Mengenang 7 Hari Meninggalnya Benny Tungka: Bapak Bagi Semua Kalangan
Kepergian Bapak Benny Tungka meninggalkan rasa duka yg sangat mendalam bagi saya.
Tak lupa, beliau pasti akan bertanya, apakah sudah makan atau belum?
Bahkan sering beliau datang ke lokasi galian atau buangan untuk memantau secara langsung dan memberikan arahan-arahanya kepada kami di lapangan.
Ketika sudah berada di lapangan, bisa berjam-jam beliau menemani kami bekerja. Beliau duduk atau bahkan turun dari mobilnya untuk menemani kami. Dalam keadaan seperti inilah, kami diberi pelajaran mengenai berbagai hal operasional lapangan.
Menjadi Sespri yang setiap hari ada di samping beliau merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi saya. Bersamanya setiap hari dan hanya berpisah ketika beliau tidur atau berangkat keluar daerah.
Pengalaman menarik yang saya alami di hari-hari pertama menjadi Sespri adalah ketika beliau meminta saya menelpon kolega/relasi atau keluarganya.
Beliau tidak mau tahu,saya kenal atau tidak orangnya. Beliau cukup menyebut nama saja, misalnya: Lus, telpon Pa Hendrik Horas, Pak Anto, Pa Jamal, Pa Iwan Suhuyanli, dll. Nahhh loh... saya belum kenal orang-orang tersebut dan tidak ada nomor telp/HP nya di saya. Beliau akan marah ketika saya jawab, tidak tahu, Bpk, atau tidak ada nomor telponnya di saya. Hahahaha...
saya diminta cari tahu sendiri, maka saya akan kelimpungan sendiri untuk mencari tahu, sementara beliau butuhnya cepat. Disinilah salah satu yang beliau mau agar kami cepat tanggap, berinisiatif untuk belajar mencari tahu segala hal ikhwal mengenai pekerjaan kami.
Pengalaman unik yang kedua, yaitu ketika dalam jabatan Sespri, maka saya harus berada dalam satu ruang kerja dengan beliau. Beliau dengan postur tubuh yang tinggi dan besar, sehingga dalam ruangannya terpasang AC yang sangat dingin.
Saya yang sebelumnya bekerja di lapangan yang berpanas-ria, tiba-tiba harus masuk dan duduk dalam ruangan ber-AC sangat dingin tersebut. Kedinginan dan gemetarlah saya. Beliau menghardik saya dan katakan: Lus, udik sekali kau, baru kena AC saja sudah kedinginan, bagaimana kau mau hidup di luar negeri saat musim salju? Tinggal lah kau jaga kampung saja !!! Hahahaha...
Kehidupan sosial dan kepeduliannya terhadap sesama, jangan diragukan lagi. Beliau tidak memandang suku, agama atau ras manapun.
Tanggung jawab sosialnya begitu tinggi terhadap para karyawannya bahkan siapapun di luar perusahaan.
Beliau akan meminta saya atau pimpinan lain dalam perusahaan untuk mengantarkan bantuannya kepada si A karena istrinya mau melahirkan, si B krn anaknya mau lanjut kuliah, si C krn anaknya belum bayar SPP, si D karena Bapaknya mau operasi dan lain-lain yang masih banyak lagi.
Ketika terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor dimana saja, pasti beliau akan meminta kami untuk segera belanja bama dan kebutuhan2 mendesak lainnya untuk segera diantarkan kepada keluarga-keluarga yang terkena musibah.
Beliau salah satu tokoh di belakang layar yang memainkan perannya secara signifikan dalam proses perdamaian ketika terjadi tragedi Poso waktu itu.
Beliau bekerja keras siang malam untuk melakukan komunikasi2 yang intens dengan para tokoh agama, petinggi-petinggi TNI/Polri dan berbagai pihak lainnya untuk berkolaborasi mengatasi permasalahan yang terjadi di Poso, dan Puji Tuhan dengan kerja sama yang baik antara berbagai Pemimpin dan elemen bangsa lainnya, masalah Poso dapat terselesaikan dengan baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/benny-tungka_20180326_114713.jpg)