Tribun Entepreneur
Klemens Rahardja : Empat Esensi Kewirausahaan
Saya mulai merantau keluar dari Jakarta, kota kelahiran saya pada awal tahun 2003 untuk menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.
4 Essences of Entrepreneurship
By Klemens Rahardja
TRIBUNMANADO.CO.ID - Pengalaman didalam berkarir sebagai seorang wirausaha saya alami semenjak saya mulai berada di bangku kuliah, saya bersyukur dan berterima-kasih kepada kedua orang tua saya yang memberikan segalanya untuk membantu saya pada saat itu mengirim saya ke benua lain untuk menuntut pendidikan tinggi, yang justru memberikan saya banyak sekali pengalaman yang saya harapkan bisa menjadi satu sumber inspirasi bagi teman-teman di Indonesia.
Saya mulai merantau keluar dari Jakarta, kota kelahiran saya pada awal tahun 2003 untuk menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.
Saya kuliah di Deakin University, Bachelor of Commerce, di bidang Accounting dan Finance.
Di sinilah justru saya mulai dibentuk secara mental unuk menjadi seorang ‘survivor’ dan bertahan hidup, disinilah tempat dimana saya mendapatkan pelajaran berharga yang sekarang saya sebut sebagai ‘The 4 Essences of Entrepreneurship’ atau 4 Esensi Kewirausahaan.
4 Essences of Entrepreneurship:
1. Opportunities are everywhere – Peluang ada dimana-mana
2. Focus on helping other people first, the money will come later – Fokus untuk membantu orang lain terlebih dahulu, uangnya akan datang belakangan
3. Sell other people products first, until you can create and sell your own – Jual barang orang lain terlebih dahulu, sampai anda bisa menciptakan produk anda sendiri
4. Capital is necessary, but it’s not a necessity – Modal itu penting, tetapi bukan suatu keharusan
Ke 4 esensi kewirausahaan ini saya dapatkan tanpa sadar pada saat itu, ketika saya pertama kali tiba di benua yang baru tersebut, saya ditemani oleh ibu saya, dan saya tidak kenal siapa-siapa pada saat itu, saya benar-benar buta, berada di negara baru dengan bahasa yang baru.
Teman pertama saya. Sally, saya jumpai pada saat bis dari kampus menjemput kami di bandara, pada saat itu adalah hari Jumat, hari terakhir untuk pendaftaran, apabila kami terlambat mendaftar di kampus maka sudah pasti selama satu semester kedepan kami akan ‘nganggur’.
Hari itu dipenuhi dengan stress dan hati yang berdebar-debar, karena selain mendaftar di kampus, masih banyak sekali hal-hal yang harus dilakukan, seperti mencari tempat tinggal, belajar menggunakan kendaraan umum, melaporkan diri ke Konsulat Jendral, membuka akun bank, dan banyak lagi.
Sally juga mengalami hal yang sama, tetapi untungnya dia punya teman yang sudah datang beberapa minggu lebih dulu, yang pada akhirnya menjadi teman baik saya hingga sekarang ini, Susanti (sekarang juga sudah berdomisili di Jakarta).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/klemens-rahardja-profil_20171103_114856.jpg)