Jumat, 12 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bisakah Gempa Bumi Diprediksi?

Pada hari Jumat dinihari tanggal 15 November 2019 tepat pukul 00:17:43 WITA terjadi gempa bumi besar yang mengguncang hampir seluruh wilayah Suulut.

Tayang:
Editor:
Istimewa
ILUSTRASI Gempa bumi 

Namun ternyata satu tahun setelah gempa bumi Haicheng, para ahli gagal memprediksi gempa bumi besar yang mengguncang wilayah Tangshan pada tanggal 28 Juli 1976 dengan magnitudo 7,6.

Gempa bumi ini menewaskan hingga 700.000an orang dan menjadi bencana gempa bumi terburuk kedua di dunia.

Selain China, Jepang dan Amerika Serikat juga mengmbangkan penelitian untuk memprediksi gempa bumi yang akan terjadi.

Namun hasilnya sama, Jepang meleset dalam memprediksi gempa bumi Tohoku 2011, sedangkan Amerika Serikat juga tidak pernah berhasil memprediksi gempa bumi yang akan terjadi di jalur sesar San Andreas.

Hinggat saat ini telah banyak metode prediksi gempa bumi yang dikembangkan. Mulai dari perhitungan statistik perulangan kejadian gempa bumi, melihat tanda-tanda alam, hingga melihat keanehan perilaku hewan sebelum gempa bumi. Secara umum, metode-metode tersebut masih jauh untuk bisa dikatakan tepat dalam memprediksi gempa bumi.

Hal ini karena banyak ketidakpastian yang belum bisa diketahui oleh para ilmuwan. Sebagai contoh, keanehan perilaku hewan yang dianggap menunjukkan akan terjadinya gempa bumi bisa saja salah karena hewan juga bisa berperilaku aneh bila mengalami sakit atau terganggu oleh lingkungannya.

Suatu metode dikatakan bisa digunakan untuk memprediksi gempa bumi apabila setiap setelah muncul tanda-tanda tertentu pasti terjadi gempa bumi dan setiap kejadian gempa bumi pasti didahului tanda-tanda tersebut.

Tiga komponen yang harus bisa diprediksi adalah waktu, kekuatan, dan lokasi pusat gempa bumi. Apabila salah satu dari ketiga komponen itu tidak bisa tepat diprediksi maka prediksi yang dilakukan dianggap gagal dan bisa mengakibatkan keresahan masyarakat.

Kesalahan waktu bisa mengakibatkan salah waktu evakuasi masyarakat, misalnya diprediksi 2 hari yang akan datang akan terjadi gempa bumi tapi kenyataannya 3 hari selanjutnya baru terjadi, maka saat masyarakat sudah kembali dari tempat evakuasi malah terjadi gempa bumi.

Sampai saat ini, cara yang paling tepat untuk mengurangi dampak gempa bumi adalah dengan mitigasi gempa bumi. Secara umum, ada dua jenis mitigasi gempa bumi yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.

Mitigasi struktural merupakan upaya pengurangan dampak gempa bumi dengan memperkuat struktur bangunan sehingga saat terjadi gempa bumi bangunan tidak runtuh dan menimpa manusia.

Yang kedua adalah mitigasi non struktural yang merupakan upaya pengurangan dampak gempa bumi dengan mengedukasi masyarakat sehingga masyarakat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi.

Pengetahuan masyarakat tentang gempa bumi juga sebagai penangkal hoax sehingga masyarakat tidak mudah termakan informasi yang tidak jelas asal-usulnya tersebut.(Sesar Prabu Dwi Sriyanto/BMKG-Stasiun Geofisika Manado)

Sumber: Tribun Manado
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved