Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Renungan Minggu: Ujian Iman

Dalam mengarungi hidup ini tentu kita sebagai manusia tidak boleh luput dari berbagai hal yang ditemui dan tantangan yang silih berganti.

Penulis: | Editor: Fransiska_Noel
NET
Ilustrasi 

Pdt Fenny Mangolo Runtuwene STh

Ketua Jemaat GMIM Betani Sindulang

TRIBUNMANADO.CO.ID - Dalam mengarungi hidup ini tentu kita sebagai manusia tidak boleh luput dari berbagai hal yang ditemui dan tantangan yang silih berganti, namun demikian hal itu tidak membuat kita putus asa dan tenggelam dalam rasa kecewa yang dalam.

Dalam suatu peristiwa kecelakaan seorang anak, kakinya patah namun hal yang masih bisa disyukuri kecelakaan tersebut tidak menimbulkan cedera pada bagian kepala yang bisa berakibat fatal.

Dalam menjalankan usaha ada yang bangkrut, harta benda habis semua, namun hal yang masih bisa disyukuri adalah ketika yang menimpa pergumulan tersebut tidak gila.

Falsafah untuk itu sering kita dengar dan sering kita gunakan sebagai tanggapan atas pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan.

Maksudnya baik, supaya orang mengalami kesusahan tersebut dapat melihat sisi lain yang baik dari musibah yang dialaminya, sehingga ia tidak tenggelam dalam kesusahannya.

Tetapi terkadang komentar-komentar semacam itu terasa mengada-ngada sehingga mengungdang ungkapan 'enak saja mengatakan untung, coba kalau alami sendiri'.

Saudara-saudara kita juga orang-orang Kristen sebenarnya juga punya kebiasaan yang serupa dengan falsafah untung itu.

Namun kita kembali diingatkan untuk dapat mengucap syukur dalam segala keadaan. Awali ucapan syukur dengan doa. Jika kita menyadari akan hal ini, maka kita tidak akan tenggelam dalam kesusahan-kesusahan kita.

Dalam perikop ini kita membaca perkataan seorang nabi yang isinya bukan mengucap syukur melainkan ungkapan kekecewaan.

Kalimat yang berkata 'Sungguh Engkau sejati sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai'.

Kata-kata itu menurut kita tidak layak diucapkan. Rupanya Yeremia mempunyai pengalaman yang menyakitkan.

Ia telah bersedia diutus Tuhan melaksanakan tugas panggilannya dengan berharap Tuhan selalu menyertainya, namun ternyata dia mengalami kegagalan-kegagalan terhadap dalam tugas yang dijalankan.

Orang tidak percaya kepada perkataan-perkataannya, ia diserang oleh bangsanya. Yeremia merasa sepertinya Tuhan telah meninggalkan dia. Barang kali pengalaman serupa ini pun sering kita alami.

Ada orang mengeluh dan berkata apakah Tuhan sedang menghukumnya, membiarkan pengalaman pahit ini terjadi. Ada juga yang bertanya, mengapa doa-doa saya tidak dijawab.

Walaupun kita masih tetap mengucap syukur dan tidak berani berkata sekasar Yeremia, namun sebenarnha didalam hati kita ada perasaan kecewa kepada Tuhan.

Saudara-saudara, memang tidak seharusnya kita kecewa terhadap Tuhan, sebab siapak kita sehingga merasa berhak menilai Yang Maha Kuasa?

Hamba Tuhan Ayub, ketika ia menganggap Allah tidak adil, Allah menunjukkan betapa terbatasnya pikiran Ayub dan betapa besar pekerjaan-pekerjaan Allah, sehingga Ayub tidak berhak menilai Allah.

Bagaimana dengan sikap Yeremia seperti yang disampaikan dalam cerita ini. Sesungguhnya melalui cerita kekecewan Yeremia ini menggambarkan adanya hubungan yang dekat dan terbuka antara sang nabi dengan Allah sendiri.

Karena hubungan yang begitu akrab itulah, Yeremia tidak segan-segan dan tidak takut untuk menampakkan semua perasaan dan apa yang dialaminya.

Dalam pengalaman kehidupan seseorang, ada yang berusaha menekan perasaan keceaa terhadao Tuhan dengan mengeluarkan perkataan-perkataan yang kedengarannya salah, namun sebenarnya tidak jujur.

Allah memang Tuhan Yang Mahatinggi Mahamulia, tapi Ia berkenan menjadi Bapa dan sekaligus sahabat kita, karena itu kita boleh bersikap terbuka kepada-Nya, mengungkapkan segala isi hati kita, yang manis maupun yang pahit.

Keyakinan dasar iman Kristen yaitu di dalam Yesus Kristus Allah mendatangi dunia. Manusia merasa amat dekat dengan Yesus sebagai Sang Juru Selamat dan sobat yang sejati.

Karena kedekatan kita dengan Allah maka pujian syukur kita membawa berbagai perasaan yang berkecamuk, termasuk mungkin rasa khawatir, takut, cemas yang dialami.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam perenungan di minggu-munggu sengsara ini kita semakin termotivasi betapa Yesus amat mencintai kita.

Ia telah mengalami penderitaan agar kita yang berdosa diselamatkan, karena itu hendaknya kita terus memelihara hubungan yang jujur dan terbuka dengan Dia, semakin mengenal Dia dan kehendak-Nya merespon pengorbanan-Nya bagi kita. Amin. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved