Tribun Entepreneur
Klemens Rahardja : Empat Esensi Kewirausahaan
Saya mulai merantau keluar dari Jakarta, kota kelahiran saya pada awal tahun 2003 untuk menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.
Susanti lah yang membantu saya dalam banyak hal, mengajarkan saya bagaimana saya bisa ‘survive’, dari mencari tempat tinggal, kendaraan umum, bahkan sampai mau belanja ‘groceries’ dimana.
Pengalaman yang penuh dengan stress ini membuat saya terpanggil untuk membantu supaya kedepannya, untuk murid-murid yang datang ke kampus kami tidak perlu mengalami kesulitan yang saya alami.
Satu semester berlalu yang penuh dengan proses beradaptasi, dan di awal semester kedua saya ikut ‘volunteer’ di kampus untuk menyambut mahasiswa asing yang baru tiba di Melbourne.
Deakin University menyebut kami sebagai ‘Peer Support Team’ pada saat itu, akan tetapi program yang mereka berikan itu hanyalah terbatas ‘On-Campus’ atau didalam kampus, jadi hanya mengantar murid-murid tersebut keliling kampus.
Saya merasakan justru banyak sekali kebutuhan yang saya alami dan harus saya lakukan untuk bertahan hidup itu berada di luar kampus, seperti belanja keperluan sehari-hari, naik kendaraan umum, mencari lapangan pekerjaan, dan sebagainya.
Oleh karena itu saya diskusikan dengan dosen pembimbing program tersebut untuk ‘evolve’ dan kita mulai mengadakan tur keliling kampus yang memberikan informasi mengenai rumah kos, bank, tempat belanja, dan informasi-informasi penting lainnya.
Kembali ke 4 Esensi Kewirausahaan yang kita bahas, saya mendapatkan esensi yang kedua, ‘Fokus untuk membantu orang lain terlebih dahulu, uangnya akan datang belakangan’ itu tanpa sadar dari program-program yang saya ciptakan di kampus dengan tujuan untuk membantu teman-teman baru yang baru saja tiba dari luar negeri tersebut.
Ketika saya membantu mereka dengan tulus, ternyata mereka jadi ingat akan saya, dan menjadi teman-teman sejati sehingga saya mendapatkan kepercayaan dari mereka.
Peluang yang pertama muncul ketika pada suatu hari, sekitar jam 11 malam ada salah seorang siswa dari Malaysia yang pernah saya bantu menelpon saya dan bertanya,
‘Klemens, saya urgent banget nih perlu telpon orang tua saya, Cuma kartu telpon saya habis. Saya harus beli dimana yah jam segini, apakah ada toko yang buka?’
Pada masa tersebut, belum ada yang namanya Whatsapp atau Skype, jadi untuk telpon internasional itu kalau menggunakan handphone sangatlah mahal, di Melbourne dijual kartu telepon pulsa prabayar untuk melakukan panggilan internasional tersebut, yang digunakan di telepon kabel atau telepon umum pada umumnya, dan pada masa itu juga di daerah kampus Deakin University itu berlokasi lumayan jauh dari pusat kota, sehingga toko-toko kebanyakan sudah tutup jam 6 sore, dan kendaraan umum biasanya hanya beroperasi hingga pukul 10 malam.
Saya menjawab, ‘ Wah kalau jam segini sih toko-toko sudah tutup, bis juga sudah tidak ada. Ga apa apa deh kamu pakai saya punya aja, ini nomor kode pin nya kamu catat ya.’
‘Wah terima kasih, nanti aku bayarnya gimana?’
Saya jawab, ‘Udah gapapa pake aja, kan urgent juga, ga masalah.’
Dari sinilah saya mendapatkan peluang untuk pertama kalinya. Jualan kartu telepon panggilan internasional kepada teman-teman yang pernah saya bantu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/klemens-rahardja-profil_20171103_114856.jpg)