Tribun Travel
Air Mata 11 Jam Terhapus Cantiknya ‘Shadow Triangle’ di Puncak Tertinggi Sulawesi Utara
Siapapun di antara kami tak pernah memiliki ekspektasi setinggi ini. Menjejakkan kaki di puncak tertinggi Sulawesi Utara.
Penulis: Fransiska_Noel | Editor: Fransiska_Noel
Saling membantu satu dengan yang lain, saling memotivasi, saling berpegangan tangan menuju puncak. Sungguh pengalaman ini tak ternilai harganya.
“Kita tidak sedang mengejar matahari, jadi nikmati perjalanannya, tak usah buru-buru,” tutur guide kami. Sebuah kalimat yang meneduhkan.
Jejak kaki kami terus menysur medan sulit menuju pos empat.
Pemadangan mengerikan tersaji di sela-sela kegelapan malam yang diterangi temaram cahaya bulan malam ini.
Kebakaran hebat benar-benar menyapu bersih hutan di sepanjang jalur ini.
Pepohonan meranggas, hanya tersisa batang-batang pohon hangus di sana-sini. Sungguh, titik ini lebih terlihat seperti hutan mati yang mengerikan.
Tak ada bunyi hewan malam, mungkin semua kabur atau ikut mati terbakar waktu itu.
Kebakaran hampir merusak seluruh titik jalur pendakian di track ini.
Akar pepohonan menghilang, tersisa bukit terjal bebatuan yang sangat menyulitkan pendakian.
Mendaki setengah merayap harus dilakukan anggota tim saat melintas di sejumlah titik di jalur ini.
Dengan susah payah tim naik perlahan. Hampir sejam baru kami bisa tiba di pos empat.
Pakaian kotor penuh debu, pasir dan arang. Kami berhenti lagi untuk sedikit minum dan beristirahat. Selang 15 menit kemudian tim kembali menuju track pendakian menuju pos lima.
Jalur pendakian menuju pos lima masih didominasi pemadangan hutan meranggas.
Udara kian dingin, angin bertiup kencang sangat jelas terdengar di telinga kami dan menusuk kulit. Meskipun demikian, anggota tim terus maju.
Kemiringan track pendakian makin curam. Variasi akar pohon, bebatuan dan tumbuhan rotan penuh duri melekat di sepanjang jalur ini.
Perlu kekuatan kaki untuk mendorong, dan kekuatan tangan untuk menarik tubuh ke atas. Sulit sekali.
“Namanya panjat dinding kalau medannya begini,” celetuk seorang anggota tim.
Meski begitu, langkah kaki terus maju. “Kapan lagi merasakan pengalaman seperti ini,” batinku.
Hampir sejam perjalanan menuju pos lima, saya harus meneguk madu cair beberapa kali karena kondisi tubuh makin menurun.
Di pos inilah kami diberi kesempatan untuk tidur. Sejam waktu yang diberikan untuk istirahat dan memulihkan energi.
Udara di pos lima makin dingin. Tim mulai melapisi tubuh dengan jaket, kaus tangan, dan penutup kepala.
Guide memberikan waktu istirahat cukup panjang karena track menuju pos terakhir sebelum tiba di puncak gunung adalah medan tersulit yang harus dilewati.
“Inilah jalur paling ‘kurang ajar’. Banyak pendaki yang menyerah, tak sanggup melanjutkan perjalanan karena medannya sangat sulit,” tutur guide kami.
Api unggun dinyalakan karena udara sangat dingin di pos lima.
Semua istirahat selama sekitar sejam. Sementara kondisi tubuh anggota tim sudah sangat terkuras.
Akhirnya perjalanan dilanjutkan. Waktu di jam tangan saya menunjukan pukul 03.00 Wita. Kalau normal, perjalanan bisa ditempuh sekitar dua jam menuju pos enam.
Tetapi ternyata, perjalanan kami lebih lama lagi. Tiga jam dibutuhkan untuk menggapai pos enam. Itupun dengan langkah terseok-seok dan kondisi tubuh drop.
Jalur pendakian menuju pos enam memang diakui sangat sulit. Medannya miring tanpa jeda, Mungkin sekitar 70 derajat bahkan lebih.
Anggota tim terpaksa merayap sambil naik perlahan menggunakan kaki dan tangan.
Tangisan anggota tim wanita di depan saya kembali pecah. Semangat hampir padam, emosi campur aduk, cadangan air minum nyaris habis.
Kondisi badan sangat lelah dan kantuk tergambar jelas di wajah anggota tim.
Sementara di belakang kami, cahaya lampu kerlap-kerlip terlihat di kejauhan. “Wow! Indah sekali. Ayo, sedikit lagi,” teriakan pemberi semangat kembali melecut semangat tim.
Perlahan kami naik, dan banyak kali berhenti untuk sekedar menarik nafas. Air di botol minum saya benar-benar sudah sangat sekarat.
Mungkin inilah yang disebut anugerah. Ada kekuatan luar biasa yang menuntun semua anggota tim terus naik meski lutut dan kaki gemetar karena lelah.
Memulai perjalanan pukul 7 malam, kaki kami berhasil mencapai pos enam pada pukul 6 pagi. Astaga! 11 jam perjalanan pendakian melelahkan dan penuh air mata.
Sedikit kecewa karena kami tak bisa menikmati detik-detik matahari terbit. Tetapi dalam hati masih terbersit harapan bisa melihat langsung fenomena langka ‘Shadow Triangle’ atau bayangan Gunung Klabat saat matahari terbit.
Kami tak mau banyak waktu istirahat, langsung bergegas menuju puncak gunung.
Kicauan burung, vegetasi pepohonan pendek dan rerumputan seolah menjadi ucapan selamat pagi yang ramah bagi tubuh yang sudah terkuras habis kekuatannya.
Senyum lebar sambil menghirup dalam-dalam udara dingin pegunungan. Luar biasa menyegarkan.
Medan ke puncak tak lagi terlalu sulit, hanya butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba di atas.
Rerumputan basah di sisi kiri dan kanan track menemani perjalanan kami menuju puncak gunung. Udara dingin tak lagi kami hiraukan.
Beberapa anggota tim sudah ada yang tiba lebih dulu untuk mendirikan tenda dan menyiapkan makanan untuk anggota tim yang lain.
Tiba di puncak, suasana sudah terang. Yang membuat saya sangat gembira adalah puncak gunung begitu bersih, tak ada kabut sedikitpun.
“Oh Tuhan semoga ini kesempatan bagi kami bisa lihat fenomena langka ini,” batinku.
Sementara pemandangan luar biasa tersaji di depan mata.
Dari tempat ini tim bisa menikmati pemandangan indah Gunung Lokon di Tomohon, Gunung Soputan di Minahasa Tenggara, pemadangan Kabupaten Minahasa Utara, Kota Bitung, Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Selatan, bahkan wilayah kepulauan Sitaro.
Matahari sudah terbit dengan posisi di sayap sebelah kiri gunung.
Dengan posisi begini saya tak yakin bisa lihat Shadow Triangle. Tetapi perasaan itu berubah gembira ketika seorang anggota tim teriak, “kak, itu dia bayangannya, itu kan yang kak maksud?” Astaga! Benar, itu dia Shadow Triangle, terhampar begitu cantik di depan mata.
Berbentuk segitiga dengan pancaran cahaya cantik di bagian puncaknya.
“Oh Tuhan, ini dia yang kami nantikan. Terima kasih untuk anugerahmu ini. Kelelahan kami berbuah manis,” sebaris doa syukur meluap dari dalam hati.
Kami tak mau melewatkan kesempatan ini. Foto selfie berlatar Shadow Triangle dilakukan secara bergantian.
Inilah fenomena langka yang tak bisa semua pendaki Gunung Klabat bisa nikmati.
Mengapa, karena tipikal puncak Gunung Klabat selalu tertutup kabut.
Dan kali ini kami sangat beruntung, diizinkan melihat dengan mata kepala sendiri fenomena ini langsung dari atas puncak tertinggi Sulawesi Utara.
Puas berfoto, tim turun ke pos enam untuk camping, makan pagi dan beristirahat.
Hanya berselang sejam saja lokasi ini terang, karena setelah itu kabut kembali turun menyelimuti puncak gunung.
Mandi kabut jadinya, tetapi sungguh ini pemandangan yang sangat menghibur hati, menenangkan dan memulihkan kekuatan kami.
Pos enam adalah lokasi camping para pendaki Gunung Klabat.
Di lokasi ini ada sumber air yang bisa langsung diminum. Airnya sangat dingin tapi menyegarkan. Maklum, sumber air yang berasal dari Gunung Klabat menjadi bahan baku yang digunakan perusahaan air dalam kemasan paling terkenal di Indonesia untuk dijual secara masal.
Memilih tidur beratap langit, dan bukan dalam tenda membuat tubuh menggigil, tapi hati gembira.
Sarapan kami sederhana saja, yah, ala anak gunung lah. Mie instan, ikan kaleng, ditemani kopi dan susu. Sungguh inilah momen sarapan terbaik karena berada di antara mereka yang saya sebut SAHABAT.
Karena sering digunakan pendaki untuk camping, pos enam ini cukup kotor. Banyak sampah bekas kemasan makanan dibiarkan di tempat ini. Sayang sekali jika tempat secantik ini banyak sampah.
Semoga kondisi ini menjadi perhatian serius semua pihak terutama para pendaki Gunung Klabat.
Hanya tiga jam kami berada di pos ini kemudian siap-siap turun gunung lagi. Tim memang tak berencana menginap lebih lama. Jadi dengan kondisi masih lemas kami turun.
Sisa bahan makanan tak terpakai kami putuskan tinggalkan di lokasi dengan cara mengaitkannya ke ranting pohon.
Semoga bisa membantu pendaki lain yang butuh tambahan bahan makanan. Yah sambil berharap, sisa kemasannya tak dibiarkan jadi sampah lagi di tempat ini.
Perjalanan turun sama sulitnya karena medan menurun cukup ekstrim, sehingga sangat menguras energi.
Bertemu dengan sejumlah pendaki yang akan naik kami cukup terkejut dengan pernyataan mereka.
“Kalian ini memang tim dengan kekuatan zebra. Naik gunung dan kemudian langsung turun.”
Pernyataan ini bukan tanpa alasan, karena banyak pendaki bahkan harus bermalam di sejumlah pos baru menuju puncak, sedangkan kami tidak demikian. Ini memang tim yang luar biasa!
Perjalanan turun gunung dimulai sekitar pukul 11.00 Wita, dan dibutuhkan waktu 7 jam untuk bisa sampai di bawah lagi. Sungguh sebuah petualangan yang melelahkan sekaligus menyenangkan.
Benar apa yang guide kami katakan. Ini bukan soal mengejar matahari, ini bukan soal seberapa cepat tiba di puncak.
Tetapi perjalanan ini menjadi begitu bernilai karena di dalamnya ada perjuangan, ada kegigihan, ada semangat pantang menyerah, ada persahabatan, ada kepedulian, ada saling menguatkan dan pembelajaran untuk menjadi manusia seutuhnya.
Manusia yang menghargai alam ciptaan Tuhan, manusia yang peduli dengan sesama, manusia yang tidak mementingkan diri sendiri. Dan bagi saya, perjalanan ini memberi semua pelajaran berharga ini. Karena dari tempat tertinggi inilah kami mengerti apa arti menjadi seorang Manusia Sejati.
Gunung Klabat terletak di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Bisa ditempuh melalui perjalanan darat sekitar satu jam dari Kota Manado.
Kantor Polsek Airmadidi Minahasa Utara menjadi titik awal pendakian. Di sini pendaki akan melapor sekaligus menitip kendaraan.
Dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, anda bisa menggunakan taksi untuk menuju ke lokasi, bisa juga menggunakan kendaraan angkutan kota rute Lapangan-Paal 2 Manado, dengan tarif Rp 5.000.
Dari terminal Paal 2 Manado, lanjut ganti angkot rute Paal 2-Airmadidi, anda bisa minta diturunkan di Kantor Polsek Airmadidi. Tarif angkot sebesar Rp. 5.000.
Gunung Klabat adalah gunung tertinggi di Sulawesi Utara dan menjadi tujuan favorit pendaki baik lokal hingga mancanegara. (Tribun Manado/Fransiska Noel)