Tribun Entepreneur
Klemens Rahardja : Empat Esensi Kewirausahaan
Saya mulai merantau keluar dari Jakarta, kota kelahiran saya pada awal tahun 2003 untuk menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.
Dari sini, saya tawarkan ‘Day-Trip’ khusus mahasiswa yang memiliki tanda pengenal mahasiswa dengan harga yang jauh lebih murah di 50AUD, dengan rute yang saya pilih sendiri berdasarkan pengalaman saya jalan-jalan bersama keluarga.
Kalau kita hitung-hitung, AUD 50 x 50 orang siswa = AUD 2500.
Sewa bis sekitar AUD 1200-1300.
Setelah dipotong biaya tiket masuk untuk wahana, atau tempat wisata, dan terkadang snack dan makan siang, saya masih bisa terima bersih sekitar AUD 500-700 an dulu.
Jalan-jalan gratis, dapat teman baru, dan semua tempat wisata yang saya kunjungi juga diuntungkan dengan kehadiran turis-turis tersebut.
Ini menjadi bidang usaha saya yang kedua pada saat saya kuliah, hingga saat saya sudah mulai berkarir nantinya. Sadar tidak sadar, saya menemukan Esensi Kewirausahaan yang ketiga disini.
Semua yang ikut dalam tur tersebut mengalami pengalaman yang menyenangkan, dan bahkan menjadi testimony hidup yang bercerita kepada banyak teman-teman mereka untuk lain kali ikut dengan ‘Tur nya Klemens’.
Apakah saya, seorang mahasiswa asing yang belum lulus pada saat itu, memiliki perusahaan telekomunikasi yang besar? Atau mungkin perusahaan bis dan travel? Tentunya tidak.
Tapi karena saya fokus untuk membantu orang lain terlebih dahulu, saya menciptakan komunitas yang justru tanpa saya sadari mulai menjadi pijakan dasar dari banyak bisnis saya kedepannya.
Mereka saling bercerita contohnya, ‘kalau mau beli kartu telpon cari si Klemens aja’, atau ‘kalau mau ikut tur, ikut tur si Klemens aja, kemarin gue jadian dari temen yang ketemu di turnya dia tuh’.
Ini yang sadar tidak sadar, justru saya alami ketika saya masih di bangku kuliah hingga menjadi bentuk target market yang jelas untuk perkembangan bisnis saya kedepannya.
Esensi Kewirausahaan nomor 4: Modal itu penting, tetapi bukan suatu keharusan
Menurut anda, apakah saya seorang mahasiswa pada saat itu punya modal besar untuk memulai semua yang saya ceritakan diatas?
Justru karena kondisi ekonomi dimana Rupiah melemah dari AUD 2500 hingga AUD 8000 pada saat itu, kondisi saya kepepet.
Sebagai mahasiswa asing, kita hanya boleh secara legal bekerja sebanyak 20 jam seminggu. Dari kedua KFC dan Stocktaking yang saya ceritakan tadi itu sangatlah terbatas.
Keadaan ini yang menciptakan pemikiran kreatif bagaimana kita bisa memutarkan uang yang terbatas tersebut. Contohnya dari ‘Day Trip’ yang saya kerjakan tadi, untuk booking satu bis itu saya harus DP setidaknya 50% untuk konfirmasi tanggal tur.
Duit darimana?
Saya mulai iklankan tanggal keberangkatan kita di seluruh network mahasiswa asing yang saya pernah bantu, dan dari situ karena memang harganya jauh lebih murah dari perusahaan travel lainnya, menjadi viral.
Untuk mereka bisa memastikan mereka mendapat kursi didalam bis, mereka harus membayar tiketnya lebih awal.
Uang inilah yang saya gunakan untuk DP awal bis tersebut. Kalau bisnya sudah terbayar lunas, berarti sudah tenang dan turnya bisa berjalan, tur hanya berjalan dengan catatan kalau bisnya penuh (waktu awal-awal mulai).
Jadi apakah saya menggunakan uang saya sendiri pada saat itu untuk memulai? Jawabannya tidak.
Oleh karena itu saya selalu ungkapkan, dari ke 4 Esensi Kewirausahaan yang saya sebut tadi, yang terpenting itu adalah,
Esensi Kewirausahaan nomor 2, yaitu ‘Fokuslah untuk membantu orang lain terlebih dahulu, duitnya akan datang belakangan’
Pertama-tama dimulai hanya untuk kampus saya sendiri, hingga akhirnya merambah ke universitas lain seperti Monash, Melbourne Uni, Swinburne dan lainnya.
Semua orang ingin mendapatkan teman baru, dan disinilah gunanya komunitas, terutama sesama anak rantau yang butuh teman baru, dan saya justru bertemu dengan banyak teman-teman sejati yang masih tetap dekat hingga saat ini juga dari masa-masa ketika kita merantau bersama.
Dari target market inilah saya mengembangkan peluang-peluang lainnya yang menjadi karir kewirausahaan saya selama saya masih di Melbourne, Australia.
Pada awalnya kartu telepon, lalu tur, lalu saya mulai menjadi broker kos-kosan, saya menghubungkan pemilik kamar kos kepada mahasiswa asing yang mencari tempat tinggal, lalu bisnisnya berkembang hingga saya bekerja sama dan punya tempat kos sendiri.
Membangun Relasi
Membangun relasi itu adalah sebuah hal yang penting, karena dari semua teman-teman yang saya jumpai, saya mulai mendapatkan pertanyaan dari orang-tua mahasiswa-mahasiswa yang saya bantu, mengenai bagaimana caranya supaya mereka bisa membeli properti untuk investasi di Melbourne.
Saya mulai belajar bagaimana menjadi broker dan mendapatkan Real Estate Agent License (lisensi agen real estat) saya disana, dan membantu para orang-tua murid tersebut untuk membeli investasi properti mereka disana, hingga pada akhirnya saya membangun perusahaan Advisory Firm sendiri untuk melayani permintaan mereka, BEST Property Investment Group Pty. Ltd. dari semenjak akhir tahun 2009.
Dari semua bisnis yang saya bangun, saya selalu menerapkan ‘The 4 Essences of Entrepreneurship’ tersebut.
Fokus saya didalam BPI Groups adalah untuk membantu mempermudah transisi para investor asing untuk menginvestasikan uang mereka didalam ranah properti di Melbourne, Australia.
Saya buat satu siklus, dari pertama adalah pendanaan (mortgage) KPR, lalu ke ranah keahlian saya, untuk ‘hunting’ properti mana yang layak untuk diinvestasikan, lalu ketiga masuk kedalam aspek legal, dimana kita melakukan ‘due-diligence’ terhadap properti tersebut.
Langkah keempat masuk kedalam perpajakan, bekerja sama dengan konsultan pajak disana untuk mengatur dan mengefisiensikan pajak secara legal, lalu terakhir bekerja sama dengan ‘financial planner’ dan pada akhirnya kembali ke siklus pertama lagi setelah beberapa waktu, ketika nilai investasi properti dari client saya naik, maka kita bisa mulai akuisisi properti-properti berikutnya.
‘Your Success is Our Success’ – BPI Groups Pty Ltd.
Pengalaman yang saya dapatkan ini dan bisnis-bisnis yang saya pernah terjun dan geluti di Australia itu semuanya dimulai dari mindset yang tepat, dan ke ‘4 Essence of Entrepreneurship’ inilah menjadi dasar dari semua itu.
Beberapa bisnis sampingan yang saya terjun juga merupakan aspek komplemen dari bisnis-bisnis lainnya. Contohnya dari IDK Corporate Cleaning, saya bangun pada awalnya adalah untuk membantu teman saya yang baru saja kena PHK, saya pertemukan dengan teman SMA saya yang sudah lama juga berdomisili di Perth dan mengerjakan bisnis serupa. Kita mulai membangun bisnis tersebut untuk menjadi lapangan pekerjaan bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang ada di Melbourne.
Contoh satu lagi, kenapa saya membangun The Lux Residences di Manado, karena saya melihat perkembangan dan prospek dari pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara, dan disini akan muncul kebutuhan hunian elit dengan harga terjangkau, dan sebuah kendaraan investasi yang menguntungkan.
Oleh karena itu saya menempatkan harga yang jauh lebih bersahabat dibandingkan dengan teman developer perumahan komersil lainnya di Manado, semuanya ini ditujukan justru untuk membantu teman-teman di Sulut ini untuk mulai merencanakan perencanaan hidup mereka untuk masa depan.
Proyek ini juga menjawab kebutuhan dari cepatnya pertumbuhan penduduk dan pendatang yang mencari peruntungan di Sulawesi Utara, dan semoga dengan rahmat Tuhan akan terus berlanjut dan bertumbuh bersama.
Menabung dan berinvestasi untuk hari tua dan masa depan, dengan investasi properti yang menguntungkan.
"Apabila kita hanya terfokus kepada uang, terkadang relasi akan hilang. Fokuslah kepada relasi kita, dan menjadi saling menguntungkan, maka dapat dipastikan kalau bisnis kita akan panjang." – Klemens Rahardja
Jangan lewatkan ulasan menarik berikutnya tentang '6 Stages of Entrepreneurship’, minggu depan, hanya di Topik : Tribun Entepreneur manado.tribunnews.com
Klemens B Rahardja (‘Make it happen, Make your life counts!’)
Klemens Rahardja adalah seorang investor, pengusaha dan pengajar kewirausahaan. Dia telah membantu lebih dari puluhan bisnis baru untuk mulai dan berkembang secara lokal dan internasional. Dengan semangatnya untuk membantu orang lain dan menciptakan generasi baru masyarakat pengusaha di Indonesia, ia sering berbagi pengetahuan dan gagasannya di berbagai media baik online maupun offline.
Saat ini, beliau sedang aktif membangun komunitas dan investasi properti yang dimulai dengan beberapa proyek The Lux Residences di Manado, dan The Entrepreneurs Society di seluruh Indonesia.
Temukan Klemens di Instagram @klemensrahardja.
Cari tahu lebih lanjut tentang proyek The Lux Residences di sini -+62 821 88 99 3290
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/klemens-rahardja-profil_20171103_114856.jpg)