Jumat, 12 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bisakah Gempa Bumi Diprediksi?

Pada hari Jumat dinihari tanggal 15 November 2019 tepat pukul 00:17:43 WITA terjadi gempa bumi besar yang mengguncang hampir seluruh wilayah Suulut.

Tayang:
Editor:
Istimewa
ILUSTRASI Gempa bumi 

Bisakah Gempa Bumi Diprediksi?

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pada hari Jumat dinihari tanggal 15 November 2019 tepat pukul 00:17:43 WITA terjadi gempa bumi besar yang mengguncang hampir seluruh wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara, bahkan dirasakan hingga Gorontalo dan Buol, Sulawesi Tengah.

Masyarakat melaporkan guncangan gempa bumi ini terasa hingga skala intensitas V MMI di Manado dan Bitung, IV MMI di Gorntalo dan Ternate, serta II MMI di Buol, Sulawesi Tengah.

Skala intensitas V MMI menunjukkan bahwa guncangan di daerah tersebut dirasakan oleh hampir semua penduduk hingga menyebabkan orang yang tertidur menjadi bangun.

Sementara itu, skala IV MMI berarti dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, sedangkan II MMI berarti getaran dirasakan oleh beberapa orang saja.

Gempa bumi yang berpusat di tengah Laut Maluku sekitar 134 km baratdaya Jailolo, Halmahera Barat ini berkekuatan magnitudo 7,1 dengan kedalaman 73 km. Berdasarkan analisis BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), gempa bumi ini termasuk gempa bumi kedalaman menengah yang diakibatkan oleh adanya deformasi atau penyesaran dalam Lempeng Laut Maluku.

Tipe patahan yang terjadi merupakan tipe patahan naik atau thrust fault. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini berpotensi membangkitkan tsunami sehingga BMKG mengeluarkan pesan peringatan dini tsunami untuk pesisir timur Sulawesi Utara dan pesisir barat Maluku Utara dalam status Waspada.

Status waspada ini berarti perkiraan maksimum tinggi tsunami yang mungkin menerjang adalah 0,5 meter. Setelah dilakukan monitoring tinggi permukaan air laut, terdeteksi adanya tsunami kecil yang terekam di Ternate setinggi 0,06 meter pada pukul 00:43 WITA, di Jailolo pada pukul 00:43 WITA dengan tinggi 0,09 meter, dan di Bitung pada pukul 01:08 WITA dengan tinggi 0,1 meter.

Oleh karena diperkirakan tsunami sudah tidak berbahaya bagi masyarakat pesisir, maka pada pukul 02:45 WITA peringatan dini tsunami telah diakhiri.

Kejadian gempa bumi besar seperti ini sangat meresahkan masyarakat. Hal ini terkadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan kabar bohong, atau yang biasa dikenal dengan hoaks.

Seringkali oknum-oknum tersebut menyebarkan kabar akan adanya gempa bumi besar yang bisa menyebabkan kerusakan dahsyat atau tsunami besar tanpa ada dasar ilmiah.

Dampaknya, banyak orang yang melakukan evakuasi dengan meninggalkan rumah dan pekerjaannya sehingga perekonomian pun menjadi lumpuh.

Pada dasarnya, prediksi gempa bumi hingga saat ini belum bisa dilakukan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa prediksi gempa bumi hanya satu kali berhasil dilakukan, yaitu pada tahun 1975 di China.

Pada pertengahan bulan Desember 1974, para ahli memprediksi akan terjadi gempa bumi di wilayah Haicheng, China.

Sekitar 90.000 penduduk berhasil dievakuasi sebelum gempa bumi yang terjadi pada tanggal 4 Februari 1975 dengan kekuatan magnitudo 7,5. Keberhasilan prediksi tersebut membuat para ahli di China terus berusaha memprediksi gempa bumi di waktu yang akan datang.

Namun ternyata satu tahun setelah gempa bumi Haicheng, para ahli gagal memprediksi gempa bumi besar yang mengguncang wilayah Tangshan pada tanggal 28 Juli 1976 dengan magnitudo 7,6.

Gempa bumi ini menewaskan hingga 700.000an orang dan menjadi bencana gempa bumi terburuk kedua di dunia.

Selain China, Jepang dan Amerika Serikat juga mengmbangkan penelitian untuk memprediksi gempa bumi yang akan terjadi.

Namun hasilnya sama, Jepang meleset dalam memprediksi gempa bumi Tohoku 2011, sedangkan Amerika Serikat juga tidak pernah berhasil memprediksi gempa bumi yang akan terjadi di jalur sesar San Andreas.

Hinggat saat ini telah banyak metode prediksi gempa bumi yang dikembangkan. Mulai dari perhitungan statistik perulangan kejadian gempa bumi, melihat tanda-tanda alam, hingga melihat keanehan perilaku hewan sebelum gempa bumi. Secara umum, metode-metode tersebut masih jauh untuk bisa dikatakan tepat dalam memprediksi gempa bumi.

Hal ini karena banyak ketidakpastian yang belum bisa diketahui oleh para ilmuwan. Sebagai contoh, keanehan perilaku hewan yang dianggap menunjukkan akan terjadinya gempa bumi bisa saja salah karena hewan juga bisa berperilaku aneh bila mengalami sakit atau terganggu oleh lingkungannya.

Suatu metode dikatakan bisa digunakan untuk memprediksi gempa bumi apabila setiap setelah muncul tanda-tanda tertentu pasti terjadi gempa bumi dan setiap kejadian gempa bumi pasti didahului tanda-tanda tersebut.

Tiga komponen yang harus bisa diprediksi adalah waktu, kekuatan, dan lokasi pusat gempa bumi. Apabila salah satu dari ketiga komponen itu tidak bisa tepat diprediksi maka prediksi yang dilakukan dianggap gagal dan bisa mengakibatkan keresahan masyarakat.

Kesalahan waktu bisa mengakibatkan salah waktu evakuasi masyarakat, misalnya diprediksi 2 hari yang akan datang akan terjadi gempa bumi tapi kenyataannya 3 hari selanjutnya baru terjadi, maka saat masyarakat sudah kembali dari tempat evakuasi malah terjadi gempa bumi.

Sampai saat ini, cara yang paling tepat untuk mengurangi dampak gempa bumi adalah dengan mitigasi gempa bumi. Secara umum, ada dua jenis mitigasi gempa bumi yaitu mitigasi struktural dan mitigasi non struktural.

Mitigasi struktural merupakan upaya pengurangan dampak gempa bumi dengan memperkuat struktur bangunan sehingga saat terjadi gempa bumi bangunan tidak runtuh dan menimpa manusia.

Yang kedua adalah mitigasi non struktural yang merupakan upaya pengurangan dampak gempa bumi dengan mengedukasi masyarakat sehingga masyarakat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa bumi.

Pengetahuan masyarakat tentang gempa bumi juga sebagai penangkal hoax sehingga masyarakat tidak mudah termakan informasi yang tidak jelas asal-usulnya tersebut.(Sesar Prabu Dwi Sriyanto/BMKG-Stasiun Geofisika Manado)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved