekitar pukul setengah sembilan waktu setempat. Hampir 18 jam kita menjalankan puasa pada siang hari ," Dono menjelaskan.

Berbeda dengan sebelumnya,  Ramadan kali ini Dono dan keluarga juga umat muslim dunia lainnya,  berpuasa di tengah pandemi Covid -19. Inggris salah satu negara dalam kondisi darurat kesehatan karena pandemi tersebut.   Jumlah kasus COVID-19 di Inggris terus bertambah. Bahkan, Perdana Menteri Britania Raya Borish Johnson turut tertular pandemi tersebut.

Kebijakan social distancing dan bekerja serta belajar dari rumah pun resmi berlaku sejak pandemi tersebut terus mengganas. Tak terkecuali untuk kota Manchester.

"Saat Covid-19 ini jadi memang berbeda. Karena kita tidak boleh keluar rumah. Saat ini semua kegiatan hanya bisa dilakukan di rumah saja, kecuali untuk orang-orang yang memang pekerjaannya membutuhkan tetap keluar rumah," kata Dono bercerita.

Menteri Yasonna Digugat ke Pengadilan

Meski demikian, berpuasa di tengah pandemi Covid-19 yang melanda Inggris justru memberikan hikmah tersendiri bagi Dono dan keluarga. Putra pertama dan putri keduanya, yang semula sibuk bekerja dan berkuliah, kini lebih sering berkumpul di rumah. Suasana berpuasa pun dirasa Dono lebih hikmat ketimbang sebelumnya.

Ia dan putranya kini kerap bergantian menjadi imam ketika salat tarawih. Hematnya, Dono dan keluarga kini lebih dekat satu sama lain.  Selain itu, hikmah lain yang didapat Dono yakni kesempatan untuk bisa secara intens berkomunikasi dengan teman-teman dan warga Indonesia sesama muslim lainnya yang berada di Inggris. Komunikasi lebih intens, lanjut Dono, dibangun secara online.

"Sekarang ini, dengan adanya virus corona, kami dengan teman, keluarga dan orang-orang sesama muslim baik di Manchester, di Inggris, maupun di Indonesia jadi lebih dekat. Karena kami semua jadi lebih sering online sekarang," jelas Dono.

Aktifitas yang dibangun Dono dan teman-teman sesama muslim secara online yakni pengajian online.  Melalui pengajian online, lanjut Dono, dirinya bukan hanya jadi lebih dekat dengan teman-teman, tapi juga dengan keluarga di Indonesia. Dono dan keluarga di Indonesia kini dua kali seminggu melakukan pengajian online bersama.

"Yang sebelumnya tidak kami lakukan karena biasanya ketemu langsung saat salat tarawih . Ketemunya biasanya hanya setahun sekali atau dua kali, sekarang pertemuan kami lakukan setiap minggu," katanya. Wabah covid-19, kata Dono, menjadi momentum untuknya mendekatkan diri bukan hanya kepada Allah, tapi juga dengan keluarga di Indonesia.

"Jadi kami merasa lebih dekat sekarang. Ini adalah pengalaman dan kesempatan yang diberikan Allah kepada kita untuk mendekatkan diri bukan hanya pada Allah, tapi juga keluarga dan teman-teman semua," kata Dono menambahkan.

Jumlah Warga yang Nekat Mudik Menurun

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mencatatkan adanya penurunan warga Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi yang ditindak untuk memutar balik kendaraannya saat hendak mudik ke kampung halaman. Diketahui pada hari pertama operasi pelarangan mudik atau Jumat (24/4) lalu, total ada sebanyak 2.112 pengendara yang diminta untuk memutar balik karena ketahuan hendak mudik.

60 Persen Positif Covid-19 Tanpa Gejala

Sementara pada Sabtu (25/4), jumlah pengendara yang diminta untuk memutar balik menurun menjadi sekira 1.300 kendaraan saja. Angka itu terhitung sejak Sabtu sekira pukul 19.00 WIB. "Jadi total 3 ribu lebih selama 2 hari. Penurunan hanya beberapa persen saja dari hari yang kemarin, karena malam minggu ya," kata Yusri.

Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved