Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pengakuan Terbaru Fence Solambela yang Bunuh Anak Kandungnya, Kapolres Sudah Curiga Sejak Awal

Kapolres Minahasa, AKBP Christ Pusung sudah menduga bahwa pelaku pembunuhan Daud Solambela merupakan orang terdekat korban.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
Fence Solambela 

Orley Charity Sualang, psikolog, mengatakan bentuk agresi emosional dalam tindakan yang dilakukan oleh sang ayah terhadap anaknya. Terdapat beberapa faktor yang bisa membuat seseorang melakukan pembunuhan.

Pertama adalah stressor sosial ekonomi atau keluarga yang punya ekonomi rendah. Kedua adalah disorganisasi sosial atau kurangnya pengendalian diri dalam mengontrol reaksi agresi.

Faktor yang ketiga adalah budaya kekerasan yang biasanya seseorang terbentuk dalam lingkungan. Kekerasan tinggi atau mengalami kekacauan sosial serta kurang memiliki nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga.

Sedangkan faktor yang keempat adalah tidak memiliki nilai spritual yang baik. Baik si pelaku maupun sang ibu dari korban butuh penanganan.

Bagi si pelaku butuh penanganan psikis seperti rehabilitasi khusus melalui konseling untuk mengetahui motifnya. Setelah motif diketahui barulah dilakukan penanganan.

Sedangkan untuk sang ibu sangat membutuhkan penanganan traumatis. Di sini peran keluarga sangat dibutuhkan, karena sang ibu tidak hanya kehilangan satu anggota keluarga tapi dua. Selain itu, rasa benci terhadap sang suami juga harus diperhatikan jangan sampai membentuk kepahitan dalam hati.

Pelajaran buat Kita

Kasus bocah Daud Solambela (7) tengah jadi buah bibir di masyarakat Sulawesi Utara. Banyak orang masih bertanya kenapa ayah kandung tega membunuh anaknya.

“Miris ketika membaca berita ayah membunuh anaknya sendiri. Apalagi hanya karena masalah sepele,” kata kata Natasya Permatasari, Rabu (15/8/2018).

Menurutnya, sebesar apapun masalah yang terjadi, sebaiknya jangan langsung gelap mata. “Sebagai ibu muda merasa sedih ketika membayangkan kejadian tersebut. Ketika anak yang dilahirkan dengan penuh perjuangan harus tewas mengenaskan di tangan ayahnya sendiri,” kata perempuan kelahiran Manado, 15 Maret 1995.

Dikatakannya, kejadian itu memberikan pelajaran bagi semua orangtua termasuk dia. “Sayangilah anak kita, karena anak itu adalah titipan dari Tuhan dan berkat dalam keluarga. Didiklah anak-anak dengan bijak, serta tegur mereka dengan kasih saat mereka melakukan kesalahan, dan berdoalah senantiasa agar keluarga kita selalu dalam lindungan Tuhan dan dijauhkan dari segala bahaya,” sebut perempuan yang berprofesi make up artis ini.

Keluarga dan Jenazah Daud Solambela
Keluarga dan Jenazah Daud Solambela (TRIBUNMANADO/ARTHUR ROMPIS)

Menyesal si Bocah Pintar Itu Telah Tiada

Kasus kematian Daud Solambela (7) memberikan banyak pelajaran bagi publik.

Di balik pengungkapan kasus kematian anak kedua Keluarga Solambela-Taniowas ini ada banyak cerita di masyarakat hingga tim penyidik.

Kasus yang menyita perhatian publik ini pun langsung ditangani Kapolres AKBP Christ Pusung dibantu Kasat Reskrim AKP Frengky Ruru.

“Jadi, usai ibadah pemakaman kita lakukan penangkapan dan diinterogasi. Pelaku yang adalah ayah kandung (korban) yang melakukan perbuatan ini,” kata Kasat Reskrim kepada tribunmanado.co.id, Rabu (15/8/2018).

Kejadian meninggalnya bocah yang dikenal pandai dan rajin beribadah ini sempat memunculkan banyak spekulasi dan ramai di media sosial seperti Facebook. Banyak netizen yang penasaran.

Sekira tiga hari, Polres Minahasa berhasil mengungkap kasus kematian bocah Sendangan ini. Sang tesangka ternyata ayah kandung.

Fence Solambela (45) tampak bingung saat dihadirkan penyidik pada konferensi pers di Mapolres Minahasa, Rabu (15/8/2018). Kapolres Christ Pusung mengatakan, tersangka membunuh anak kandungnya menggunakan pisau.

Nasi telah jadi bubur. Kini Capsu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Ia telah diamankan di Mapolres Minahasa.

Capsu mengaku bahwa ia yang telah melakukan aksi pembunuhan itu. Kendati sehari sebelumnya, sang ayah belum mau mengaku.

“Saya melakukan perbuatan (membunuh) karena emosi. Dalam keadaan sadar tanpa mabuk, saya menyesali perbuatan saya,” katanya. (fer/nie/chi)

Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved