Rabu, 8 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Elektabilitas Jokowi Melonjak: SMRC Sebut Kepuasan 73 Persen

Lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis elektabilitas Jokowi mencapai 60 persen, jauh melampaui Prabowo

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Jokowi Prabowo 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis elektabilitas Jokowi mencapai 60 persen, jauh melampaui Prabowo Subianto yang berada di angka 29 persen.

Selain itu hasil survei menunjukkan 73 persen responden puas terhadap kinerja Jokowi sejak dilantik menjadi presiden pada 20 Oktober 2014.

"Yang merasa puas pada kinerja Jokowi sebagai presiden sekitar 73,4 persen jauh lebih banyak dibanding yang merasa tidak puas," kata Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, di kantor SMRC, Menteng, Jakarta, Minggu (7/10).

Kepuasan terhadap kinerja pemerintah Jokowi ikut meningkatkan elektabilitasnya. Faktor yang dapat mengubah tren elektabilitas calon presiden terutama adalah penilaian pemilih atas kondisi ekonomi, politik, penegakan hukum, dan keadaan keamanan.

"Dengan ukuran ini, posisi Jokowi lebih baik, dan kemungkinan berpeluang untuk menang dalam pilpres," terang Djayadi.

Survei dilakukan pada 1.074 responden yang diwawancarai secara valid. Margin eror pada survei ini sekitar 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen (asumsi simple random sampling). Waktu wawancara dilakukan 7-14 September 2018.

Djayadi Hanan, suara dukungan Jokowi naik dari 57 persen (Mei 2018) menjadi 60 persen. "Sementara Prabowo Subianto turun dari 33,2 persen (Mei) menjadi 28,7 persen," kata Djayadi.

Ia mengatakan hasil survei yang menunjukan tren kenaikan menjadi penting sebagai indikasi pada hari H (Pilpres 2019). "Dari pengalaman tiga kali pemilihan presiden, calon yang suara dukungannya naik dan unggul terus sulit dikalahkan di hari H," ujar dia.

Jokowi
Jokowi (kolase Sripoku.com)

Meski hasil tersebut menunjukan optimisme bagi kubu Jokowi untuk mempertahankan kursi kepresidenan 2019, ia mengatakan ada beberapa faktor yang dapat mengubah tren.

Hasil survei lainnya, 71 persen responden menyatakan yakin pada kemampuan Jokowi memimpin Indonesia.
"Yang merasa puas 73,4 persen, rinciannya sangat puas 9,7 persen dan cukup puas 63,7 persen. Sementara yang kurang puas 22,6 persen, tidak puas 2,8 persen, dan TT/TJ (tidak tahu/tidak jawab) 1,2 persen," kata Djayadi Hanan.

Mengenai hasil survei tingkat keyakinan atas kemampuan Jokowi untuk memimpin, sebanyak 71,4 persen merasa yakin, sedangkan responden yang tidak yakin 23,2 persen.

"Rinciannya, sangat yakin 13,3 persen, cukup yakin 58,1 persen. Sementara yang merasa tidak yakin, rinciannya kurang yakin 20,3 persen dan yang tidak yakin sama sekali 23,2 persen," katanya.

Djayadi membandingkan dengan tren elektabilitas Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan tren elektabilitas Jokowi. Keduanya memiliki kesamaan sebagai capres dengan atau tanpa petahana dalam pilpres.

Pada Pilpres tahun 2004 dan 2014, SBY dan Jokowi sama-sama bukan capres pertahana, namun keduanya punya tren elektabilitas unggul atas lawannya hingga menang. Begitu juga pada 2009 dan 2019, Jokowi dan SBY sama-sama capres petahana.

"SBY mengakhiri dengan kemenangan pada 2009. Bagaimana Jokowi pada 2019? Kalau melihat pola tren dukungan pada SBY yang sukses pada 2009, Jokowi punya peluang serupa," katanya. (tribunnetwork/rin)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved