Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Opini

Budaya Baru di Tengah Pandemi

Kita semua seakan fokus pada bagaimana mengupayakan sebuah cara baru mengembangkan kebudayaan di tengah pandemi

Editor: David_Kusuma
Istimewa
Dominica Diniafiat 

Penulis: Dominica Diniafiat
- Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia Denpasar - Pegiat Budaya

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Tidak mengherankan bahwa kenyataan yang ada kini sangat memprihatinkan. Kita semua seakan fokus pada bagaimana mengupayakan sebuah cara baru mengembangkan kebudayaan di tengah pandemi. Bahkan kita juga, yang sudah cukup mumpuni dalam memahami kebudayaan, diuji tentang cara mengembangkan sebuah budaya baru. Ya, pandemi Covid-19, tidaklah akan dianggap sebagai penyebab mutlak dari semua fakta saat ini, tapi memang harus kita amini, bahwa hal tersebutlah yang menyebabkan semua berubah. Mari kita lihat sedikit demi sedikit perubahannya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa, interaksi sosial dan kebudayaan akan senantiasa mengalami perubahan berdasarkan perkembangan zaman. Interaksi sosial dan budaya itu akhirnnya harus menyesuaikan dengan perkembangan terkini. Bahkan perubahan-perubahan di segala lini itu, sangat cepat berlangsung ketika dunia berubah, sementara yang lain seperti melambat. Kita pun mengetahui bahwa ada pula perubahan interaksi sosial dan budaya yang terjadi secara tidak direncanakan atau tidak disengaja. Sebut saja, adanya bencana yang memaksa kita harus berpikir dan memutar otak untuk mempertahankan hidup atau berpikir cara mengatasi musibah tertentu yang disebabkan oleh bencana (non alam). Teranyar, pandemi yang kita alami sekarang memang tidak pernah direncanakan, toh tidak direncanakan, kita harus tetap memikirkan bagaimana mengatasinya.

Dengan adanya musibah sebagaimana yang dimaksud, tentu terjadi perubahan besar termasuk dalam hal perubahan kebiasaan hidup dan pola interaksi. Maka dalam salah satu kajian di laman kompas.com, dikatakan bahwa saat ini terdapat sebuah model berinteraksi yang baru yang terjadi pada tatanan sosial. Misalnya dapat disebutkan sebuah fakta bahwa kebiasaan berinterkasi/berkomunikasi yang terjadi secara langsung (face to face), saat ini harus diurungkan, dan memilih komunikasi daring. Hal itulah yang terjadi kini.

Terkait dengan hal itu, hal kedua yang ingin penulis uraikan adalah sebagaimana kita ketahui, saat ini banyak hal atau banyak aspek telah berubah. Misalnya aspek lingkungan di mana aspek ini memerlukan adaptasi pada sebuah kebudayaan yang baru. Adanya budaya yang baru di tengah pandemi ini tentu tampak telah mengubah pola budaya yang biasa. Dan hal tersebut nyata pada semakin dimaksimalkannya media digital saat ini. Bahkan media berbasis ‘daring’ menjadi andalan untuk berkerja. Sadar atau tidak, itu adalah fenomena budaya yang baru.

Di saat yang sama, penyebaran Covid-19 ini tentu menyebabkan turunnya kegiatan ekonomi. Belum lagi sektor keuangan yang tentu saja terpengaruh. Demikian pun tingkat konsumsi menurun. Tak jarang kita temui bahwa gangguan aktivitas bisnis menurunkan juga kinerja bisnis itu, sehingga menyebabkan pemutusan hubungan kerja dan bahkan ada juga perusahaan yang terancam kebangkrutan. Sisi lain yang bisa kita angkat dari perspektif budaya baru di tengah pandemi adalah sebuah fakta yang tidak bisa kita elakkan. Termasuk di dalamnya terdapat sebuah potensi budaya baru yang mulai diandalkan orang demi memerangi pandemi ini.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa platform interaksi sosial digeser, dari yang biasanya menyajikan budaya di atas panggung fisik, menjadi penyajian daring. Entah bentuk seperti apa, tapi tentu hal itu tidak memupus nilai komunal. Tiap orang mengisolasi diri, tapi tidak mengisolasi silaturahmi. Substansi dari komunalitas adalah kesanggupan untuk berbagi, berbuat baik dan bersikap solider. Kita berbagi cerita, berbagi pengalaman hidup, dan tentu berbagi rezeki lewat media daring.

Pendek kata, yang terpenting, dengan optimisme tinggi, kita tetap masih memiliki harapan untuk menciptakan model budaya yang baru yakni dengan potensi diri, dan potensi budaya yang ada. Dengan pandemi Covid-19, mendudukkan kita pada posisi yang tidak prima/tidak maksimal, namun dalam setiap krisis yang mengikuti, selalu ada peluang pula untuk mengikutinya. Toh demikian tidak prima dan tidak maksimal, kondisi sekarang kita masih memiliki ikatan nilai-nilai budaya sebagai wujud kearifan lokal yakni solidaritas sosial. Sadar atau tidak, itu menjadi andalan kita menangkal sebaran Covid-19. Kecenderungan yang memunculkan bahwa penyebaran dan perkembangan Covid-19 ini terus meningkat, harus dilawan dengan aksi-aksi solidaritas yang mampu menembus sekat sosial, ekonomi politik. Hal itu harus digalakkan terus-menerus.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved