Mengabarkan Trilogi Pembangunan Jemaat
Keluarga yang Diberkati
Kata keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga “kulawarga”: artinya “anggota”, “kelompok kerabat”.
MTPJ 2 – 8 Juni 2019
TEMA BULANAN : “Keluarga Sebagai Pangkalan Misi”
TEMA MINGGUAN : “Keluarga yang Diberkati”
BACAAN ALKITAB: Mazmur 128:1-6
ALASAN PEMILIHAN TEMA
Kata keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga “kulawarga”: artinya “anggota”, “kelompok kerabat”. Keluarga adalah lingkungan beberapa orang yang memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial yang terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan, ikatan, kewajiban dan tanggungjawab diantara individu tersebut.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat, satu atap dan saling ketergantungan yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang tentram, aman, damai sejahtera dan diberkati dalam suasana cinta kasih sayang diantara anggotanya. Keluarga Kristen adalah persekutuan hidup individu yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi serta sebagai miniatur dari keluarga gereja.
Kemajuan dan kemunduran hidup berkeluarga sangat berpengaruh terhadap organisasi gereja dan negara. Bila keluarga dalam keadaan sehat dan baik akan menentukan suatu organisasi gereja, masyarakat dan bangsa; begitu pula sebaliknya jika keluarga rusak akan berdampak pada kerukunan dan kesatuan jemaat dan masyarakat. Karena itu tema minggu ini adalah Keluarga Yang Diberkati.
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Exegese)
Mazmur (Ibr. tehillim: tahlil atau puji-pujian); Septuaginta (Yun. psalmoi: nyanyian yang diiringi alat musik gesek atau petik). Kitab Mazmur dipakai sebagai buku nyanyian dan doa dalam ibadat Yahudi, juga sebagai respons para imam dan umat-Nya terhadap karya penyelamatan dan penyataan Allah dalam sejarah.
Khusus Mazmur 128, termasuk jenis nyanyian Ziarah artinya “nyanyian kenaikan”, nyanyian pendakian atau anak-anak tangga/tingkatan: dimana umat yang akan beribadat di Bait Suci Yerusalem dalam merayakan hari-hari raya, biasanya menyanyikan mazmur-mazmur ini di perjalanan atau dalam arak-arakan memasuki Rumah Allah. Kata Ziarah berarti merefleksikan kembali atau retreat.
Mazmur ini, dalam tradisi Yahudi digunakan sebagai doa keluarga ketika umat merayakan paskah dalam lingkungan keluarga (Keluaran 12) dan perjamuan keluarga yang dibuka dengan ucapan syukur.
Dimana ibadah keluarga merupakan tulang punggung kehidupan keagamaan mereka. Bagi masyarakat Israel sesudah pembuangan, keluarga adalah fondasi atau dasar yang berfungsi sebagai pusat ekonomi, sosial dan pusat agama. Mazmur ini juga disebut mazmur kebijaksanaan yang melukiskan tentang keindahan hidup seorang suami (bapa) yang hidup menurut kehendak Tuhan, sehingga ia menerima berkat di dalam keluarganya.
Ayat 1, kata berbahagialah (Ibrani. ‘esher; Inggris. blessed: diberkati secara fisik maupun rohani. Takut (Ibrani. Yirah: hormat; kepatuhan/ketaatan pada Tuhan). Secara Alkitabiah, takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran (kemahakuasaan Tuhan), otoritas dan kekudusan.
Takut akan Tuhan adalah wujud ketakutan yang sehat dan sadar yang dampaknya menjadikan lebih dekat dengan Tuhan. Dengan demikian ia akan menuruti jalan dan kehendak Tuhan. Jalan (Ibrani. derek: melekat pada Tuhan supaya bisa dituntun-Nya). Cara hidup yang berbahagia adalah orang yang menghormati Tuhan dan menaruh hidupnya di bawah pemerintahan-Nya untuk mengikuti jalan yang ditunjukkan-Nya.
Ayat 2, hasil jerih payah (Ibrani. ygiya: hasil usaha, pekerjaannya). Berbahagialah: menunjuk pada suatu yang berkecukupan, berbahagia bukan karena kemakmuran tetapi berkecukupan dan baik keadaannya yaitu (sehat jasmani/ rohani), dan sejahtera. Artinya apa yang dinikmati sesungguhnya adalah berkat sukacita dan ucapan syukur. Umat akan menjadi makmur dan berhasil dalam usaha dan pekerjaan. Hasil usaha dan berbahagialah sangat erat dengan ketaatan yang mendatangkan sejahtera.
Ayat 3, Isteri diibaratkan sebagai pohon anggur yang subur (pohon yang dipelihara dengan baik dan diberi pupuk), dimana perannya untuk menghadirkan sukacita dan kebahagiaan dalam keluarga.
Isteri yang bijak mengelola berkat, mendidik dan mendoakan keluarga. Anak-anak seperti tunas pohon Zaitun, yang mudah berkembang dan memberikan minyak pada waktunya (bnd. Kejadian. 49:22), anak yang sehat dan bernilai. Zaitun melambangkan daya hidup yang berkelanjutan. Anggur dan minyak adalah dua lambang tentang berkat Allah yang tak terhalangi. (Bnd Ulangan 8:8). Menjadi seperti tunas pohon Zaitun yaitu anak yang berharga di mata Tuhan dan manusia ketika ia hidup takut akan Tuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/renungan_20180619_113201.jpg)