Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tito Ungkap Pengalaman Berat Kapolri: Presiden Beri Waktu Dua Bulan pada Idham Azis

Mantan Kapolri Jenderal (Purnawirawan) Tito Karnavian mengungkapkan pengalamannya, sangat berat menjalankan tugas

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
you tube sekretariat Presiden
Jokowi Mengganti pangkat di pundak Idham Azis saat resmi dilantik jadi Kapolri, Jumat (1/11/2019). 

Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 lalu. Saat itu, Novel baru saja menunaikan shalat subuh di Masjid Al Ihsan, dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Akibat penyiraman air keras ini, wajah Novel terluka parah, dan kini mata kirinya tidak berfungsi melihat. Pengungkapan pelaku penyerangan Novel, menjadi utang Polri, yang selama dua tahun belum terlunasi.

Kabareskrim Polri Komjen Idham Azis dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi Kapolri baru di Istana Negara, Jumat pukul 09.30 WIB. Idham Azis dilantik setelah dinyatakan lolos uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test oleh komisi III DPR RI, Rabu (30/10. Kemudian pada Kamis (31/10), rapat paripurna DPR RI menyetujui penunjukan Idham oleh Presiden.

Posisi Idham Azis menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Purnawirawan Tito Karnavian yang ditunjuk Jokowi menjadi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di Kabinet Indonesia Maju.

Sementara Idham, seusai dilantik menjadi Kapolri, enggan menanggapi pertanyaan soal pengungkapan kasus Novel. Idham memilih langsung pergi meninggalkan wartawan. Kapolri Idham Azis bukanlah orang baru dalam penanganan kasus Novel.

Investigasi kasus Novel Baswedan pernah ditangani Idham saat ia menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya dan masih berpangkat Irjen. Kemudian, saat menjabat sebagai Kabareskrim dan berpangkat Komjen, Idham Azis berperan sebagai penanggung jawab tim teknis kasus Novel yang dibentuk Polri.

Diberitakan sebelumnya, Novel Baswedan dinilai pesimistis. Ia tak berharap banyak Polri bisa mengungkap kasus penyerangan terhadapnya. Namun ia mengaku masih memiliki harapan terkait penuntasan kasus penyiraman air keras yang dialaminya.

Dia bahkan cenderung pesimistis. Itu karena Kapolri baru, Komjen Idham Azis, adalah mantan Kabareskrim yang gagal mengungkap kasusnya. "Kalau bicara harapan, haruslah punya harapan, cuman kan sekarang kan Pak Idham kan sudah berapa lama jadi Kabareskrim. Beliau diam saja, beliau bukannya enggak tahu harusnya," ungkap Novel di kampus Universitas Negeri Jakarta, Jakarta Timur, Kamis (31/10).

Meski pesimistis, Novel mengaku akan tetap mendorong Idham mengungkap dan menuntaskan kasusnya. "Meski saya katakan sedikit agak pesimis, sedikit kecewa, tapi tetap mendesak kepada Pak Idham tetap punya tanggung jawab sebagai Kapolri untuk mengungkap," kata Novel berharap.

Ia menuturkan, tak hanya terhadap kasusnya, Ia juga mendesak Idham menyelesaikan segala serangan terhadap pegawai KPK. "Ini bukan saja seorang diri saya, bayangkan semua serangan kepada orang KPK enggak ada yang terungkap. Sampai yang ada CCTV-nya yang buktinya jelas nggak terungkap, terus mau yang mana lagi," kata dia.

Program prioritas Kapolri Jenderal Idham Azis:

1. Dalam hal pembangunan sumber daya manusia unggul, sudah sesuai dengan program lima tahun pemerintahan Jokowi Ma'ruf.

2. Memantapkan pemeliharaan keamanan dan ketertiban nasional.

3. Penguatan penegakan hukum dan pemantapan manajemen media, penguatan sinergi kepolisisan, penataan kelembagaan dan peningkatan pengawasan. Mari kita bersama-sama bergandengan tangan untuk membuat situasi Indonesia ini aman. (Tribun Network/wgp/fik/sen/gle, kompas.com)

Kapolri Jenderal Idham Azis juga memiliki tujuh program prioritas:

1. Pembangunan sumber daya unggul
2. Memantapkan pemeliharaan keamanan nasional
3. penguatan penegakan hukum
4. Pemantapan manajemen media
5. Penguatan sinergi kepolisian
6. Penataan kelembagaan
7. Peningkatan pengawasan

Harta Kekayaan Rp 5,5 Miliar
Laporan harta kekayaan penyelenggara negara, Idham Azis melaporkannya kepada KPK pada tanggal 31 Desember 2018 saat menjabat sebagai Kepala Bareskrim Polri. Hartanya berjumlah Rp 5,5 miliar dengan perincian:

- Tanah dan Bangunan: Rp 3.458.937.000
- Alat Transportasi dan Mesin: Rp 730.000.000
- Harta Bergerak Lainnya: Rp 490.000.000
- Kas dan Setara Kas: Rp 834.871.813
- Jumlah Harta Kekayaan: 5.513.808.813

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved