Warga Jepang Terbanyak Masuk DPT Pemilu

Pengecekan faktual 103 data Warga Negara Asing (WNA) yang diduga masuk ke Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu serentak 2019

Warga Jepang Terbanyak Masuk DPT Pemilu
Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin
Ketua KPU Cianjur Hilman Wahyudi, Rabu (27/2/2019). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pengecekan faktual 103 data Warga Negara Asing (WNA) yang diduga masuk ke Daftar Pemilih Tetap (DPT) pemilu serentak 2019 sudah paripurna dilakukan. Dari 103 data yang diberikan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), KPU menemukan 101 WNA. Dua nama WNA yang lain disinyalir terdata ganda.

Hasilnya, Jepang menjadi negara dengan WNA pemilik e-KTP terbanyak yang masuk ke DPT, yaitu sebanyak 18 orang. Menyusul selanjutnya WNA dari Belanda sebanyak 9 orang, dan di urutan ketiga WNA dari Amerika Serikat, Malaysia, dan Swiss yang masing-masing berjumlah 7 orang.

Komisioner KPU Viryan Aziz mengatakan data-data WNA yang masuk dalam DPT itu sudah ditindaklanjuti yaitu dengan melakukan pencoretan. "Sudah dicoret semua karena yang bersangkutan masuk kategori TMS (tidak memenuhi syarat)," kata Viryan.

Berikut rincian persebaran 101 WNA dari 29 negara yang dicoret dari DPT Pemilu 2019: 18 WNA dari Jepang, 9 WNA dari Belanda, 7 WNA masing-masing dari Amerika Serikat, Malaysia, dan Swiss. Sementara itu, 5 WNA masing-masing dari Inggris dan Jerman. China, Filipina, Korea Selatan, dan Australia menyumbangkan masing-masing 4 WNA. Ditambah lagi 3 WNA dari Bangladesh dan Singapura, 2 WNA dari Taiwan, Thailand, Kanada, Italia dan Prancis. Sisanya, Afrika Selatan, Maulitius, Tanzania, India, Pakistan, Vietnam, Polandia, Portugal, Spanyol, Turki, dan Yunani masing-masing 1 WNA.

Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Rahmat Bagja mengatakan keberadaan 103 data Warga Negara Asing ( WNA) di Daftar Pemilih Tetap ( DPT) diduga muncul pada saat proses pencocokan dan penelitian DPT. Ada kemungkinan, petugas coklit sulit membedakan antara e-KTP milik WNA dengan milik WNI, karena e-KTP keduanya hampir sama.

Pembedanya adalah, e-KTP WNA menggunakan Bahasa Inggris, sementara e-KTP WNI menggunakan Bahasa Indonesia. "Temuan sekarang kemungkinan dari coklit atau pendaftaran pemilih update. Mungkin juga dari panitianya, karena KTPnya kan hampir sama, tapi warga negara beda," kata Bagja.

Hal serupa juga diungkap oleh Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh. Menurut Zudan, masuknya data WNA ke DPT Pemilu dipastikan bukan berasal dari data kependudukan yang dimiliki oleh Dukcapil.

Seperti diketahui, Dukcapil menghimpun Daftar Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4). DP4 digunakan sebagai rujukan KPU dalam menyusun DPT pemilu. "Dalam rapat (KPU, Dukcapil, Bawaslu) kemarin tanggal 4 (Maret), staf KPU mewakili KPU menyatakan bahwa masuknya WNA dalam DPT tidak bersumber dari DP4 Pilpres 2014, DP4 Pilkada 2015, DP 4 Pilkada 2018, DP4 Pilpres 2019," ujar Zudan.

Sebelumnya, Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyerahkan 103 data WNA pemilik e-KTP yang masuk ke Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019, ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu. Data tersebut diperoleh dari pencermatan yang dilakukan tim teknis Ditjen Dukcapil. (Tribun Network/dan/kps/wly)

Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved