Editorial Tribun Manado

Sampah Kota Manado

Mengelola sampah harus dimulai dengan membentuk pola pikir atau paradigma. Setelah itu harus ada pembiasaan hingga warga menjadikannya sebagai budaya.

Istimewa
Wali Kota Manado Vicky Lumentut meninjau TPA Sumompo beberapa waktu lalu 

TRIBUNMANADO.CO.ID - DALAM berbagai kesempatan Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut menyebut Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo segera ditutup. Daya tampung TPA ini sudah tak mampu. Sembari menanti TPA Regional Ilo-ilo di Wori, Minahasa Utara, dibuka, Pemerintah Kota Manado akan mengelola sampah per kecamatan dengan cara dibakar.

Namun, TPA Sumompo tak dapat ditinggalkan begitu saja. Masih banyak sampah yang dibawa ke sana. Bahkan sampah sudah semakin menumpuk hingga dekat gerbang masuk TPA.

Di tengah upaya Pemerintah Kota Manado mengelola sampah perkotaan, tersiar kabar persoalan di TPA bahwa petugas tidak menerima dana bahan bakar sehingga kendaraan dan alat berat tidak beroperasi. Belakangan ada lagi kabar bahwa sejumlah insinerator (pembakar) juga sudah lama tidak dioperasikan.

Wali Kota Manado pantas jengkel atas status “kota terkotor” yang disematkan pemerintah pusat kepada Manado. Citra ini memang sangat mengganggu. Wali Kota berkilah, persoalan sampah muncul saat kota ini dilanda banjir bandang pada 2014 silam. Sisa-sisa bencana, terutama lumpur dan sampah, dibawa ke TPA Sumompo dan membuat daya tampungnya cepat penuh.

Mengelola sampah bukan perkara mudah. Lihat saja Jakarta yang tak lepas dari persoalan ini meski sudah menganggarkan biaya yang sangat besar untuk pengelolaannya. Pemerintah Kota Manado juga pasti merasakan hal ini, apalagi tidak ditunjang dengan kesadaran warga memilah sampah, atau paling tidak membuang sampah pada tempat yang seharusnya.

Bank Sampah, Solusi Terbaik Mengatasi Persoalan Sampah

Baru-baru ini Komisi III DPRD Kota Manado bertandang ke Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, membawa ‘persoalan’ sampah Manado. Pihak Kementerian Lingkungan Hidup menitipkan pesan untuk Pemerintah Kota Manado agar tidak menempatkan insinerator di dekat permukiman karena bahaya pencemaran udaranya. Pihak kementerian juga akan bertandang ke Manado untuk melihat langsung TPA Sumompo yang sudah ‘tak sehat’ bagi warga sekitar.

Sebenarnya sudah banyak solusi yang ditawarkan untuk mengatasi persoalan sampah. Selain budaya memilah dan daur ulang, hal-hal mendasar seperti membuang sampah pada tempatnya, masih menjadi hambatan. Padahal, sudah ada payung hukum untuk memberi efek jera kepada para pembuang sampah sembarang. Sayang, aturan ini belum sepenuhnya dilaksanakan: sekali dilaksanakan, setelah itu hilang dalam waktu lama.

Desember 2019 lalu, Wali Kota menghadiri peresmian Bank Sampah Mandiri Lestari di Paniki Bawah. Bank sampah ini hasil kerja sama dengan PT Pegadaian. Melalui bank sampah ini, warga ‘menabung’ sampah hasil pilahannya dan akan dikonversi dengan emas. Cara yang menarik untuk menggoda warga terlibat dalam pengelolaan sampah.

Legislator Mona Kloer Dukung Rencana Pemkot Manado Tutup TPA Sumompo

Kala itu, Pimpinan Wilayah Pegadaian Kanwil V Manado Zulfan Adam mengatakan, pihaknya ingin mengubah paradigma sampah sebagai sumber masalah menjadi investasi. "Sampah organik bisa diolah jadi kompos, sampah plastik dan kardus bisa dibawa ke bank sampah ditukar emas," katanya saat itu.

Sekali lagi, upaya mengelola sampah harus dimulai dari dasar dengan membentuk pola pikir atau paradigma. Setelah itu harus ada pembiasaan hingga warga menjadikannya sebagai budaya, bahkan gaya hidup. Inilah yang kurang tertanam dalam diri warga, termasuk pada anak-anak.

Jangan heran, anak-anak akan lebih nyaman membuang sampah di selokan atau sungai seperti yang diajarkan orangtua, tetangga, dan teman-temannya. Meskipun banjir selalu datang, tak ada rasa penyesalan atau ‘pertobatan’ karena hal ini bukan budaya.

TPA Sumompo Segera Ditutup, Sampah di Kota Manado Diselesaikan dengan Cara Pembakaran

Kita harus mengambil langkah berani untuk mengatasi persoalan ini. Jangan sampai kita mengikut jejak Jakarta yang sulit lepas dari persoalan sampah. Sikap tak tega juga harus kita singkirkan demi memberi rasa jera bagi pembuang sampah sembarang sekaligus membentuk sikap patuh warga. Percuma rasanya kebanggaan kita pada kota-kota di dunia yang tampak bersih bila daerah atau lingkungan kita penuh sampah.

Jangan sampai sampah memberi masalah bagi kita saat ini dan bagi generasi-generasi berikutnya. (*)

Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved