Sabtu, 13 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tribun Entepreneur

Klemens Rahardja : Empat Esensi Kewirausahaan

Saya mulai merantau keluar dari Jakarta, kota kelahiran saya pada awal tahun 2003 untuk menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.

Tayang:
Editor: Fransiska_Noel
Istimewa
Klemens B. Rahardja 

4 Essences of Entrepreneurship

By Klemens Rahardja

Klemens Rahardja,
Klemens Rahardja

TRIBUNMANADO.CO.ID - Pengalaman didalam berkarir sebagai seorang wirausaha saya alami semenjak saya mulai berada di bangku kuliah, saya bersyukur dan berterima-kasih kepada kedua orang tua saya yang memberikan segalanya untuk membantu saya pada saat itu mengirim saya ke benua lain untuk menuntut pendidikan tinggi, yang justru memberikan saya banyak sekali pengalaman yang saya harapkan bisa menjadi satu sumber inspirasi bagi teman-teman di Indonesia.

Saya mulai merantau keluar dari Jakarta, kota kelahiran saya pada awal tahun 2003 untuk menempuh pendidikan tinggi di Melbourne, Australia.

Saya kuliah di Deakin University, Bachelor of Commerce, di bidang Accounting dan Finance.

Di sinilah justru saya mulai dibentuk secara mental unuk menjadi seorang ‘survivor’ dan bertahan hidup, disinilah tempat dimana saya mendapatkan pelajaran berharga yang sekarang saya sebut sebagai ‘The 4 Essences of Entrepreneurship’ atau 4 Esensi Kewirausahaan.

4 Essences of Entrepreneurship:

1. Opportunities are everywhere – Peluang ada dimana-mana

2. Focus on helping other people first, the money will come later – Fokus untuk membantu orang lain terlebih dahulu, uangnya akan datang belakangan

3. Sell other people products first, until you can create and sell your own – Jual barang orang lain terlebih dahulu, sampai anda bisa menciptakan produk anda sendiri

4. Capital is necessary, but it’s not a necessity – Modal itu penting, tetapi bukan suatu keharusan

Ke 4 esensi kewirausahaan ini saya dapatkan tanpa sadar pada saat itu, ketika saya pertama kali tiba di benua yang baru tersebut, saya ditemani oleh ibu saya, dan saya tidak kenal siapa-siapa pada saat itu, saya benar-benar buta, berada di negara baru dengan bahasa yang baru.

Teman pertama saya. Sally, saya jumpai pada saat bis dari kampus menjemput kami di bandara, pada saat itu adalah hari Jumat, hari terakhir untuk pendaftaran, apabila kami terlambat mendaftar di kampus maka sudah pasti selama satu semester kedepan kami akan ‘nganggur’.

Hari itu dipenuhi dengan stress dan hati yang berdebar-debar, karena selain mendaftar di kampus, masih banyak sekali hal-hal yang harus dilakukan, seperti mencari tempat tinggal, belajar menggunakan kendaraan umum, melaporkan diri ke Konsulat Jendral, membuka akun bank, dan banyak lagi.

Sally juga mengalami hal yang sama, tetapi untungnya dia punya teman yang sudah datang beberapa minggu lebih dulu, yang pada akhirnya menjadi teman baik saya hingga sekarang ini, Susanti (sekarang juga sudah berdomisili di Jakarta).

Susanti lah yang membantu saya dalam banyak hal, mengajarkan saya bagaimana saya bisa ‘survive’, dari mencari tempat tinggal, kendaraan umum, bahkan sampai mau belanja ‘groceries’ dimana.

Pengalaman yang penuh dengan stress ini membuat saya terpanggil untuk membantu supaya kedepannya, untuk murid-murid yang datang ke kampus kami tidak perlu mengalami kesulitan yang saya alami.

Satu semester berlalu yang penuh dengan proses beradaptasi, dan di awal semester kedua saya ikut ‘volunteer’ di kampus untuk menyambut mahasiswa asing yang baru tiba di Melbourne.

Deakin University menyebut kami sebagai ‘Peer Support Team’ pada saat itu, akan tetapi program yang mereka berikan itu hanyalah terbatas ‘On-Campus’ atau didalam kampus, jadi hanya mengantar murid-murid tersebut keliling kampus.

Saya merasakan justru banyak sekali kebutuhan yang saya alami dan harus saya lakukan untuk bertahan hidup itu berada di luar kampus, seperti belanja keperluan sehari-hari, naik kendaraan umum, mencari lapangan pekerjaan, dan sebagainya.

Oleh karena itu saya diskusikan dengan dosen pembimbing program tersebut untuk ‘evolve’ dan kita mulai mengadakan tur keliling kampus yang memberikan informasi mengenai rumah kos, bank, tempat belanja, dan informasi-informasi penting lainnya.

Kembali ke 4 Esensi Kewirausahaan yang kita bahas, saya mendapatkan esensi yang kedua, ‘Fokus untuk membantu orang lain terlebih dahulu, uangnya akan datang belakangan’ itu tanpa sadar dari program-program yang saya ciptakan di kampus dengan tujuan untuk membantu teman-teman baru yang baru saja tiba dari luar negeri tersebut.

Ketika saya membantu mereka dengan tulus, ternyata mereka jadi ingat akan saya, dan menjadi teman-teman sejati sehingga saya mendapatkan kepercayaan dari mereka.

Peluang yang pertama muncul ketika pada suatu hari, sekitar jam 11 malam ada salah seorang siswa dari Malaysia yang pernah saya bantu menelpon saya dan bertanya,

‘Klemens, saya urgent banget nih perlu telpon orang tua saya, Cuma kartu telpon saya habis. Saya harus beli dimana yah jam segini, apakah ada toko yang buka?’

Pada masa tersebut, belum ada yang namanya Whatsapp atau Skype, jadi untuk telpon internasional itu kalau menggunakan handphone sangatlah mahal, di Melbourne dijual kartu telepon pulsa prabayar untuk melakukan panggilan internasional tersebut, yang digunakan di telepon kabel atau telepon umum pada umumnya, dan pada masa itu juga di daerah kampus Deakin University itu berlokasi lumayan jauh dari pusat kota, sehingga toko-toko kebanyakan sudah tutup jam 6 sore, dan kendaraan umum biasanya hanya beroperasi hingga pukul 10 malam.

Saya menjawab, ‘ Wah kalau jam segini sih toko-toko sudah tutup, bis juga sudah tidak ada. Ga apa apa deh kamu pakai saya punya aja, ini nomor kode pin nya kamu catat ya.’

‘Wah terima kasih, nanti aku bayarnya gimana?’

Saya jawab, ‘Udah gapapa pake aja, kan urgent juga, ga masalah.’

Dari sinilah saya mendapatkan peluang untuk pertama kalinya. Jualan kartu telepon panggilan internasional kepada teman-teman yang pernah saya bantu.

Esensi Kewirausahaan nomor 1: Peluang ada dimana-mana

Pada saat saya kuliah hingga saat saya lulus, AUD mengalami kenaikan dari sekitar Rp 2500 hingga Rp 8000an per dollar nya, oleh karena itulah justru budget yang sudah disiapkan orang-tua saya otomatis berkurang menjadi sepertiga.

Saya sempat bilang kepada orang-tua saya, ‘Pap ga apa apa deh, papa kan support uang kuliah, kalau untuk uang bertahan hidup, aku coba cari sendiri’. Ini yang saya maksudkan dengan momen dimana saya mulai ditempa dan dibentuk.

Di semester kedua, saya mulai bekerja di beberapa tempat, salah satunya adalah KFC (jadi tukang ayam goreng), lalu kerja sebagai tukang hitung stok barang di toserba seperti Myer dan David Jones (sekelas Matahari dan Parkson mungkin di Indonesia).

Di semester ini juga momen yang sebelumnya saya ceritakan tentang peluang kartu telepon tadi.

Karena memang kondisinya mepet, maka saya menjadi lapar untuk mencari peluang, dan pada saat kita mau bekerja keras, dan memang kita mencari peluang, Tuhan pasti buka jalan.

Kalau kita fokus untuk menjadi solusi bagi orang lain, membantu orang lain secara tulus, sebenarnya kita sudah membangun satu citra diri yang bisa dipercaya.

Pada saat itu, target market saya jelas, yaitu semua mahasiswa asing yang sudah saya bantu di setiap awal semester supaya bisa mengalami transisi dan adaptasi lebih nyaman dan tidak perlu mengalami stress yang saya alami pada saat saya pertama kali tiba.

Mereka bisa mendapatkan informasi yang lebih gampang mengenai tempat kos, kendaraan umum, tempat belanja keperluan sehari-hari, dan lain-lain, dan karena saya yang membantu mereka sebagai teman pertama mereka di kota yang asing, saya menjadi satu teman yang bisa mereka percaya dan disinilah saya mendapatkan Esensi Kewirausahaan yang kedua tersebut.

Esensi Kewirausahaan nomor 3: Jual barang orang lain terlebih dahulu, sampai kita bisa menciptakan produk kita sendiri

Setelah dimulai dari kartu telepon, kebutuhan apa lagi yang paling mendasar dan penting bagi mahasiswa baru di tempat yang asing?

Komunitas dan teman!

Menjelang semester ke 4, saya ikut beberapa ‘Day-Trip’ atau tur pulang hari ke beberapa tempat wisata bersama dengan papa mama dan adik saya ketika mereka datang berkunjung.

Harga tur tersebut berada di sekitar 75-150 AUD pada masa tersebut tergantung tujuan dan rute.

Tersirat ide untuk mengadakan tur serupa, khusus untuk para mahasiswa asing yang saya pandu. Oleh karena itu saya mulai mencari informasi, berapaan sih untuk sewa satu bis dengan muatan 57 orang?

Dari sini, saya tawarkan ‘Day-Trip’ khusus mahasiswa yang memiliki tanda pengenal mahasiswa dengan harga yang jauh lebih murah di 50AUD, dengan rute yang saya pilih sendiri berdasarkan pengalaman saya jalan-jalan bersama keluarga.

Kalau kita hitung-hitung, AUD 50 x 50 orang siswa = AUD 2500.

Sewa bis sekitar AUD 1200-1300.

Setelah dipotong biaya tiket masuk untuk wahana, atau tempat wisata, dan terkadang snack dan makan siang, saya masih bisa terima bersih sekitar AUD 500-700 an dulu.

Jalan-jalan gratis, dapat teman baru, dan semua tempat wisata yang saya kunjungi juga diuntungkan dengan kehadiran turis-turis tersebut.

Ini menjadi bidang usaha saya yang kedua pada saat saya kuliah, hingga saat saya sudah mulai berkarir nantinya. Sadar tidak sadar, saya menemukan Esensi Kewirausahaan yang ketiga disini.

Semua yang ikut dalam tur tersebut mengalami pengalaman yang menyenangkan, dan bahkan menjadi testimony hidup yang bercerita kepada banyak teman-teman mereka untuk lain kali ikut dengan ‘Tur nya Klemens’.

Apakah saya, seorang mahasiswa asing yang belum lulus pada saat itu, memiliki perusahaan telekomunikasi yang besar? Atau mungkin perusahaan bis dan travel? Tentunya tidak.

Tapi karena saya fokus untuk membantu orang lain terlebih dahulu, saya menciptakan komunitas yang justru tanpa saya sadari mulai menjadi pijakan dasar dari banyak bisnis saya kedepannya.

Mereka saling bercerita contohnya, ‘kalau mau beli kartu telpon cari si Klemens aja’, atau ‘kalau mau ikut tur, ikut tur si Klemens aja, kemarin gue jadian dari temen yang ketemu di turnya dia tuh’.

Ini yang sadar tidak sadar, justru saya alami ketika saya masih di bangku kuliah hingga menjadi bentuk target market yang jelas untuk perkembangan bisnis saya kedepannya.

Esensi Kewirausahaan nomor 4: Modal itu penting, tetapi bukan suatu keharusan

Menurut anda, apakah saya seorang mahasiswa pada saat itu punya modal besar untuk memulai semua yang saya ceritakan diatas?

Justru karena kondisi ekonomi dimana Rupiah melemah dari AUD 2500 hingga AUD 8000 pada saat itu, kondisi saya kepepet.

Sebagai mahasiswa asing, kita hanya boleh secara legal bekerja sebanyak 20 jam seminggu. Dari kedua KFC dan Stocktaking yang saya ceritakan tadi itu sangatlah terbatas.

Keadaan ini yang menciptakan pemikiran kreatif bagaimana kita bisa memutarkan uang yang terbatas tersebut. Contohnya dari ‘Day Trip’ yang saya kerjakan tadi, untuk booking satu bis itu saya harus DP setidaknya 50% untuk konfirmasi tanggal tur.

Duit darimana?

Saya mulai iklankan tanggal keberangkatan kita di seluruh network mahasiswa asing yang saya pernah bantu, dan dari situ karena memang harganya jauh lebih murah dari perusahaan travel lainnya, menjadi viral.

Untuk mereka bisa memastikan mereka mendapat kursi didalam bis, mereka harus membayar tiketnya lebih awal.

Uang inilah yang saya gunakan untuk DP awal bis tersebut. Kalau bisnya sudah terbayar lunas, berarti sudah tenang dan turnya bisa berjalan, tur hanya berjalan dengan catatan kalau bisnya penuh (waktu awal-awal mulai).

Jadi apakah saya menggunakan uang saya sendiri pada saat itu untuk memulai? Jawabannya tidak.

Oleh karena itu saya selalu ungkapkan, dari ke 4 Esensi Kewirausahaan yang saya sebut tadi, yang terpenting itu adalah,

Esensi Kewirausahaan nomor 2, yaitu ‘Fokuslah untuk membantu orang lain terlebih dahulu, duitnya akan datang belakangan’

Pertama-tama dimulai hanya untuk kampus saya sendiri, hingga akhirnya merambah ke universitas lain seperti Monash, Melbourne Uni, Swinburne dan lainnya.

Semua orang ingin mendapatkan teman baru, dan disinilah gunanya komunitas, terutama sesama anak rantau yang butuh teman baru, dan saya justru bertemu dengan banyak teman-teman sejati yang masih tetap dekat hingga saat ini juga dari masa-masa ketika kita merantau bersama.

Dari target market inilah saya mengembangkan peluang-peluang lainnya yang menjadi karir kewirausahaan saya selama saya masih di Melbourne, Australia.

Pada awalnya kartu telepon, lalu tur, lalu saya mulai menjadi broker kos-kosan, saya menghubungkan pemilik kamar kos kepada mahasiswa asing yang mencari tempat tinggal, lalu bisnisnya berkembang hingga saya bekerja sama dan punya tempat kos sendiri.

Membangun Relasi

Membangun relasi itu adalah sebuah hal yang penting, karena dari semua teman-teman yang saya jumpai, saya mulai mendapatkan pertanyaan dari orang-tua mahasiswa-mahasiswa yang saya bantu, mengenai bagaimana caranya supaya mereka bisa membeli properti untuk investasi di Melbourne.

Saya mulai belajar bagaimana menjadi broker dan mendapatkan Real Estate Agent License (lisensi agen real estat) saya disana, dan membantu para orang-tua murid tersebut untuk membeli investasi properti mereka disana, hingga pada akhirnya saya membangun perusahaan Advisory Firm sendiri untuk melayani permintaan mereka, BEST Property Investment Group Pty. Ltd. dari semenjak akhir tahun 2009.

Dari semua bisnis yang saya bangun, saya selalu menerapkan ‘The 4 Essences of Entrepreneurship’ tersebut.

Fokus saya didalam BPI Groups adalah untuk membantu mempermudah transisi para investor asing untuk menginvestasikan uang mereka didalam ranah properti di Melbourne, Australia.

Saya buat satu siklus, dari pertama adalah pendanaan (mortgage) KPR, lalu ke ranah keahlian saya, untuk ‘hunting’ properti mana yang layak untuk diinvestasikan, lalu ketiga masuk kedalam aspek legal, dimana kita melakukan ‘due-diligence’ terhadap properti tersebut.

Langkah keempat masuk kedalam perpajakan, bekerja sama dengan konsultan pajak disana untuk mengatur dan mengefisiensikan pajak secara legal, lalu terakhir bekerja sama dengan ‘financial planner’ dan pada akhirnya kembali ke siklus pertama lagi setelah beberapa waktu, ketika nilai investasi properti dari client saya naik, maka kita bisa mulai akuisisi properti-properti berikutnya.

‘Your Success is Our Success’ – BPI Groups Pty Ltd.

Pengalaman yang saya dapatkan ini dan bisnis-bisnis yang saya pernah terjun dan geluti di Australia itu semuanya dimulai dari mindset yang tepat, dan ke ‘4 Essence of Entrepreneurship’ inilah menjadi dasar dari semua itu.

Beberapa bisnis sampingan yang saya terjun juga merupakan aspek komplemen dari bisnis-bisnis lainnya. Contohnya dari IDK Corporate Cleaning, saya bangun pada awalnya adalah untuk membantu teman saya yang baru saja kena PHK, saya pertemukan dengan teman SMA saya yang sudah lama juga berdomisili di Perth dan mengerjakan bisnis serupa. Kita mulai membangun bisnis tersebut untuk menjadi lapangan pekerjaan bagi mahasiswa-mahasiswa asing yang ada di Melbourne.

Contoh satu lagi, kenapa saya membangun The Lux Residences di Manado, karena saya melihat perkembangan dan prospek dari pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara, dan disini akan muncul kebutuhan hunian elit dengan harga terjangkau, dan sebuah kendaraan investasi yang menguntungkan.

Oleh karena itu saya menempatkan harga yang jauh lebih bersahabat dibandingkan dengan teman developer perumahan komersil lainnya di Manado, semuanya ini ditujukan justru untuk membantu teman-teman di Sulut ini untuk mulai merencanakan perencanaan hidup mereka untuk masa depan.

Proyek ini juga menjawab kebutuhan dari cepatnya pertumbuhan penduduk dan pendatang yang mencari peruntungan di Sulawesi Utara, dan semoga dengan rahmat Tuhan akan terus berlanjut dan bertumbuh bersama.

Menabung dan berinvestasi untuk hari tua dan masa depan, dengan investasi properti yang menguntungkan.

"Apabila kita hanya terfokus kepada uang, terkadang relasi akan hilang. Fokuslah kepada relasi kita, dan menjadi saling menguntungkan, maka dapat dipastikan kalau bisnis kita akan panjang." Klemens Rahardja

Jangan lewatkan ulasan menarik berikutnya tentang '6 Stages of Entrepreneurship’, minggu depan, hanya di Topik : Tribun Entepreneur manado.tribunnews.com

Klemens B Rahardja (‘Make it happen, Make your life counts!’)

Klemens Rahardja adalah seorang investor, pengusaha dan pengajar kewirausahaan. Dia telah membantu lebih dari puluhan bisnis baru untuk mulai dan berkembang secara lokal dan internasional. Dengan semangatnya untuk membantu orang lain dan menciptakan generasi baru masyarakat pengusaha di Indonesia, ia sering berbagi pengetahuan dan gagasannya di berbagai media baik online maupun offline.

Saat ini, beliau sedang aktif membangun komunitas dan investasi properti yang dimulai dengan beberapa proyek The Lux Residences di Manado, dan The Entrepreneurs Society di seluruh Indonesia.

Temukan Klemens di Instagram @klemensrahardja.

Cari tahu lebih lanjut tentang proyek The Lux Residences di sini -+62 821 88 99 3290

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
Live
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved