Pengakuan Terbaru Fence Solambela yang Bunuh Anak Kandungnya, Kapolres Sudah Curiga Sejak Awal
Kapolres Minahasa, AKBP Christ Pusung sudah menduga bahwa pelaku pembunuhan Daud Solambela merupakan orang terdekat korban.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor:
Misteri kematian Daud Solambela (7) terungkap. Bocah asal Desa Sendangan, Kecamatan Kakas, Kabupaten Minahasa dihabisi ayahnya, Fence Solambela (45). Motif pembunuhan itu hanya lantaran tersangka marah korban pulang dari bermain sudah sore hari.
Terungkapnya si pembunuh Daud memunculkan rasa penasaran di kalangan masyarakat. Mereka tak menyangka Capsu, sapaan tersangka, setega itu terhadap darah dagingnya.
Penatua Arvia Kamagi, tante korban, tidak menyangka pelaku pembunuhan adalah ayah Daud. “Daud adalah ponakan saya. Tidak menyangka terjadi seperti ini. Kenapa bisa jadi seperti ini. Dia anaknya tidak nakal, Bahkan, dia anak dengar-dengaran, tega sekali,” kata Arvia kepada tribunmanado.co.id, Rabu (15/8/2018).
Deimer Waroka, warga sekampung dengan Daud, juga kaget mendengar Fentje, ayah kandung yang dikenal sosok rohani setega itu. “Tidak menyangka bapak sendiri bertindak sebejat itu pada anak. Kami mengira pelakunya yang lain ternyata bapaknya sendiri,” kata Deimer.
Suasana berkabung terlihat di rumah duka di Sendangan. Keluarga tak habis pikir Fence adalah pelaku pembunuhan almarhum. Terlihat sanak saudara dan kerabat silih berganti mendatangi rumah duka.
Ibu Daud, Windi Taniowas masih berat menerima kenyataan itu. Ia tak sanggup menerima musibah dan cobaan keluarganya. “Tolong jangan dulu diwawancarai dalam keadaan begini. Sekali lagi tolong ya,” kata anggota keluarga.
Natan, rekan sebaya Daud sangat kehilangan. “Daud itu setia kawan dan sangat baik,” kata Natan. Di dalam kelas, Daud selalu nomor satu dalam menyelesaikan tugas. Bahkan, ia sering diajari pelajaran oleh Daud. “Kalau saya tidak mengerti biasanya Daud yang kasih mengerti pelajaran,” katanya.
Begitu juga dengan Rafi. Ia kehilangan teman bermainnya. Mereka tak menyangka bahwa pelaku adalah ayah dari Daud.
Fence mengaku emosi hingga menganiya anaknya sampai meninggal. “Terlanjur emosi,” katanya saat konferensi pers Kapolres Minahasa, AKBP Christ Pusung soal kasus pembunuhan pada Minggu (12/8/2018) di Sendangan, Rabu kemarin. Fence mengaku bersalah atas tindakan itu. “(Merasa) bersalah. Menyesal,” jawabnya.
Kata dia, tak ada persoalan dengan istri. Tindakan itu spontan dilakukannya saat emosi. “Perasaan emosi,” jawabnya. Usai menikam korban, dia mengaku tak mengecek lagi nadi anaknya itu. Soal uang Rp 200 ribu yang sempat dikabarkan hilang, dia menyangkalnya. “Itu kata istri saya,” ucap dia. Dia mengaku menyesali perbuatannya dan terus menangis atas kejadian itu.
Baca: Ini 8 Video Insiden Paskibra, Mulai Tali Putus Hingga Rok Melorot
Sehari sebelumnya kepada tribunmanado.co.id, Fence mengaku belum bisa menerima kematian Daud. Berada di depan mayat anaknya di ruangan autopsi RS Kandou, Senin (13/8/2018) malam, Fence terus menangis.
Isak tangis itu kadang berganti nyanyian lirih permintaan memohon kekuatan pada Tuhan. Entah sudah berapa kali nama Tuhan ia sebut. “Tuhan, Tuhan, “ kata dia. “Saat itu saya pulang dari ibadah duka, mau lanjut ibadah kaum bapa, jadi saya pulang, tampak pintu terbuka sedikit, saya berjalan menuju ke belakang dan tampaklah anak saya sudah tergeletak dengan tubuh berdarah,” kata dia. Ucapannya kemudian terbantahkan dengan hasil penyelidikan dan pengakuannya kepada penyidik. Fence mengaku telah membunuh anaknya Daud.
Windi, istri Fence kerap meminta keluarga untuk tidak balas dendam sekiranya pelaku ditemukan. “Biar jo (saja) nanti Tuhan yang balas,” katanya.
Tindakan penjahat
Kasus pembunuhan Daud oleh ayah kandungnya menyita berbagai reaksi dari masyarakat.
Menurut Kriminolog Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Dr Rodrigo Elias, tindakan tersebut sudah merupakan ciri orang yang menjadi penjahat. “Tindakannya tidak bisa diterima dan sudah seperti penjahat,” ucapnya, Rabu kemarin.