Menjabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat
”Mengusahakan Kesejahteraan Kota“
Banyak orang berpikir bahwa usaha mensejahterakan kota adalah kewajiban pemerintah dan kaum legislatif saja.
MTPJ 4 – 10 Agustus 2019
TEMA BULANAN : “Peran Gereja Dalam Menghadirakan Tanda-tanda Kerajaan Allah“
TEMA MINGGUAN :”Mengusahakan Kesejahteraan Kota“
BACAAN ALKITAB : Yeremia 29:1-14
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Banyak orang berpikir bahwa usaha mensejahterakan kota adalah kewajiban pemerintah dan kaum legislatif saja. Itu sebabnya banyak yang hanya menjadi penonton dan tukang kritik dalam usaha mensejahterakan kota.
Sejahtera adalah suatu keadaan yang menggambarkan adanya hidup yang aman, makmur dan tenteram. Jadi usaha mensejahterakan kota bukan hanya tanggungjawab pihak tertentu saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama dengan segenap elemen bangsa, termasuk warga gereja dalam panggilan iman untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, dalam bentuk ketentraman, kemakmuran dan rasa aman.
Kota yang sejahtera akan memiliki angka pengganguran minim, kejahatan berkurang dan angka kemiskinan makin kecil. Ini dapat dicapai bila ada kwalitas hidup yang suka bekerja keras dan mengembangkan sikap saling menghormati dan menghargai serta menjaga nilai-nilai budaya, politik, keamanan, hak asasi manusia, toleransi dan relasi-relasi yang baik dalam interaksi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Sekitar tahun 598 SM, raja Nebukadnezar mengangkut raja Yehuda, yaitu Yoyakhin dan sebagian besar penduduk Yerusalem, termasuk tua-tua, para imam dan nabi-nabi ke dalam pembuangan di Babel. Dari antara mereka yang tidak diangkut ke Babel dan tertinggal di Yerusalem, terdapat seorang nabi Allah yang masih muda, anak imam Hilkia dari Anatot di tanah Benyamin bernama Yeremia. Ia mengirimkan surat kepada orang Yerusalem dalam pembuangan, melalui utusan Zedekia, raja Yehuda, kepada raja Nebukadnezar di Babel (ay 1-3).
Rakyat Yerusalem di pembuangan dingatkan bahwa mereka berada di Babel karena kehendak Allah, karena itu mereka jangan menyia-nyiakan kesempatan selama mereka menjalani hidup dan berkiprah di negeri buangan itu.
Walaupun keberadaan mereka di Babel adalah konsekwensi dari cara hidup yang tidak setia dan taat kepada Allah, namun Babel telah menjadi tempat tinggal. Karena itu mereka didorong untuk hidup secara normal, membangun rumah tempat tinggal, membentuk hidup berkeluarga, bertambah banyak dan berusaha sungguh-sungguh mengolah alam yang dianugerahkan Tuhan bagi mereka serta mengusahakan kesejahteraan atau kemakmuran kota dimana Tuhan Allah menempatkan mereka.
Walaupun pemerintah Babel tidak mengenal Allah dan penyembah berhala, namun selama raja masih memberi perlindungan terhadap rakyat Yerusalem di negeri itu, maka sikap loyal mereka harus terus dinampakkan melalui perilaku hidup yang menghormati pimpinan, menjaga ketertiban, memelihara ketenangan dan menciptakan kesejahteraan. Bahkan mereka harus mendoakan kota tempat mereka berpijak atau melakoni hidup sehari-hari, sebab untuk sementara waktu kesejahteraan penduduk Yerusalem bergantung pada kemakmuran Babel (ay 4-7)
Di Babel, rakyat Yerusalem dapat leluasa beraktifitas, tapi kerinduan mereka akan tanah perjanjian tidak dapat dihapus. Kembali ke Yerusalem adalah sebuah harapan tentang pembebasan yang besar dan issu ini tidak dapat ditiadakan.
Namun dalam usaha meraih harapan akan pembebasan, umat diingatkan supaya tidak mudah percaya dan jangan menaruh harap kepada para nabi, tukang tenung dan juru mimpi Babel, yang memberi ajaran palsu dan menyesatkan serta penghiburan semu mengenai tahun pembebasan itu kian mendekat.
Sebab Tuhan Allah merancangkan bangsa Yehuda akan berada di Babel selama 70 tahun, kemudian kembali ke tanah perjanjian. Tujuh puluh tahun adalah masa didikan Allah bagi umat yang telah berdosa, supaya mereka sadar dan bertobat serta kembali hidup sebagai umat yang mengakui Tuhan Allah dalam segala aspek kehidupan mereka (ay 8-11).
Pembuangan di Babel menjadi ladang pembentukan ketaatan dan kesetiaan umat Allah, supaya mereka mendapatkan kembali identitas dan jatidiri mereka sebagai umat dan bangsa pilihan. Dengan demikian, maka rancangan Tuhan bagi penduduk Yerusalem yang terbuang, umat kepunyaan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, yaitu pengharapan akan keselamatan kekal di dalam Tuhan.
Rancangan damai sejahtera dari Tuhan Allah, akan direalisasikan-Nya setelah genap 70 tahun umat tertawan di Babel dan ketika kaum yang sisa itu bersungguh-sungguh dan tulus hati mencari Allah, maka Tuhan Allah akan mendengar serta menjawab doa-doa syafaat umat. Pemulihan dan keselamatan dari Allah akan menjadi bagian umat-Nya (ay 12-14).
Makna dan Implikasi Firman
Tuhan Allah menginginkan umat-Nya terbebas dari berbagai belenggu sosial, ekonomi, budaya dan politik yang menyimpang dari kehendak Allah, supaya dapat memiliki hak hidup dengan martabat yang berkeadilan dan sejahtera, tanpa mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya untuk kesejahteraan kota.