Tajuk Tamu

dr Ardiansa Tucunan MKes : Sampah sebagai Resonansi Politik Permisif

Sebuah kota tidak akan lepas dari persoalan lingkungan baik secara sosial, ekonomi, kultural, politik dan ekologis.

dr Ardiansa Tucunan MKes : Sampah sebagai Resonansi Politik Permisif
TRIBUNMANADO/ALEXANDER PATTYRANIE
Ilustrasi - Erni Hamit (49) pemulung di TPA Sumompo, Manado 

dr Ardiansa Tucunan MKes
* Staf Pengajar pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsrat Manado

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebuah kota tidak akan lepas dari persoalan lingkungan baik secara sosial, ekonomi,
kultural, politik dan ekologis.

Semua komponen tersebut saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri-sendiri, karena mereka mempunyai pengaruh multifaktorial dalam memberikan dampak luar biasa bagi eksistensi dari sebuah lingkungan urban.

Salah satu persoalan besar yang dihadapi setiap kota di Indonesia adalah sampah.

Hal ini sudah menjadi sebuah kelaziman, khususnya di kota-kota di Indonesia, di mana persoalan tentang sampah tidak pernah selesai karena manajemen di banyak kota di Indonesia sangat buruk dalam
pengelolaannya.

Banyak persoalan yang melilit di balik ketidakmampuan manajemen sampah di kota-kota, salah satu di antaranya adalah persoalan politik yang menjadi bagian terkuat dari upaya membuat kota menjadi clean and green city.

Pemerintah yang baik, tentu saja akan melihat persoalan ini dari sudut pandang good governance, bukan hanya sekedar menyenangkan pihak-pihak tertentu.

Tidak bisa tidak, masyarakat dan komponen pemerintah mengabaikan hal ini hanya untuk posisi bargaining sebagai tujuan memainkan upaya simbiosis mutualisme, dengan mengabaikan aspek ekologis.

Maksud saya adalah, pemerintah kota cenderung mengabaikan persoalan sampah karena kepentingan politis, yaitu membuat masalah sampah tidak diatasi karena ingin menyenangkan masyarakat sebagai pemilih untuk mendapat suara dalam pilkada.

Masyarakat yang tidak peduli dan jumlahnya banyak bermukim di wilayah perkotaan cukup menarik minat para politisi untuk mendapat suara, dengan cara membiarkan masyarakat berperilaku seenaknya saja untuk membuat suasana psikologis dalam masyarakat seolah mereka dilindungi oleh pemerintah dan merasa mendapat dukungan dari perbuatan yang mereka lakukan.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Fransiska_Noel
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved