Apa yang Manado Bisa Petik dari Pariwisata Sabah
Manado memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat kegiatan pariwisata yang luar biasa.
TRIBUNMANADO.CO.ID - Saya berada di Manado bulan lalu dan saya merasa takjub dengan apa yang saya temukan.
Saya memiliki firasat bahwa Manado memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat kegiatan pariwisata yang luar biasa. Dapat dipastikan Manado tidak memiliki kekurangan jika ingin melakukan hal-hal menarik di sana.
Manado memiliki lokasi menyelam yang bagus, kawasan pendakian hutan pegunungan di atas kota, dan keindahan budaya lokal (Minahasa) yang diwarnai dengan hidangan kuliner yang menarik—meskipun rasanya masih terlalu asing di lidah saya!
Hal ini penting ketika Anda menyadari bahwa selera pariwisata global saat ini lebih kepada keaslian, lingkungan, dan petualangan. Lihat saja kepopuleran acara petualangan di Trans TV, 'My Trip My Adventure'. Itu semua menunjukkan destinasi-destinasi yang dulunya terabaikan, seperti Sumba, Nias, dan Tual kini telah menjadi destinasi pariwisata yang menarik bagi para wisatawan.
Jangan lupa juga, banyak uang yang bisa dihasilkan dari sektor pariwisata. Pada 2014, sektor travel dan pariwisata berkontribusi 4,8% terhadap total PDB Asia Tenggara atau sekitar 117,9 miliar dolar AS. Angka ini diprediksi akan naik menjadi 4,9% atau sekitar 209,4 miliar dolar AS pada 2025.
Namun apa yang harus dilakukan kota seperti Manado untuk mempertahankan industri dengan potensi yang berubah-ubah ini? Hal-hal utama apa saja yang diperlukan untuk menarik para turis (khususnya wisatawan dari pasar krusial dari Asia Utara) dan mendorong mereka agar sering berkunjung?
Saya sangat menyarankan para pemimpin di Manado belajar dari negara bagian di Malaysia, Sabah.
Dengan kesuksesannya menarik 3,4 juta turis pada 2016, sebanyak lebih dari 1 juta berasal dari Tiongkok, Sabah kini telah menjadi salah satu destinasi ekowisata dan petualangan tersukses di Asia
Dengan kombinasi kekayaan alam yang dimiliki, mulai dari Gunung Kinabalu (gunung tertinggi di Asia Tenggara), tempat olahraga snorkeling serta hutan-hutan yang sangat alamiah, hampir tak ada bedanya objek wisata di Sabah dengan yang dimiliki Manado.
Maskapai berbujet rendah, AirAsia dan Lion Air juga telah berperan penting dalam menekan biaya perjalanan dan menambah kapasitas.
Tokoh kunci Datuk Masidi Manjun yang juga Menteri Pariwisata, Budaya, dan Lingkungan, mengatakan, “Pengelolaan industri pariwisata, budaya dan lingkungan di bawah Kementerian yang sama itu, sangat membantu. Sehingga, kami bisa membuat dan mengoordinasikan berbagai kebijakan agar setiap orang, termasuk pihak swasta, berjalan di jalur yang sama.”
“Sangat penting kami mendorong masyarakat untuk mempertahankan dan menjaga keindahan alam di sekitar kami,” ujar Datuk Masidi lebih lanjut. “Kami harus memastikan segala sesuatu tetap seperti awalnya agar kami bisa mendapat manfaat dari keindahan tersebut.
“Selain itu,” masih kata dia, “Aspek konservasi juga harus menjadi bagian penting dalam agenda pengembangan ekonomi pemerintah bahwa konservasi adalah isu utama karena ekopariwisata sangat penting.”
Pengalaman Sabah menunjukan bahwa industri pariwisata bukanlah sesuatu yang dapat dikembangkan hanya melalui peraturan atau begitu saja bisa dibeli dengan uang.
Sebaliknya, hal itu membutuhkan suatu proses yang panjang, termasuk membangun kepercayaan, melatih para penyedia jasa dan mempertahankan standar. Hal-hal ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa agar seluruh pemangku kepentingan bisa sejalan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/kota-kinabalu_20170319_133011.jpg)