Breaking News:

Klasterisasi Perguruan Tinggi

Sistem Klaster Perguruan Tinggi, Akademisi Unika De La Salle Soroti Peran Hakiki Kampus

Praktisnya, lanjut doktor filsafat lulusan Belgia ini, mengejar predikat tersebut akan bermuara pada usaha mengejar status.

ISTIMEWA
2 Mahasiswa Unsrat yang Sedang KKT di Lokasi TMMD di Kabupaten Kepulauan Talaud. 

Dia mengapresiasi beberapa PTS yang mampu bersaing dengan PTN dan berada pada klaster 2.

Baca: Unsrat Masuk 27 PT Terbaik: Politeknik Negeri Manado Urutan 11

Baca: Terkait Kebijakan Klaster Perguruan Tinggi, Begini Tanggapan Edino Lomban

Pemeringkatan PT pada tahun 2019 ini berfokus pada indikator yang berbasis output-outcome base, yakni dengan melihat kinerja masukan dengan bobot 40 persen yang meliputi kinerja input (15 persen) dan proses (25 persen), serta kinerja luaran dengan bobot 60 persen yang meliputi kinerja output (25 persen) dan outcome (35 persen).

Penambahan indikator baru tersebut merupakan upaya agar PT dapat secara aktif merespons perkembangan zaman, terutama revolusi industri 4.0 dan kebutuhan tenaga kerja.

"Dengan perubahan penilaian kinerja perguruan tinggi dari tahun-tahun sebelumnya, diharapkan perguruan tinggi didorong untuk lebih menekankan produk atau luaran pendidikan tinggi yang berkualitas yaitu dengan pemberian bobot output yang lebih besar dari bobot input," ujar Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Patdono Suwignjo.

Menanggapi klasterisasi tersebut, Valentino Lumowa, akademisi Universitas Katolik De La Salle Manado, menyebut beberapa hal yang harus direnungkan kembali terkait tujuan hakiki pendidikan.

Pertama, sistem klaster perguruan tinggi Indonesia semakin ramai dijadikan sebagai solusi alternatif pengembangan kualitas PT di Indonesia. Namun, yang perlu dianalisis dan dikritisi adalah tujuan hakikinya.

“Dalam pandangan Kemenristekdikti, tujuannya tak lain adalah mengejar status world class university. Tujuan ini sangat instrumental dan tidak mewakili semangat kesetaraan akses pendidikan tinggi bagi manusia Indonesia,” kata dia.

Baca: Unima Masih Berupaya Pacu Indikator Penilaian Klasterisasi

Baca: Fase Industry 4.0 Menjadi Alasan Rencana Rektor Impor

Praktisnya, lanjut doktor filsafat lulusan Belgia ini, mengejar predikat tersebut akan bermuara pada usaha mengejar status.

Lagipula, tujuan instrumental ini tidak menjamin bahwa PT dengan status itu terlibat secara langsung dalam pembangunan bangsa.

“Paradigma world class university seharusnya diganti dengan paradigma yang lebih hakiki, yaitu universitas yang membangun bangsa dan mencerdaskan rakyat Indonesia. Klasterisasi seharusnya menjawab tantangan konstitusional ini, yaitu menjadi palungan kebenaran, membantu pembangunan, dan mencerdaskan bangsa,” tekannya.

Halaman
123
Penulis:
Editor: maximus conterius
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved