Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pariwisata di Sulawesi Utara, Bintang Bersinar dari Timur

Pertumbuhan sektor pariwisata di Sulawesi Utara pesat. Hal ini membuat Sulut menyabet predikat The Rising Star Tourism Indonesia

Penulis: Finneke Wolajan | Editor: Finneke Wolajan
Tribun Manado/Finneke Wolajan
Sunset di Kota Manado 

Menopang itu pemerintah ditafsir akan mengucurkan anggaran triliun rupiah. Tapi itu tak sebanding dengan potensi devisa yang bakal dihasilkan. KEK Likupang diprediksi mampu memberikan kontribusi devisa sebesar Rp 22,5 triliun pada 2030.

Hal ini disampaikan Gubernur ketika menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata III Tahun 2019 di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Rabu (11/09/2019).

Rakornas tersebut digelar oleh Kementerian Pariwisata dengan sejumlah kementerian dan lembaga untuk membahas pengembangan lima destinasi super prioritas, yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo setelah rapat terbatas pada 15 Juli 2019.

Selain itu, nantinya di KEK Likupang akan dikembangkan resort, akomodasi, fasilitas hiburan dan MICE. Di luar area KEK, akan dikembangkan pula Wallace Conservation Center dan Yacht Marina.

Sering investasi tersebut, jumlah tenaga kerja terserap diperkirakan mencapai 65.300 orang. Berdasarkan dari perhitungan, pengembangan KEK Likupang diprediksi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara sebesar 162 ribu orang pada 2025.

Jumlah tersebut berkontribusi sekitar 16 persen dari target yang ditetapkan oleh Gubernur Sulawesi Utara, yaitu 1 juta wisatawan mancanegara pada 2025.

Menurut rencana, KEK Likupang akan dikembangkan dalam tiga tahap. Pembangunan tahap I akan dibangun seluas 92,89 hektare dengan kurun waktu tiga tahun (2020- 2023).

Target investor yang akan masuk pada tiga tahun pertama tersebut adalah Maestro & Partners melalui pembangunan luxury resort senilai Rp 357 miliar, Sejuta Rasa Carpedia akan membangun beach club senilai Rp 307 miliar.

Lalu, Dune World akan membangun luxury dive resort senilai Rp 50 miliar, dan Artha Prakarana akan membangun nomadic resort senilai Rp 36 miliar

Adapun, dalam rakornas itu Gubernur Olly membahas Sulut masuk lima destinasi super prioritas. Selain Sulut dengan Likupang, ada Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo.

Saat ini kelima destinasi super prioritas tersebut sedang dalam proses pengembangan intrastruktur yang ditargetkan selesai pada tahun 2020.

Gubernur Olly menjelaskan posisi Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang pasifik yang menunjang pertumbuhan sektor pariwisata Sulut. Olly menerangkan gambaran umum posisi Sulut secara geografis, geoposisi dan geostrategi.

Menurutnya, Sulut sangat trategis karena berada di bagian utara Indonesia. Di samping itu, Olly memaparkan pengembangan strategi pariwisata Sulut dengan konsep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Pariwisata yang berkelanjutan ini bisa dipenuhi jika dapat memenuhi sejumlah syarat, yaitu people atau peningkatan SDM, potensi wisata harus disiapkan, partnership atau kemampuan menggalang segala relasi dan place atau Sulut sebagai tempat yang tolerannya tinggi sehingga menarik orang berkunjung.

“Pariwisata maju, rakyat dan daerah harus ikut menikmati dampaknya. Kita harus melakukan lompatan besar jauh ke depan. Melakukan itu semua harus bersama,” tandas Olly.

Olly juga menerangkan keberhasilan upayanya untuk mendatangkan wisatawan mancanegara yang didominasi negara Tiongkok ke Sulut dengan memberikan berbagai kemudahan berbagai persyaratan seperti pengurusan visa bebas, operasional Bandara Sam Ratulangi 24 jam non stop, peningkatan status kantor bea cukai dan ketersediaan hotel dan SDM yang bisa berbahasa mandarin.

Benahi Destinasi Wisata dan SDM

Sektor pariwisata sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian suatu negara, apa lagi saat ini perekonomian nasional sedang mengalami defisit neraca perdagangan atau transaksi berjalan akibat sektor eksport Indonesia sedikit mengalami kelesulitan.

Ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang belum begitu baik maka sektor pariwisata akan sangat menjadi andalan dalam perekonomian Indonesia termasuk sulut. Demikian Pengamat Ekonomi Sulawesi Utara, Robert Winerungan.

Secara umum sektor pariwisata akan meningkatkan permintaan khususnya konsumsi selain itu akan akan meningkatkan eksport jasa dan tentunya yang secara signifikan akan meningkatkan devisa negara.

Jokowi Nikmati Keindahan Taman Laut Bunaken
Jokowi Nikmati Keindahan Taman Laut Bunaken (Istimewa/Instagram@Jokowi)

Peranan sektor pariwisata secara nasional akan semakin penting sejalan dengan perkembangan dan kontribusi yang diberikan melalui penerimaan devisa, dan tentunya terhadap pendapatan di daerah tempat kunjungan wisata dan pasti akan mendorong peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja serta pengembangan usaha di sektor pariwisata.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan nasional seperti naiknya tingkat hunian hotel dan restoran, sektor angkutan, industri kerajinan dan lain-lain. Multiplier effectnya pariwisata dapat dan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Secara umum sektor pariwisata akan meningkatkan usaha-usaha pariwisata seperti transportasi, akomodasi, restoran, perusahaan jasa dan logistik. Selain peningkatan devisa, sektor pariwisata akan berdampak pada adanya pengembangan objek wisata di mana akan berpengaruh pada perekonomian masyarakat sekitar.

“Pengembangan objek wisata tentunya sangat berhubungan dengan investasi serta berkontribusi pada pendapatan di daerah termasuk PAD” ujar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Manado ini.

Saat ini turis Tiongkok makin mendominasi wisatawan di Sulawesi Utara, dan ini merupakan peluang dan prospektif untuk pengembangan sektor pariwisata. Tiongkok merupakan penduduk terbanyak di dunia dan jika objek wisata di Sulawesi utara makin berkembang dan makin baik maka pasti orang tiongkok akan makin menyukai berwisata di Sulawesi Utara.

“Ini merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah Provinsi dan Kabupaten kota untuk terus memacu untuk mengembangkan sektor pariwisata di Sulawesi Utara,” ujarnya.

Pengamat Pariwisata Sulawesi Utara Oktavianus Lintong menganalisa dua hal yang harus dibenahi, yakni destinasi dan pengembangan SDM.

Kepala Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Manado ini mengatakan, destinasi utama masih tetap Bunaken. Sehingga tahun 2019 ini perlu fokus benahi Bunaken.

"Terapkan prinsip ekowisata sepenuhnya untuk destinasi ini. Sudah waktunya memerhatikan carrying capacity kawasan ini. Infrastruktur dibenahi dengan memperhatikan konservasi," ujarnya.

Selanjutnya, semua pelaku pariwisata harus tersertifikasi tour guide, dive guide, operator, bahkan sampai dengan pelayan restoran harus memenuhi standar kualifikasi kompetensi dan pelayanan untuk tourism. "Ini untuk standar pelayanan, kenyamanan, dan safety untuk wisata bahari," jelasnya. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved