Tribun Travel
Air Mata 11 Jam Terhapus Cantiknya ‘Shadow Triangle’ di Puncak Tertinggi Sulawesi Utara
Siapapun di antara kami tak pernah memiliki ekspektasi setinggi ini. Menjejakkan kaki di puncak tertinggi Sulawesi Utara.
Penulis: Fransiska_Noel | Editor: Fransiska_Noel
Suhu udara malam makin dingin, energi anggota tim mulai terkuras.
Perjalanan dilakukan selambat mungkin, mengikuti ritme anggota tim.
Normalnya, perjalanan menuju puncak bisa dicapai dalam waktu enam sampai delapan jam, tetapi bagi tim hebat ini perjalanan kali ini membutuhkan waktu lebih lama lagi, karena butuh waktu istirahat lebih banyak.
Tak butuh waktu lama menggapai pos empat. Kami istirahat sejenak. Air minum yang dibawa tim digunakan sehemat mungkin. Maklum, dari pos satu hingga lima tak ada sumber air yang bisa digunakan untuk minum.
Kemarau panjang dan kebakaran hebat yang menghanguskan hutan di gunung ini tahun 2015 silam telah mengeringkan sejumlah mata air penting yang biasa digunakan pendaki untuk minum.
Saking iritnya, saat berhenti di titik kemiringan jalur pendakian, tim hanya minum beberapa teguk air saja, Benar-benar sebuah petualangan yang sulit dan membutuhkan semangat ekstra.
Kondisi tubuh sejumlah anggota tim wanita sudah mulai drop.
Saat memasuki perjalanan menuju pos empat, beberapa dari mereka mulai menangis.
Kelelahan, medan yang sulit dan dinginnya malam mulai mengaduk-aduk emosi.
Saya yang berada tepat di belakang seorang dari mereka bisa melihat dengan jelas pergumulan ini.
Mau lanjut, medan makin sulit. Mau balik, perjalanan sudah sejauh ini.
Alhasil, meski dengan isak tangis yang terus terdengar, teman di depan saya terus melanjutkan perjalanan.
Sungguh sebuah pemandangan yang cukup mengiris hati.
Kami berusaha sedapat mungkin saling menguatkan selama perjalanan.
Perjalanan ini bukan cuma bertujuan menggapai puncak, tetapi di dalamnya saya bisa melihat dengan jelas bagaimana kesulitannya ampuh mengajar arti sebuah persahabatan, perjuangan, dan menjadi kesempatan belajar bagaimana membunuh keegoisan diri.