Selasa, 2 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Stigma Buruk Kaum Petani, Catatan Peringatan Hari Tani Nasional 24 September

Tidak heran bila presiden pertama kita Ir Soekarno pernah berkata bahwa “Soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa”.

Tayang:
Ist
Anggota TNI turut membantu para petani menanam padi. 

Oleh:
Henry Roy Somba ST
Pelaku Usaha Pertanian

ADA stigma negatif yang selama ini terbangun di masyarakat kita bahwa menjadi petani adalah profesi yang paling rendah dan tidak bergengsi. Sesuai data yang saya peroleh bahwa Indonesia kehilangan 1 juta petani setiap tahun.

Fenomena ini sangat memprihatinkan karena banyak orang yang berusaha menghindari profesi ini, bahkan orang tua pada umumnya berusaha menyekolahkan anak-anaknya hanya karena tidak menginginkan keturunannya memiliki profesi sebagai petani.

Sejauh ini sejak mengeluti usaha di bidang pertanian sekaligus menggerakkan masyarakat untuk kembali melirik usaha pertanian melalui beberapa organisasi kemasyarakatan, saya mengamati bahwa pada umumnya petani tidak memiliki “mindset” yang baik terhadap profesi mulia ini.

Profesi petani dianggap sebagai pekerjaan yang kotor, rendah dalam strata sosial, dan tidak memiliki masa depan.

Baca: Pengamat Ekonomi: Pemerintah jangan Abaikan Sektor Pertanian dan Perikanan

Padahal apa yang dia hasilkan dari kegiatan bercocok tanam ini adalah produk-produk yang diburu orang setiap hari yang merupakan sumber kehidupan manusia sehingga tidak heran bila presiden pertama kita Ir Soekarno pernah berkata bahwa “Soal pangan adalah soal hidup matinya bangsa”.

Melihat fenomena terus berkurangnya masyarakat yang bekerja di sektor pertanian membuat negara kita terancam akan ketersediaan kebutuhan pangan nasional di masa yang akan datang.

Saya sendiri memiliki disiplin ilmu yang bertolak belakang dengan pertanian yaitu sebagai arsitek yang akhirnya jatuh cinta dengan pertanian dan menjalankan usaha di bidang ini sampai sekarang karena melihat potensi yang menjanjikan dari usaha ini.

Tahun 2017 ada sebuah program jenius pemerintah kita untuk regenerasi petani melalui Kementerian Pertanian dan saya salah satu anak muda yang sempat mengikuti program ini. Tapi, sayangnya, programnya seperti tidak ada tindak lanjut padahal ini merupakan sebuah kebijakan yang menurut saya sangat strategis untuk menciptakan petani-petani baru dengan mindset pengusaha yang berorientasi kelembagaan.

Sehingga, menurut hemat saya, output dari program ini dapat membantu sektor pertanian kita untuk semakin bergairah dan mampu mengantisipasi fakta hilangnya profesi petani setiap tahun.

Baca: Dorong Program Ketahanan Pangan, TNI Menggerakan Babinsa Bantu Petani

Memang harus diakui bahwa masalah pertanian itu sangat kompleks, salah satunya juga yaitu berkurangnya lahan pertanian sebagai dampak pembangunan daerah.

Namun yang pasti, bila sumber daya manusia di sektor ini masih tersedia dan secara kontinyu dibekali dengan pengetahuan yang mumpuni maka masalah ketersediaan lahan tidak akan menjadi masalah serius oleh karena teknologi pertanian hari ini memungkinkan kita memproduksi produk hasil pertanian dalam jumlah besar sekalipun di lahan sempit (pertanian vertikultur).

Bagi beberapa negara yang memiliki cuaca ekstrem seperti Islandia yang didominasi dengan turunnya salju tentu memiliki keterbatasan untuk bertani meskipun teknologi telah memungkinkan dalam kondisi alam seperti apapun termasuk fenomena di beberapa negara yang tidak memiliki PH tanah yang ideal untuk bercocok tanam.

Bahkan ada negara yang sedang sakit kepala memikirkan ketersediaan pangan negaranya dan terus berpikir untuk mencari solusi agar memiliki ketersediaan pangan yang cukup bagi warganya, sementara kita yang memiliki potensi besar sering mengabaikan sektor ini.

Lebih mencengangkan lagi ada beberapa negara harus mengambil kebijakan menyewa lahan pertanian di negara lain hanya untuk mencukupi kebutuhan makan masyarakatnya.

Baca: Olly Perkenalkan Varietas Kelapa Baru Andalan Sulut, Namanya ‘ODSK Lobu’

Bersyukur di Indonesia terbentang lahan pertanian yang luas dan subur namun masih perlu dimaksimalkan agar sumber daya alam yang kita miliki ini dapat menjadi lahan yang produktif untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia.

Usaha di bidang pertanian itu sangat menjanjikan oleh karena hasil dari kegiatan usaha ini adalah produk kebutuhan sehari-hari. Namun dalam pelaksanaannya harus bisa menerapkan teknologi modern yang tepat guna, agar biaya produksi dapat ditekan seperti penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) dan penerapan manajemen usaha yang baik dan benar karena prinsip usaha apapun itu harus menguntungkan (profitable).

Usaha pertanian bisa fokus di sektor budidaya atau bisa juga sambil membuat produk setengah jadi bahkan produk olahan hasil pertanian yang banyak dicari masyarakat agar keuntungan dari kegiatan usaha ini bisa lebih besar lagi.

Dewasa ini sudah ada usaha berplatform digital untuk memasarkan hasil pertanian ketika melihat kecenderungan masyarakat kita untuk mendapatkan kebutuhannya secara mudah dan cepat.

Inovasi dan kreativitas melakukan usaha di bidang ini sangat diperlukan bila ingin sukses sebab setiap pengusaha harus mampu membaca keinginan pasar secara detail sehingga usaha di bidang pertanian dapat terus berjalan. Usaha di sektor pertanian dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat luas sehingga bisa berkontribusi terhadap pembangunan secara umum. (*)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved