Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pariwisata di Sulawesi Utara, Bintang Bersinar dari Timur

Pertumbuhan sektor pariwisata di Sulawesi Utara pesat. Hal ini membuat Sulut menyabet predikat The Rising Star Tourism Indonesia

Penulis: Finneke Wolajan | Editor: Finneke Wolajan
Tribun Manado/Finneke Wolajan
Sunset di Kota Manado 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pagi yang cerah bagi Wena Regar, seorang pria yang berprofesi sebagai instruktur selam (diving) asal Manado, Sulawesi Utara. Seperti biasa, Wena mulai mempersiapkan diri untuk memulai pekerjaannya pagi itu.

Langit begitu biru, matahari masih malu-malu menyembul. Namun Wena sudah harus bergegas. Hari itu ia akan mengantar wisatawan untuk menyelam di Bunaken, destinasi wisata andalan di Sulawesi Utara.

Sejak pariwisata Sulawesi Utara terbuka untuk turis asal Tiongkok, daerah yang berbatasan langsung dengan Filipina ini langsung dipenuhi turis asal Cina. Tak hanya dari Cina sebenarnya, wisatawan mancanegara maupun nusantara juga turut meningkat.

Sebagai pelaku wisata khususnya bawah laut, Wena merasakan dampak dari perkembangan pariwisata ini. Ia sering mengantar tamu untuk sekadar fun dive di Bunaken, atau bahkan yang memang ingin mengambil izin (license) menyelam dari instruktur jebolan PADI ini. “Ya memang ada peningkatan dari sebelumnya,” kata Wena.

Wisman Tiongkok bersantai di UKM Jendela Indonesia Manado beberapa waktu lalu.
Wisman Tiongkok bersantai di UKM Jendela Indonesia Manado beberapa waktu lalu. (Fernanado Lumowa/tribun manado)

Peningkatan jumlah wisatawan ini tenttu berdampak pada perekonomian Wena secara pribadi. Makin ia banyak pekerjaan, makin banyak pula pendapatannya. Apalagi harga untuk wisatawan mancanegara jauh lebih tinggi dari wisatawan nusantara.

“Kalau mau dibilang perbandingan dengan wisawatan dari Barat, entah karena memang mereka berkuran. Atau karena turis Cina banyak sekali, sehingga jumlah wisatawan dari Barat itu terlihat sedkit,” katanya.
Wena memang tak hanya bekerja di wilayah Sulawesi Utara saja. Ia juga mendapat banyak panggilan di luar daerah seperti Lombok maupun Raja Ampat Papua.

Pemandu wisata alam bawah laut lainnya Jilly Jacqueline juga merasakan hal yang sama. Gadis berusia 25 tahun ini juga mendapat dampak dari meningkatkan wisatawan di Sulawesi Utara. Meski ia mengatakan tak merasakan dampak yang terlalu siginifikan. “Pasti kelihatan soal jumlah wisatawan di sini. Tapi memang untuk perbandingan dengan sebelumnya, tidak terlalu signifikan juga. Karena tergantung musim juga,” katanya.

Pedagang di pasar buah-buahan di Kawasan Boulevard Manado turut mendapat imbas meningkatnya sektor pariwisata Sulawesi Utara. Setiap hari turis Cina datang memberi jualan pada pedagang. Makin ramai dari sebelumnya, makin banyak pendapatan para pedagang.

Bahkan para pedagang sudah tahu sedikit Bahasa Mandarin, untuk berkomunikasi dengan turis Cina yang membeli dagangan mereka. Paling tidak menurut John, salah seorang pedagang, mereka tahu dasar-dasar dalam transaksi. Seperti jumlah satuan dan harga dalam Bahasa Mandarin. “Bahasa kami sudah mulai terbiasa,” katanya.

John bersyukur, jumlah wisatawan yang membludak di Sulawesi Utara bisa ia dan pedagang lainnya rasakan. Kawasan pasar buah ini tak pernah sepi. “Kalau perbandingan dengan sebelumnya memang signifikan ya. Kami merasa sangat terbantu,” katanya.

Pesatnya perkembangan pariwisata di Sulawesi Utara berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari kelompok paling kecil seperti pemandu wisata, pedagang buah, sopir, perhotelan, rumah makan, transportasi, hingga untuk pemerintah daerah Sulawesi Utara sendiri.

Data dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, pertumbuhan ekonomi Sulut mencapai 6,23 persen atau di atas rata-rata nasional. Satu di antara faktor yang mendukung capaian ini yakni sektor pariwisata. Pesatnya pertumbuhan ekonomi ini karena didukung besarnya spending money wisatawan mancanegara di Sulut yang bisa mencapai rata-rata Rp 15 juta per wisman dan Rp 5 juta juta per wistawan nusantara.

Hal ini membuat Provinsi Sulawesi Utara dinobatkan sebagai The Rising Star sektor pariwisata Indonesia oleh Kementerian Pariwisata RI tahun 2019. Hal ini karena mampu mendorong pertumbuhan kinerja pariwisatanya hingga 600 persen dalam empat tahun terakhir.

Destinasi wisata di Sulawesi Utara memang komplit. Dari bawah laut hingga puncak gunung, ada di daerah Nyiur Melambai ini. Bunaken menjadi andalan, destinasi ini menjadi ikon wisata. Namun sebenarnya Sulawesi Utara tak hanya punya Bunaken.

Spot wisata bawah laut berada di banyak titik seperti Minahasa Utara dan Bitung. Pantai pasir putih yang tak kalah dengan Bali ada Pantai Pulisan, Pulau Siladen, Pulau Nain, Pulau Lihaga dan lainnya. Jika ingin wisata pegunungan, ada Kota Tomohon yang menawarkan destinasi wisata pegunungan dengan pemandangan alam yang menakjubkan.

Pulau Lihaga
Pulau Lihaga (ISTIMEWA)

Sulut tahun ini memiliki tiga event unggulan masuk dalam 100 Wonderful Event 2019 yakni Festival Pesona Bunaken, Tomohon International Flower Festival, dan Festival Pesona Selat Lembeh. Di samping itu, tahun 2019 Sulut mengelar 14 event unggulan di 15 kota dan kabupaten se-Sulut. Pergelaran seperti ini pun menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan untuk lebih mengenal budaya di Sulawesi Utara.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan pariwisata Sulawesi Utara khususnya Kota Manado memiliki pertumbuhan tertinggi, dalam empat tahun terakhir yakni tumbuh sebesar 6 kali lipat atau 600 persen. Sehingga layak mendapat penghargaan sebagai The Rising Star.

“Dalam 4 tahun kunjungan wisman ke Sulut meningkat 6 kali lipat. Begitu juga pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dari sekitar 2 juta menjadi 4 juta atau dua kali lipat, 200 persen, padahal di daerah lain hanya sekitar 5 sampai 10 persen,” kata Arief Yahya.

Turis Tiongkok Mendominasi

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara, Jumlah kunjungan wisman selama tahun 2017 merupakan yang tertinggi dalam periode lima tahun, sejak 2013 yaitu sebesar 79.377 kunjungan. Tahun 2013:19.917 wisman, 2014: 17.279, 2015: 19.465, 2016: 40.624.

Melonjaknya wisatawan pada tahun 2017 tersebut menjadi langkah awal gema pariwisata di daerah Nyiur Melambai ini. Segala upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk meningkatkan jumlah wisman yang datang ke Sulawesi Utara membuahkan hasil. Capaian 2017 naik 95,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Wisman Tiongkok bersantai di Jendela Indonesia Manado belum lama ini.
Wisman Tiongkok bersantai di Jendela Indonesia Manado belum lama ini. (Tribun Manado/Fernando Lumowa)

Tahun 2018, jumlah wisatawan makin naik, yakni 124.830 turis mancanegara. Kepala Dinas Pariwisata Sulut, Daniel Mewengkang mengatakan, jumlah tersebut melampaui target yang ditetapkan sebanyak 115.826 turis. Sementara capaian wisatawan nusantara mencapai 1,9 juta orang. "Di banding tahun 2017 ada kenaikan hingga 56.48 persen kunjungan wisatasan asing di 2018," ujarnya.
Adapun target Dispar Sulawesi Utara di tahun 2019 adalah 150.000 wisman dan 2 juta wisatawan nusantara.

Sementara untuk jumlah wisatawan mancanegara yang mengunjungi Sulawesi Utara pada semester I tahun 2019 sudah mencapai 61. 930 orang, sesuai data BPS Sulut. Pemerintah tetap optimis akan mencapai bahkan melampaui target 150 ribu wisawatan mancanegara. Apalagi menjelang akhir tahun ini, wisatawan makin melonjak di Sulawesi Utara.

Sejak tahun 2016 turis tiongkok masih mendominasi dan jauh di atas wisman dari negara lainnya seperti Amerika, Australia, Jerman, Belanda dan negara lainnya. Kepala BPS Sulut, Dr Ateng Hartono mengatakan, turis Tiongkok sangat dominan karena program kerja sama penerbangan langsung dari sejumlah kota di Manado. "Fenomena ini berlangsung sejak tahun 2016 lalu. Sejak ada program penerbangan carter, angka wisman Tiongkok langsung melonjak," ujar Ateng.

Upaya Pemprov Sulut Bangun Pariwisata

Pesatnya pertumbuhan pariwisata yang memberi efek domino pada sektor ekonomi di Sulawesi Utara tak lepas dari tangan dingin Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw. Kerja keras keduanya membuat Sulawesi Utara menjelma jadi daerah The Rising Star Tourism.

Dalam waktu beberapa tahun terjadi pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara hingga 600 persen Gubernur Olly Dondokambey berkisah seluk beluk upayanya demi memajukan pariwisata Sulut, ketika menjamu para pimpinan Grup Tribun di rumah pribadinya, Desa Kolongan, Minahasa Utara, Sulut, Sabtu (13/07/2019).

"Sekarang ini kami tak lagi promosi wisata, soalnya nanti bandara macet. Banyak yang datang Bandara yang sekarang nggak cukup menampung, " kata Olly.

Sebab itu, Presiden Joko Widodo datang langsung cek Bandara Sam Ratulangi di Sulut. Presiden langsung memerintahkan perluasan Terminal Bandara agar bisa menampung 6 juta penumpang, lalu runaway ditambah lebih panjang untuk pesawat berbadan besar.

 Gubernur Olly Dondokambey ketika mengunjungi bakal KEK Pariwisata, Likupang,  Minahasa Utara
 Gubernur Olly Dondokambey ketika mengunjungi bakal KEK Pariwisata, Likupang,  Minahasa Utara (Istimewa)

Mengurus pariwisata, sebenarnya triknya mengatasi regulasi menghambat. Contohnya Imigrasi. Penerbangan mancanegara itu butuh pelayanan petugas imigrasi, ini ranahnya Menkumham. Kemudian, Bea Cukai.

Dulu Kanwil Bea Cukai hanya ada di Makassar, sekarang di Sulut punya Kanwil Bea Cukai Sulbagtara. Lalu, perhubungan menyangkut perizinan rute penerbangan.

Semua tuntas, pariwisata lancar. Olly mengakui, melancarkan lobi-lobi, kebetulan ia punya banyak teman dan kenalan, semasa dari Anggota DPR RI dulu. "Nggak ada orang hebat sendiri, orang jadi hebat karena punya banyak teman," kata Ketua DPD PDIP Sulut ini.

Lobi-lobi, dan atasi hambatan regulasi itu langkah sesudahnya. Siapa sangka booming pariwisata ini diawali kisah lumba-lumba dan captikus.

Mamalia laut, dan minuman keras tradisional Minahasa ini rupanya punya peran penting. Gubernur Olly sampai ketawa ketika mengisahkannya. Olly mengatakan, ia belum jadi Gubernur saat itu, sekitar tahun 2015.

Duduk ngobrol ngopi dengan pakar marketing, diskusi membangun Sulut ketika menjadi gubernur nanti. Jawabannya ketemu, ternyata paling gampang pariwisata. "Sasarannya Tiongkok, lagi punya banyak uang, dan warganya senang bepergian, " ungkap dia.

Satu kali terintislah sebuah jalan. Ketemu pengusaha asal Cina namanya Wiliam. Gubernur Olly pun menjamu rombongan Cina yang pertama kali datang ke Sulut. "Diajak makan di Restoran City Ekstra, kemudian diajak ke Bunaken, " kata dia.

Mungkin kebetulan, atau memang sudah jalannya Tuhan. Di tengah laut muncul lumba-lumba bermain di sekitar kapal yang ditumpangi
"Turis Cina ini rupanya senang, mereka foto-foto. Terus saya sampaikan saja, di Sulut ini memang begini, banyak lumba-lumba, " ujar Mantan Anggota DPR RI ini tertawa.

Lain lumba-lumba, lain lagi captikus. Menguatkan kearfian lokal maka Olly menawarkan minuman captikus. Merasa tertantang, para turis diminum saja captikus itu, rupanya kunjungan itu berkesan. Sampai diliput media Cina. Maka kemudian datang lagi rombongan berikutnya.

Peluang terbuka, Februari 2016 dilantik, Gubernur bergerak cepat langsung urus kerjasama dengan travel, hingga melobi Owner Lion Air, Rusdy Kirana. "Pak Rusdi ini bantu juga, Pak Gubernur mau pesawat apapun dikasih tapi izin urus sendiri," ungkapnya.

Izin belum ada, tapi tiket sudah terjual, penerbangan perdana bahkan sudah ditentukan jadwalnya, 3 Juni 2016 sampai Mei 2016, izin penerbangan belum juga keluar.

Lobi ke Menteri Perhubungan ketika itu Ignasius Jonan masih mentok, bahkan sepekan jelang penerbangan perdana izin tak kunjung keluar. Gubernur langsung melancarkan lobi ke Presiden Jokowi. "Presiden langsung telepon Menteri Ijo (Ignasius Jonan)," kata dia.

Singkat kata, izin akhirnya keluar. Penerbangan perdana sukses. Lion Air bahkan membuka rute penerbangan di 8 kota di Cina, tak hanya charter flight, bahkan reguler flight. Pariwisata Sulut, booming kunjungan wisatawan Cina.

Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Likupang

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang, Minahasa, Sulawesi Utara , telah disetujui Dewan Nasional KEK. Kawasan KEK ini akan segera disulap infrastrukturnya. Gubernur Sulut, Olly Dondokambey mengatakan, pemerintah pusat menganggarkan Rp 100 miliar untuk pembenahan infrastruktur pelabuhan di sekitar kawasan Likupang.

Jokowi Tinjau Lokasi KEK Likupang
Jokowi Tinjau Lokasi KEK Likupang (Istimewa)

Itu belum termasuk proyek Jalan Bandara-Likupang, lalu proyek infrastruktur strategis lainnya yang dikerjakan di Sulut yaitu perluasan Bandara Internasional Sam Ratulangi, jalur kereta api Manado-Bitung, jalan tol Manado-Bitung, Manado Outer Ring Road III dan TPA Regional.

Menopang itu pemerintah ditafsir akan mengucurkan anggaran triliun rupiah. Tapi itu tak sebanding dengan potensi devisa yang bakal dihasilkan. KEK Likupang diprediksi mampu memberikan kontribusi devisa sebesar Rp 22,5 triliun pada 2030.

Hal ini disampaikan Gubernur ketika menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Nasional Pariwisata III Tahun 2019 di Swissotel Jakarta PIK Avenue, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Rabu (11/09/2019).

Rakornas tersebut digelar oleh Kementerian Pariwisata dengan sejumlah kementerian dan lembaga untuk membahas pengembangan lima destinasi super prioritas, yang telah ditetapkan Presiden Joko Widodo setelah rapat terbatas pada 15 Juli 2019.

Selain itu, nantinya di KEK Likupang akan dikembangkan resort, akomodasi, fasilitas hiburan dan MICE. Di luar area KEK, akan dikembangkan pula Wallace Conservation Center dan Yacht Marina.

Sering investasi tersebut, jumlah tenaga kerja terserap diperkirakan mencapai 65.300 orang. Berdasarkan dari perhitungan, pengembangan KEK Likupang diprediksi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulawesi Utara sebesar 162 ribu orang pada 2025.

Jumlah tersebut berkontribusi sekitar 16 persen dari target yang ditetapkan oleh Gubernur Sulawesi Utara, yaitu 1 juta wisatawan mancanegara pada 2025.

Menurut rencana, KEK Likupang akan dikembangkan dalam tiga tahap. Pembangunan tahap I akan dibangun seluas 92,89 hektare dengan kurun waktu tiga tahun (2020- 2023).

Target investor yang akan masuk pada tiga tahun pertama tersebut adalah Maestro & Partners melalui pembangunan luxury resort senilai Rp 357 miliar, Sejuta Rasa Carpedia akan membangun beach club senilai Rp 307 miliar.

Lalu, Dune World akan membangun luxury dive resort senilai Rp 50 miliar, dan Artha Prakarana akan membangun nomadic resort senilai Rp 36 miliar

Adapun, dalam rakornas itu Gubernur Olly membahas Sulut masuk lima destinasi super prioritas. Selain Sulut dengan Likupang, ada Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo.

Saat ini kelima destinasi super prioritas tersebut sedang dalam proses pengembangan intrastruktur yang ditargetkan selesai pada tahun 2020.

Gubernur Olly menjelaskan posisi Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang pasifik yang menunjang pertumbuhan sektor pariwisata Sulut. Olly menerangkan gambaran umum posisi Sulut secara geografis, geoposisi dan geostrategi.

Menurutnya, Sulut sangat trategis karena berada di bagian utara Indonesia. Di samping itu, Olly memaparkan pengembangan strategi pariwisata Sulut dengan konsep pembangunan pariwisata yang berkelanjutan.

Pariwisata yang berkelanjutan ini bisa dipenuhi jika dapat memenuhi sejumlah syarat, yaitu people atau peningkatan SDM, potensi wisata harus disiapkan, partnership atau kemampuan menggalang segala relasi dan place atau Sulut sebagai tempat yang tolerannya tinggi sehingga menarik orang berkunjung.

“Pariwisata maju, rakyat dan daerah harus ikut menikmati dampaknya. Kita harus melakukan lompatan besar jauh ke depan. Melakukan itu semua harus bersama,” tandas Olly.

Olly juga menerangkan keberhasilan upayanya untuk mendatangkan wisatawan mancanegara yang didominasi negara Tiongkok ke Sulut dengan memberikan berbagai kemudahan berbagai persyaratan seperti pengurusan visa bebas, operasional Bandara Sam Ratulangi 24 jam non stop, peningkatan status kantor bea cukai dan ketersediaan hotel dan SDM yang bisa berbahasa mandarin.

Benahi Destinasi Wisata dan SDM

Sektor pariwisata sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian suatu negara, apa lagi saat ini perekonomian nasional sedang mengalami defisit neraca perdagangan atau transaksi berjalan akibat sektor eksport Indonesia sedikit mengalami kelesulitan.

Ditambah lagi dengan daya beli masyarakat yang belum begitu baik maka sektor pariwisata akan sangat menjadi andalan dalam perekonomian Indonesia termasuk sulut. Demikian Pengamat Ekonomi Sulawesi Utara, Robert Winerungan.

Secara umum sektor pariwisata akan meningkatkan permintaan khususnya konsumsi selain itu akan akan meningkatkan eksport jasa dan tentunya yang secara signifikan akan meningkatkan devisa negara.

Jokowi Nikmati Keindahan Taman Laut Bunaken
Jokowi Nikmati Keindahan Taman Laut Bunaken (Istimewa/Instagram@Jokowi)

Peranan sektor pariwisata secara nasional akan semakin penting sejalan dengan perkembangan dan kontribusi yang diberikan melalui penerimaan devisa, dan tentunya terhadap pendapatan di daerah tempat kunjungan wisata dan pasti akan mendorong peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja serta pengembangan usaha di sektor pariwisata.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan nasional seperti naiknya tingkat hunian hotel dan restoran, sektor angkutan, industri kerajinan dan lain-lain. Multiplier effectnya pariwisata dapat dan mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Secara umum sektor pariwisata akan meningkatkan usaha-usaha pariwisata seperti transportasi, akomodasi, restoran, perusahaan jasa dan logistik. Selain peningkatan devisa, sektor pariwisata akan berdampak pada adanya pengembangan objek wisata di mana akan berpengaruh pada perekonomian masyarakat sekitar.

“Pengembangan objek wisata tentunya sangat berhubungan dengan investasi serta berkontribusi pada pendapatan di daerah termasuk PAD” ujar Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Manado ini.

Saat ini turis Tiongkok makin mendominasi wisatawan di Sulawesi Utara, dan ini merupakan peluang dan prospektif untuk pengembangan sektor pariwisata. Tiongkok merupakan penduduk terbanyak di dunia dan jika objek wisata di Sulawesi utara makin berkembang dan makin baik maka pasti orang tiongkok akan makin menyukai berwisata di Sulawesi Utara.

“Ini merupakan peluang dan sekaligus tantangan bagi pemerintah daerah Provinsi dan Kabupaten kota untuk terus memacu untuk mengembangkan sektor pariwisata di Sulawesi Utara,” ujarnya.

Pengamat Pariwisata Sulawesi Utara Oktavianus Lintong menganalisa dua hal yang harus dibenahi, yakni destinasi dan pengembangan SDM.

Kepala Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Manado ini mengatakan, destinasi utama masih tetap Bunaken. Sehingga tahun 2019 ini perlu fokus benahi Bunaken.

"Terapkan prinsip ekowisata sepenuhnya untuk destinasi ini. Sudah waktunya memerhatikan carrying capacity kawasan ini. Infrastruktur dibenahi dengan memperhatikan konservasi," ujarnya.

Selanjutnya, semua pelaku pariwisata harus tersertifikasi tour guide, dive guide, operator, bahkan sampai dengan pelayan restoran harus memenuhi standar kualifikasi kompetensi dan pelayanan untuk tourism. "Ini untuk standar pelayanan, kenyamanan, dan safety untuk wisata bahari," jelasnya. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved